Ayoo .. Main ke Taman Lapangan Banteng — Makin Keren Habis

Terakhir saya datang kesini memang sedang akan direnovasi… katanya2 sedang akan … hmm gimana maksudnya ya …
Saya dengar kabar selentingan renovasi sudah selesai dan sekarang jadi kece. Ngga kerasa waktu setahunan berlalu, jadi pengen lihat.

suasana mendekat bundaran HI … full lautan manusia

Berangkatlah hari minggu kesana melalui Semanggi dan mengarah ke bundaran Hotel Indonesia (HI).
Area CFD sangat ramai benerrr… apakah karena masih euforia Asian Games, atau apa. Bahkan ada beberapa area senam bersama, dari perusahaan riter furnitur, finansial … ngga tahu perusahaan apalagi … pokoknya peserta senamnya ramai ramai.
Mendekat bundaran HI … bener2 crowded, sepeda susah lewat … bahkan akhirnya sepeda saya tuntun.

Selepas HI walaupun masih ramai tapi sepeda bisa digowes. Melewati Monas yang sangat ramai, sepertinya ada acara funbike dan acara lainnya. Terus melalui Gambir dan sampailah di Taman Lapangan Banteng.

Wowww… bener2 beda banget… jadi pangling.. kece beneran.

Taman Lapangan Banteng memang sudah ada sejak zaman Belanda bahkan di klaim sebagai taman tertua di Indonesia. Pada saat era Soekarno, beliau ingin memiliki karya seni monumental yang dapat diikmati publik seperti di negara negara Eropa. Maka di desainlah lapangan Banteng oleh arsitek Friedrich Silaban sebagai monumen pendamping Tugu Monumen Nasional (tugu Monas), dan dibuatkan patung setinggi 9 meter yang melambangkan terputusnya kekuasaan Belanda atas wilayah Irian Barat. Sketsa patung di desain oleh seniman Henk Ngantung, sedangkan patungnya dibuat oleh Edhi Soenarso yang juga membuat patung Selamat Datang di bundaran HI dan patung Dirgantara atau lebih dikenal tugu Pancoran. Sehingga Monumen Pembebebasan Irian Barat dapat berdiri tegak pada 17 Agustus 1963 di Lapangan Banteng, sebagai salah satu patung ikonik yang ada di Indonesia. Patung ini sekaligus mengingatkan kita pada sejarah Trikora (Tri Komando Rakyat) nama operasi yang dikumandangkan Presiden Soekarno untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.Setelah dilakukan revitalisasi taman sejak tahun 2017, Patung atau monumen Pembebebasan Irian Barat tetap pada tempatnya… #YaEyalah … tapi area sekitarnya dipercantik. Baca lebih lanjut

Mau Piknik ke sini aja — Taman Bunga Wiladatika

Salah satu taman asri di Jakarta yang sudah cukup lama tapi agak sedikit terlupakan adalah Taman Bunga Wiladatika. Bagi warga Jakarta sendiri mungkin banyak yang belum pernah kesana. Bagi saya ini akan menjadi kali kedua ke taman ini, kali ini saya ingin menjelajahi taman ini. Jika googling Taman Bunga Wiladatika maka sering muncul foto taman yang keren dengan background pegunungan, jadi saya sekalian ingin memastikan ada tidak spot itu.

Gowes kesana di Sabtu pagi melalui Pondok Gede dan berbelok belok bahkan sampai masuk gang kecil dan muncul2 di Munjul … Munjul ya bukan muncul, diteruskan sedikit lagi sampailah di daerah Cibubur.

Daerah Cibubur di sebelah sini hampir tidak ada perubahan significant setelah bertahun tahun .. tidak pangling sama sekali.

Tak lama kemudian berada di dekat mall Cibubur Junction, nyebrang jalan dan sampailah di gerbang Taman Wiladatika.

Jam 8-an… masih sepi, cukup bayar tiket masuk Rp. 8.000,- dan mulailah saya akan berjalan jalan .. eh gowes memutari taman ini, kalau jalan kaki memutari taman bikin gempor juga pastinya.

Taman Wiladatika memiliki luas +- 15 ha untuk keseluruhan lahan, tapi yang digunakan untuk area taman bunga sekitar 3 sd 5 ha, karena selebihnya dimanfaatkan oleh area lain. Dahulunya taman ini adalah bagian dari area Taman Pramuka Jambore Cibubur tapi terputus karena pembangunan jalan tol Jagorawi berarti taman ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Baca lebih lanjut

Berjalan jalan ke Pantai Cilincing kampung Nelayan Jakarta

Penasaran … pengen tahu … atau kepo
Mungkin tiga tiganya … bagaimana sih pantai Cilincing itu.. hanya dengar dengar sebagai pantai nelayan atau kampung nelayan.

Menuntaskan kepenasaran akhirnya saya berangkat kesana.
Kalau kata kids zaman now.. trip-nya ga fancy .. Sepanjang perjalanan melewati daerah kumuh, menyusuri jalan Cakung Drainase. Melewati perkampungan padat, yang umumnya berwirausaha di bidang barang bekas .. dari besi bekas, plastik bahkan ada sol sepatu bekas.
Jalanannya dari cor beton yang banyak polisi tidurnya.. sampai jalanan tanah berbatu batu.

area barang bekas di jalanan Cakung Drainase

Terus saja berjalan menyusuri sungai berwarna hitam ini, tidak tahu berapa underpass dilewati, kemudian suasana berubah.. di tepi sungai adalah perahu perahu nelayan berderet deret parkir … artinya ujung laut sudah dekat. Baca lebih lanjut

Ternyata di Jakarta ada Benteng Belanda – Benteng 9

Dapatkah anda melihat bentengnya ???

Di Jakarta ada Benteng Belanda ??? …. masak sih… yang bener??? Selama membaca sejarah kolonial Belanda di Batavia belum pernah mendengar benteng ini. Benar benar bikin penasaran .. hanya disebutkan Benteng 9 di Rawaterate Cakung, dimana pastinya .. ngga jelas.

Berbekal alamat tersebut tanpa bawa bekal roti atau nasi saya berangkat. Melewati Buaran dan terus sampai mentok di jalan Raya Bekasi. Nah ini sudah daerah Rawaterate Cakung .. dimana posisinya ??? Tanya ke orang disana tidak tahu… tidak putus asa jalan terus ikuti insting dan tanya lagi ke seorang bapak yang sedang gendong anak … pertama dia bingung tapi feeling saya kayaknya dia mengerti, setelah saya kasih deskripsinya secara gamblang … ” ohhh.. ada di balik pabrik ini, harus berputar kesana” Nahhh.. asyikk saya ada di jalan yang benar, mudah2-an juga jalan yang di ridhoi …

Saya mencari jalan untuk memutari pabrik tersebut, masuk jalan yang padat perumahan penduduk .. tanya lagi .. “Benteng 9 … Gedong 9, ya terus ke sana pak ” ohh.. warga disini mengenalnya dengan nama ini tho..

Di daerah padat begini.. bagaimana bentuk bangunannya … ternyata jalan ini sampai ke satu area lapang yang luas banget .. dan sebagian ditumbuhi semak belukar, benar2 ga nyangka di areal padat begini masih ada tanah yang lapang dan luas begini. Tapi di tanah lapang begini jadi bingung kemana arahnya … tanya lagi ke orang tua yang sedang berjalan disana, beliau menunjukkan arahnya.

dibelakang semak semak itulah benteng berada

Bergeraklah saya menuju kesana dan saya jadi ragu masuk … ini adalah area para pemulung… Ada suami istri yang sedang dorong gerobak dan saya bertanya apakah boleh saya masuk dan dimana benteng 9 itu… “silahkan saja masuk… ada di sebelah sana” Baca lebih lanjut