Mencari Inspirasi di Asian Para Games 2018

Kalau tidak dipaksain.. kapan lagi … momennya akan lewat sudah … bagai cinta yang sudah lewat

Akhirnya kesampaian juga… di injury time.. di akhir akhir momen Asian Para Games … dalam jadwal saya yang senggang … ingat ya senggang bukan padat … di hari jumat saya hadir.

Jam 9-an sudah sampai di komplek velodrome Rawamangun … wah bener2 manglingi… beda banget dengan kondisi yang lama. Sekarang terlihat modern … bersih… dan kerennn.

Jumat pagi ini kondisi diluar tidak ramai.. mungkin karena hari kerja ya .. terlihat rombongan2 anak sekolah berdatangan berkelompok kelompok dari berbagai sekolah. Ada yang sibuk berkumpul dan ada pula yang berebutan foto bareng Momo … si Elang maskot Asian Para Games. Baca lebih lanjut

Iklan

Ayoo .. Main ke Taman Lapangan Banteng — Makin Keren Habis

Terakhir saya datang kesini memang sedang akan direnovasi… katanya2 sedang akan … hmm gimana maksudnya ya …
Saya dengar kabar selentingan renovasi sudah selesai dan sekarang jadi kece. Ngga kerasa waktu setahunan berlalu, jadi pengen lihat.

suasana mendekat bundaran HI … full lautan manusia

Berangkatlah hari minggu kesana melalui Semanggi dan mengarah ke bundaran Hotel Indonesia (HI).
Area CFD sangat ramai benerrr… apakah karena masih euforia Asian Games, atau apa. Bahkan ada beberapa area senam bersama, dari perusahaan riter furnitur, finansial … ngga tahu perusahaan apalagi … pokoknya peserta senamnya ramai ramai.
Mendekat bundaran HI … bener2 crowded, sepeda susah lewat … bahkan akhirnya sepeda saya tuntun.

Selepas HI walaupun masih ramai tapi sepeda bisa digowes. Melewati Monas yang sangat ramai, sepertinya ada acara funbike dan acara lainnya. Terus melalui Gambir dan sampailah di Taman Lapangan Banteng.

Wowww… bener2 beda banget… jadi pangling.. kece beneran.

Taman Lapangan Banteng memang sudah ada sejak zaman Belanda bahkan di klaim sebagai taman tertua di Indonesia. Pada saat era Soekarno, beliau ingin memiliki karya seni monumental yang dapat diikmati publik seperti di negara negara Eropa. Maka di desainlah lapangan Banteng oleh arsitek Friedrich Silaban sebagai monumen pendamping Tugu Monumen Nasional (tugu Monas), dan dibuatkan patung setinggi 9 meter yang melambangkan terputusnya kekuasaan Belanda atas wilayah Irian Barat. Sketsa patung di desain oleh seniman Henk Ngantung, sedangkan patungnya dibuat oleh Edhi Soenarso yang juga membuat patung Selamat Datang di bundaran HI dan patung Dirgantara atau lebih dikenal tugu Pancoran. Sehingga Monumen Pembebebasan Irian Barat dapat berdiri tegak pada 17 Agustus 1963 di Lapangan Banteng, sebagai salah satu patung ikonik yang ada di Indonesia. Patung ini sekaligus mengingatkan kita pada sejarah Trikora (Tri Komando Rakyat) nama operasi yang dikumandangkan Presiden Soekarno untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.Setelah dilakukan revitalisasi taman sejak tahun 2017, Patung atau monumen Pembebebasan Irian Barat tetap pada tempatnya… #YaEyalah … tapi area sekitarnya dipercantik. Baca lebih lanjut

Sungai di Kota Tua Jakarta Semakin Keren – Kali Besar Kota Tua

Beberapa kali kesini tapi masih ditutup dan dipagari seng seng… penasaran alias pengen banget melihat Taman Sungai Kali Besar di kota tua.

Kabarnya akan dibuka menjelang Agustusan … saatnya tiba.. libur 17 Agustus saya berangkat kesana meskipun agak siangan tapi tetap semangat tinggi bergelora … serasa gowes dengan semangat 45.

Melewati Banjir Kanal Timur, Kampung Melayu, Salemba, Kramat, Gunung Sahari dan … tibalah di Kota Tua Jakarta .. jam 8 pagi … belum terlalu ramai.

Nah ini dia Kali Besar Kota Tua… sekarang sudah dibuka tidak dipagari lagi oleh seng2. Waw kerennn …. pedestrian kanan kiri sudah ditata rapi dan lebar.. dan di sungainya ada trotoar mengapung untuk jalan jalan, meskipun saat saya ini jalan masuk masih dikunci mungkin belum waktunya … belum diresmikan.

Disungainya ada banyak ikan ikan.. airnya terlihat bersih dan tidak bau… karena air sungainya telah di filterisasi di daerah Asemka … saya kira seperti jenis sungai di Epicentrum Kuningan .. sejenis “sungai palsu”. Baca lebih lanjut

Berjalan jalan ke Pantai Cilincing kampung Nelayan Jakarta

Penasaran … pengen tahu … atau kepo
Mungkin tiga tiganya … bagaimana sih pantai Cilincing itu.. hanya dengar dengar sebagai pantai nelayan atau kampung nelayan.

Menuntaskan kepenasaran akhirnya saya berangkat kesana.
Kalau kata kids zaman now.. trip-nya ga fancy .. Sepanjang perjalanan melewati daerah kumuh, menyusuri jalan Cakung Drainase. Melewati perkampungan padat, yang umumnya berwirausaha di bidang barang bekas .. dari besi bekas, plastik bahkan ada sol sepatu bekas.
Jalanannya dari cor beton yang banyak polisi tidurnya.. sampai jalanan tanah berbatu batu.

area barang bekas di jalanan Cakung Drainase

Terus saja berjalan menyusuri sungai berwarna hitam ini, tidak tahu berapa underpass dilewati, kemudian suasana berubah.. di tepi sungai adalah perahu perahu nelayan berderet deret parkir … artinya ujung laut sudah dekat. Baca lebih lanjut

1/4 Hari Keliling Indonesia : Taman Mini Indonesia Indah

Sudah lama banget tidak main ke Taman Mini, biasanya main ke Taman Mini ketika masih kecil.. barengan sama teman2 sekolah atau sama orang tua dan ketika sudah punya anak kecil bawa anaknya kesini .. hmmm .. yang pacaran kayaknya main kesini juga.. haha

Terakhir kesini.. saat menghadiri pernikahan yang diadakan dianjungan Jawa Barat itu juga beberapa tahun lalu ..

Bagaimana kabarnya sekarang….
saatnya kluyuran kesana.

Jam 8 kurang sudah di gerbang utama, sepeda tidak dikenakan tarif cukup bayar orangnya saja 15 ribu dan melenggang masuk.

Mengambil rute mengitari TMII, melewati kolam renang Snow Bay, dan melewati beberapa anjungan rumah rumah adat daerah yang mewakili provinsi, untuk daerah pemekaran provinsi baru (Banten, Maluku Utara, dll) rumah adatnya di kumpulkan disatu area dan otomatis luasnya tidak seluas area provinsi lama.

Sekarang di Indonesia ada berapa provinsi hayooo… ?

Oh iya .. secara garis besar area di TMII ini di bagi 4 kategori ; Anjungan daerah, Museum, Wahana Permainan dan Taman2. Untuk masuk ke area2 tersebut ada yang gratisan dan ada yang berbayar … Anjungan2 daerah setahu saya sih gratis … saya keluar masuk anjungan tidak ada yang berbayar … Taman taman … ada yang gratis ada yang bayar .. museum dan wahana permainan sepertinya berbayar semua, harganya tiketnya beragam. Kalau lagi seret … masuk aja ke tempat2 yang gratisan, banyak banget … sudah pasti bakalan ga habis2 .. cape ngelilinginya …. ehh mau cari cape atau wisata sih … yang penting tinggal pilih pilih aja sesuaikan dengan kondisi 🙂  Baca lebih lanjut

Mau Piknik di Jakarta, main aja ke Taman Piknik

Zaman now yang kabarnya orang lebih banyak spend uang untuk leisure .. traveling .. wisata … jalan jalan … tapi ternyata masih banyak juga yang kurang piknik. Tidak kesampaian hasrat piknik sampai curhat di medsos.

Mungkin untuk mengakomodir kegalauan tersebut pemkot Jakarta membuat Taman Piknik. Warga tidak perlu pergi jauh jauh sampai ke luar kota cukup pergi ke taman saja… taman Piknik.

Posisi taman ini ada di lembah … bayangkan di Jakarta masih ada lembah…. Makanya taman ini tersembunyi, apalagi lokasinya mojok di area perumahan … jadi semacam hidden park.

Sebetulnya taman ini terlihat dari Kalimalang di daerah Pondok Kelapa… asalkan jalan perlahan dan melalui jalan tanah di bawah tol Becakayu.

 

view lembah dari arah Kalimalang

Baca lebih lanjut

Menjelajah Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong

Beberapa kali ke setu Babakan, tapi hanya mampir sekilasan aja ketika pergi menuju tempat lain.

Setu Babakan dijadikan sebagai kampung budaya Betawi, segala hal yang berhubungan dengan budaya Betawi ada di sini, area ini sudah dihuni secara turun temurun oleh keturunan Betawi … tapi ada apa sih di seputar setu ini …. want to know, mumpung ada waktu 1/2 hari di hari minggu, saya jalan2 kesini aja.

Jam 7 lebih baru jalan .. melewati Kalimalang, Condet … melewati secuil kebun salak tersisa.. dahulukan condet terkenal karena salak condet-nya .. lanjut ke Pasar Minggu dan terus aja lurus mengarah Depok, lalu belok kanan dan berbelok belok sampailah … tadaaa.. di setu Babakan … #GampangYaRutenya.

Tidak ada tiket masuk untuk ke setu, motor mobil harus bayar parkir, kalau sepeda sih melenggang aja. Baca lebih lanjut

Ternyata di Jakarta ada Benteng Belanda – Benteng 9

Dapatkah anda melihat bentengnya ???

Di Jakarta ada Benteng Belanda ??? …. masak sih… yang bener??? Selama membaca sejarah kolonial Belanda di Batavia belum pernah mendengar benteng ini. Benar benar bikin penasaran .. hanya disebutkan Benteng 9 di Rawaterate Cakung, dimana pastinya .. ngga jelas.

Berbekal alamat tersebut tanpa bawa bekal roti atau nasi saya berangkat. Melewati Buaran dan terus sampai mentok di jalan Raya Bekasi. Nah ini sudah daerah Rawaterate Cakung .. dimana posisinya ??? Tanya ke orang disana tidak tahu… tidak putus asa jalan terus ikuti insting dan tanya lagi ke seorang bapak yang sedang gendong anak … pertama dia bingung tapi feeling saya kayaknya dia mengerti, setelah saya kasih deskripsinya secara gamblang … ” ohhh.. ada di balik pabrik ini, harus berputar kesana” Nahhh.. asyikk saya ada di jalan yang benar, mudah2-an juga jalan yang di ridhoi …

Saya mencari jalan untuk memutari pabrik tersebut, masuk jalan yang padat perumahan penduduk .. tanya lagi .. “Benteng 9 … Gedong 9, ya terus ke sana pak ” ohh.. warga disini mengenalnya dengan nama ini tho..

Di daerah padat begini.. bagaimana bentuk bangunannya … ternyata jalan ini sampai ke satu area lapang yang luas banget .. dan sebagian ditumbuhi semak belukar, benar2 ga nyangka di areal padat begini masih ada tanah yang lapang dan luas begini. Tapi di tanah lapang begini jadi bingung kemana arahnya … tanya lagi ke orang tua yang sedang berjalan disana, beliau menunjukkan arahnya.

dibelakang semak semak itulah benteng berada

Bergeraklah saya menuju kesana dan saya jadi ragu masuk … ini adalah area para pemulung… Ada suami istri yang sedang dorong gerobak dan saya bertanya apakah boleh saya masuk dan dimana benteng 9 itu… “silahkan saja masuk… ada di sebelah sana” Baca lebih lanjut

Sisi Lain Sejarah Marunda – Kapitan Jonker & Groot Mayoor THW Dotulong

Tahukah siapa penguasa Marunda ??

Bukan si Pitung tapi orang dari daerah Ambon yang bernama Kapitan Jonker

Siapakah Kapitan Jonker ??

Baca baca sejarah kapitan Jonker ini ternyata sangat menarik dan kontroversi.
Situsnya yang ada di Marunda membuat saya penasaran untuk mengunjunginya. Tapi posisi tepatnya setelah googling sana sini tetap tidak diketahui secara pasti, pokoknya ada di Marunda. Marunda kan gede … ya sudahlah .. pokoknya saya akan cari. Patokannya hanya berdasarkan insting dan feeling saya yang pernah beberapa kali kluyuran di daerah Marunda dan tidak pernah melihat situs Kapitan Jonker .. artinya saya tinggal kluyuran di daerah Marunda yang belum pernah saya kunjungi … gampang khan .. hehehe …#GampangDariHongkong.

menyebrang rel KA yang melintasi BKT

Menuju kesana saya menyusuri BKT dipagi hari yang cukup lengang dan sesampainya di daerah perumahan Metland Menteng saya berbelok masuk kedalam komplek perumahan dan hanya sebentar untuk kemudian keluar kembali ke jalan raya, sebentar juga dan masuk ke komplek baru yang sekarang cukup terkenal karena AEON baru di buka di perumahan ini .. Perumahan Jakarta Garden City. Masuk ke dalam dan melewati gedung mall AEON .. wah gede mall ini ternyata. Keluar lagi dan sekarang berada di jalan sisi lingkar luar tol timur dan terus masuk daerah Rorotan melewati jalan Cakung Drainase. Disisi sebelah kiri adalah sungai yang hitam pekat dan kanan adalah gudang atau pabrik pabrik besar.

area Rorotan Cilincing yang sepi

Karena hari Minggu jalalan beton mulus dan lebar ini sepi .. bener benar sepi .. mobil atau truk tidak ada yang lewat. Saya mulai curiga bahwa akses jalan di depan nanti belum di perbaiki jadi tidak ada mobil yang menggunakannya sebagai jalan tembus. 3 tahun lalu saya pernah lewat sini untuk tembus kearah Marunda dan Tanjung Priok .. dan saya menyesal .. dari jalanan beton mulus lebar berubah menjadi jalan tanah dan kecil, melewati perkampungan kumuh dan .. melewati suatu “TPA” pembuangan sampah raksasa … permasalahannya jalanan di area “TPA” ini jalanan berlumpur tebal … lumpur sampah … hiyyyy. Kalau lumpur di hutan atau pedesaaan sih biasa .. tapi lumpur sampah … hiyyyy.
Tapi kenapa saya lewat sini lagi atuh … karena selain ini jarak terdekat ke daerah Marunda yang saya tuju .. juga saya meyakini bahwa selama 3 tahun ini ada perubahan … hmmm .. ayo kita buktikan.

Dari jalan beton cor mulus lebar menjadi jalan tanah kecil, melewati perkampungan kumuh dan ketika mendekati “TPA” … jalannya sudah dikasih pengerasan brangkal meskipun ada spot sedikit yang berlumpur … tapi masih bisa melipir angkat sepeda .. tidak harus nyemplung di lumpur sampah … Alhamdulillah.
Gowesan tidak bisa cepat di jalanan tanah berbatu batu kecil .. Sudah pulangnya nanti mending susur BKT, meskipun mesti memutar tapi pasti lebih cepat sampainya.

melewati area pembuangan sampah di Rorotan

Baca lebih lanjut

Taman Lapangan Banteng Makin Kekinian

Meskipun sudah ada sejak zaman Belanda tapi pamor Taman Lapangan Banteng kalah oleh taman taman muda yang baru yang lebih segar dan lebih cantik.

Supaya tidak ditinggalkan Lapangan Banteng berusaha mempersolek diri kalau perlu bahkan semenor mungkin sehingga tetap dilirik.

Bagaimana kondisinya… saya akan mengunjungi “si tua” ini, sekalian menjajal Simpang Susun Semanggi, belum pernah … maklum orang pinggiran. Kabarnya Simpang Susun ini di buat dengan teknologi tercanggih saat ini … sesuatu yang hebat tapi kabarnya bisa bikin nyasar juga, kepo dong … saya akan sekalian melintasi.

Jam 7 kurang saya sudah menanjak di Simpang Susun ini, ada orang orang maupun pesepeda yang bermain kesini meskipun tidak banyak. Titik spot yang teramai untuk selfie adalah pas di atas jalan tol dalam kota, banyak yang berhenti disini untuk selfie.

spot selfie favorit tepat di bawahnya melintas tol dalam kota

Baca lebih lanjut