Melalui Dua Bukit menuju Dayeuh Jonggol

— di perjalanan menuju Dayeuh

Gunung Klapanunggal selalu menarik untuk dijelajahi.
Masih banyak area yang hijau lebat dan mengundang kepenasaran ada apa disana.

Kali ini berencana untuk menjelajahi lereng di daerah desa Sukajaya …. berdasarkan peta googlemaps, area di sana masih di dominasi area hijau …. tapi sudah terlihat ada satu lahan besar yang dibuka … lahan baru, sepertinya dijadikan area pertanian berskala besar dan modern. Posisinya ada di tengah tengah area hijau …

Kita set rute untuk melewati area lahan tersebut … sekalian menjelajahi area hijaunya sekaligus melihat kebon … kebon milik orang.

Beberapa hari ini tidak turun hujan … saat yang tepat untuk pergi kesana … karena kalau musim huja, jalur tanahnya akan becek berlumpur pasti semakin sulit untuk dilalui. Apalagi rute yang dibuat harus melalui sungai … kemungkinan disana tidak ada jembatan … kalau musim hujan airnya berlimpah … kemungkinan sulit untuk disebrangi.

Rute yang dibuat melewati destinasi wisata Wonderful Jonggol dan terus naik melalui satu bukit dahulu kemudian turun sampai dasar lembah, menyebrangi sungai dan naik kembali ke bukit kedua yang lebih tinggi dari bukit pertama lalu turun terus kebawah sampai muncul di jalan raya Dayeuh Sukamakmur.

Perjalanan akan melewati kebon kebon, semak semak dan kemungkinan area hutan …. itulah prediksinya …. Ok, dihari minggu sepeda bergerak mengarah ke Bekasi, via Kamala Lagoon dan berbelak belok sampai Kemang Pratama, muncul di jalan Narogong dan sampailah di Metland Cileungsi.

Menanti tidak lebih dari 5 menit si om muncul …. janjian jam 8 … jam 7.45-an sudah kumpul … tidak pakai ngobrol lama, ban sepeda langsung menggelinding di jalan raya Cileungi Jonggol melewati taman buah Mekarsari, perumahan Citra Indah Jonggol dan di pertigaan tugu Tegar Beriman belok kanan mengarah alun alun Jonggol.

Sepanjang perjalanan tidak banyak ketemu goweser … dan di tugu tegar beriman ini juga hanya ada beberapa goweser saja. Kita tidak berhenti, sepeda terus bergerak dan kemudian belok kanan ke arah pebukitan Jonggol.

Perjalanan mulai menanjak … tapi tanjakannya tidak ekstrem, jalannya relatif mulus dan lalu lintasnya sepi … sehingga bisa gowes nanjak santai sambil ngobrol ngalor ngidul.
Tak terasa sepeda sudah melintasi warung Desi … warung destinasi goweser. Di warung sudah banyak sepeda parkir berjejer … kita hanya lewat saja.

Ban sepeda terus berputar santai … menanjak pelan, dipertigaan kita ambil rute yang lurus mengarah ke pebukitan Jonggol. Melewati wisata Jonggol Garden yang masih sepi, menuruni lembah dahulu kemudian naik kembali, melewati wisata gua Ciwadon yang sepertinya sedang dibenahi sehingga menjadi lebih menarik.
Selepas area goa Ciwadon maka akan memasuki area kuliner …. berjejer di sepanjang sisi jalan berbagai warung dan resto … spot ini menjadi area kuliner karena termasuk titik tertinggi dan memiliki view lembah hijau yang bagus. Pertama kali sesepedahan melewati area ini tahun 2017 …. masih sepi tidak ada apa apa dan jalanannya masih berbatu batu … waktu itu kita takjub dengan view-nya dan sekaligus heran …. kenapa tempat sebagus ini tidak menjadi area wisata …. yahhhh … ternyata waktu yang menjawabnya … tahun 2018 – 2019-an area ini berubah … menjadi destinasi wisata.

Ketika masih melewati area kuliner, disebelah kanan ada jalan tanah baru, sepertinya belum lama dibuka … kepo … kita belok dulu masuk kesana, 100 meteran jalannya bercabang … jika terus menuju semacam vila dan mentok dan jika belok kanan … ternyata jalurnya berputar melewati area goa Ciwadon yang sedang dibenahi. Dan area di atas goa Ciwadon lahannya sedang dibuka … tidak tahu akan menjadi apa, view di atas ini bagus … bisa melihat jauh ke bawah ke arah Cileungsi.

Kita balik lagi ke jalan desa melanjutkan misi utama, kembali melewati area kuliner, melewati WonJo – Wonderful Jonggol dan terus bergerak, melewati destinasi goa Kelong yang sepertinya terlantar, melewati perkampungan dan di pertigaan … kita ambil belok kiri yang menurun kebawah. Jika terus maka akan menuju ke destinasi wisata yang sedang hits di daerah sini …. Gunung Cikarang Saat.

Sepeda menurun kebawah di jalan cor-an semen .. terus meluncur dan sampailah di jembatan … di titik terbawah …. maka mulai lagi menanjak nanjak … tanjakannya bisa dibilang curam .. pokoknya bikin ngos …. Masuk kembali ke area perkampungan … isi dulu air minum di warung … karena nanti kita akan memasuki area hijau .. entah kebon atau hutan.

Selepas perkampungan ini jalanan berubah menjadi tanah yang berbatu batu .. dan tetap menanjak, sulit untuk handle sepeda nanjak di jalanan berbatu … ya sudah ttb saja, melewati kebon kebon dan sampailah ke rumah rumah kayu sederhana, rumah tipikal warga kampung. Ini adalah jajaran rumah terakhir … selebihnya kita akan memasuki area hijau. Jajaran rumah terakhir ini ada di pertigaan. Jika belok kanan maka akan menuju jalan utama desa dan bisa tembus ke wisata gunung Cikarang Saat. Kita belok kiri … melalui jalanan tanah berumput, melewati area kebon dan semak semak …. menurun dahulu dan kemudian menanjak kembali. Jalur yang sebelumnya bisa dilalui mobil berubah menjadi jalur setapak dan akhirnya kita sampai di puncak bukit pertama.

— destinasi Gunung Cikarang Saat dilihat dari puncak bukit pertama
— perjalanan menuju lembah

Dipuncak bukit pertama kita bisa melihat hampir 360 derajat …. Wisata Gunung Cikarang Saat posisinya sepertinya terlihat sejajar atau ada sedikit dibawah bukit ini.
Selepas bukit ini kita menurun kebawah dan bertemu dengan seorang petani yang sedang mengerjakan ladangnya … ngobrol2 dulu sebentar dan kemudian kita melanjutkan turun kebawah melewati beberapa kebon … menanjak curam sebentar dan kemudian menurun terus dan terus menurun … melewati semak belukar dan akhirnya melewati area yang rindang … kita memasuki area hutan yang penuh pepohonan besar …. karena jalurnya tertutup oleh pepohonan yang lebat … tanah merahnya lembek licin, play safe … ttb menuruni jalur lembah yang rimbun rindang … tak lama sampailah di dasar lembah …..

— kadang harus melewati hutan

Dari mulai rumah terakhir sampai dasar lembah ini hanya ketemu satu orang, petani yang sedang bekerja di ladang … bener2 rute yang sepi.

Di area dasar lembah ini adalah pesawahan dan dikelilingi gunung yang hijau .. tapi saat ini kondisi sawahnya mengering dan tumbuh bunga bunga kecil yang cantik …. membuat suasana dan momen ini tambah indah.

— bunga bunga kecil yang cantik

Sungai yang membelah lembah ini ternyata ada jembatannya …. jembatan darurat terbuat dari bambu yang di ikat seadanya … kalau nyebrang bawa badan sih mudah, tapi nyebrang sambil gendong sepeda … bener2 bikin lutut lemes … soalnya jembatan tidak lebar, bergoyang goyang … dan cukup tinggi, dibawahnya sungai berbatu, kalau jatuh sudah pasti cedera …. ketika sudah sampai tengah jembatan …. langkah kaki stuck untuk maju … jembatan bergoyang dan pijakan kaki untuk berpindah sulit stabil …. menggunakan sepatu sepeda yang tapak sepatunya kaku serta ada cleat besi … membuat tidak bisa mencengkram bambu jembatan … jantung berdegub kencang … dan terbayang akan jatuh …. untung dengan sigap si om datang dan memegang sepeda dari belakang, sehingga saya bisa lebih konsentrasi memindahkan kaki tanpa terbebani oleh sepeda …. piuhhhh …. Allhamdulillah … lega bengetttt ketika sudah sampai seberang.

— menyebrang sungai di dasar lembah

Karena akan mendaki ke puncak bukit kedua … kita putuskan rehat dulu di area lembah ini untuk mengumpulkan kembali tenaga, kebetulan ada saung peladang. Kita “buka cafe” di saung ini …. giling biji kopi dan seduh dengan aeropress … ngopi outdoor … nikmat bener … ngobrol sambil makan cemilan dan ngopi ngopi … tak terasa sudah hampir jam 12-an … matahari bersinar dengan teriknya.

— “buka cafe” di saung petani

Kita beres beres dan kembali melanjutkan perjalanan … rutenya menanjak terus, jalan setapak tanah …. pokoke terus dorong dorong … sesekali saja sepeda digowes dan akhirnya sampai di jalan jalur mobil. Gowes sebentar dan kemudian dorong dorong lagi, karena nanjak curam dan berbatu sehingga sulit untuk digowes … dan memang nggak kuatttt.
Yang membuat lebih menantang … karena section tanjakannya ini tidak rimbun … alias benar benar terpapar sinar matahari yang garang … membuat badan cepat lelah.

— dari dasar lembah menuju puncak bukit ke dua

Akhirnya kita sampai di area lahan pertanian baru … disana ada saung dan pekerja lahan … kita sejenak istirahat di saung sambil ngobrol ngobrol. Ternyata lahan ini milik orang kota, luasnya hektaran …. Akan ditanami berbagai jenis tanaman dari palawija sampai buah buahan. Katanya daerah sini cocok untuk tanam alpukat dan durian ….

Ngobrol tidak lama, kita lanjutkan lagi perjalanan karena puncak bukit kedua masih jauh …. masih menanjak … masih dorong dorong sepeda … sesekali saja di gowes. Kita melewati satu rumah … ini adalah rumah yang terisolir … karena tidak ada tetangga disekitarnya …. Wah gileee ya … tinggal sendirian disini …. kebetulan keluarga pemilik rumah sedang diluar karena ada tamu yang datang …. Melihat kita lewat pakai sepeda, kita diajak untuk mampir istirahat … baik sekali bapak ini …. kita tidak mampir … terus melanjutkan perjalanan … terus menanjak. Dorong .. gowes … dorong … gowes … pokoknya begitu terus. Untungnya daerah sini rimbun teduh, karena kita melewati area pepohonan … mungkin ini perkebunan sengon dan pohon akasia yang sudah besar besar dan rimbun.

Perjuangan dorong dorong ini akhinya sampai di pertigaan … masuk kampung kecil ada sedikit rumah dan warung … rehat sejenak di warung … menenangkan napas yang tersengal sengal dan minum yang banyak.

Berdasarkan rute kita seharusnya belok kiri dan terus turun … tapi ngobrol dengan warga lokal diwarung, katanya kalau melalui jalur tersebut jalurnya hancur, disarankan untuk melewati jalur jalan cor-an semen … ya betul, di pertigaan warung ini, karena ada kampung kecil di lereng gunung Klapanunggal maka jalannya di cor semen. Jalannya sedikit memutar tapi lebih nyaman, katanya tidak seluruhnya jalan di cor semen masih ada sebagian yang berbatu batu.

Kita kembali melanjutkan perjalanan … yang seharusnya pertigaan ini adalah titik puncak bukit kedua … karena kita ambil jalan cor semen maka kita masih mendaki … masih menanjak di jalan cor semen ini. Area kanan kirinya umumnya didominasi pepohonan akasia yang tinggi menjulang … jalanannya rimbun teduh. Seperti yang disampaikan warga tadi … kita melewati lagi jalan berbatu batu … lalu jalan cor semen lagi … posisi kita sudah ada di puncak tertinggi rute perjalanan …. area dan situasi disini sangat menyenangkan … kanan kiri hutan akasia yang rimbun adem teduh … tenang dan damai ..

Melewati lapangan bola dan kemudian berbelok masuk jalan jelek lagi, menurun melewati perkampungan dan kemudian menjadi jalan cor semen lagi dan terus menurun .. menurun terus … turunannya bener bener curam … berdasarkan data di maps sih bisa mencapai 20% lebih kecuramannya …. wiyyy gile dong …. Ngga kebayang kalau jalannya di balik menanjak. Seharusnya rute tanjakan ini dipopulerkan … untuk penikmat tanjakan …. lebih curam dari tanjakan Babinsa atau tanjakan Demit Bogor. Jalannya mulus dan rutenya sepi … jadi bisa lebih asyik menikmati tanjakannya .. hehehe. Ayo goweser kemari …. nikmati Tanjakan Sukajaya …

Tak terasa hanya sebentar saja sudah sampai bawah … sudah sampai di jalan raya Dayeuh Sukamakmur.

Perjalanan berlanjut mengarah ke Jonggol, melewati destinasi wisata sungai Cipamingkis dan … terus bergerak sampai di pertigaan tugu Tegar Beriman Jonggol …. masih 30 km-an lagi sampai rumah …. dan terus kita bergerak pulang.

Tanjakan Sukajaya Jonggol
Koordinat googlemaps -6.539943, 106.992333

Minggu, 26 September 2022

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s