Apruk aprukan lewat jalur belakang ke WarDes Jonggol

Warung Desi di Jonggol adalah destinasi goweser.
Beberapa kali wara wiri disana, tapi secara formal baru satu kali saya mampir ke warung itu.

Tapi ada yang menarik dan bikin penasaran, yaitu jalur dari jalan raya Dayeuh Sukamakmur menuju WarDes (Warung Desi). Di googlemaps tidak ada jalurnya, tapi jika dilihat dari citra satelit terlihat ada jalur … jalur setapak tidak begitu jelas, sepertinya itu adalah jalur peladang pergi ke kebun. Rute dibuat berdasarkan jalur setapak yang melintasi sebuah jembatan di dasar lembah. Kondisi bukitnya dari citra satelit lebih banyak gundulnya.

Rute telah di set dan dimasukkan ke GPS, tinggal mengikuti GPS saja, apakah akan semudah itu Ferguso ?
Pokoknya sikat gowes, nanti tinggal menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, karena citra satelit di daerah remote jarang di update dan biasanya berbeda dengan kondisi saat ini.

Minggu pagi sangat cerah …. semingguan ini selalu mendung dan bahkan hujan. Terangnya sinar matahari pagi … gowes jadi lebih bersemangat, bahkan di jalan ketemu banyak rombongan pesepeda … merekapun pada bersemangat pergi keluar … gowes sepeda.

Tidak perlu cepat cepat, perjalanan masih panjang, gowes santai saja melintasi Kalimalang mengarah Bekasi dan berbelok belok … sampailah di Narogong Bekasi … tidak banyak pesepeda di Narogong ini … yang sering lalu lalang adalah truk sampah dengan aroma semriwing menuju ke TPA Bantar Gebang.

Tak lama kemudian sampailah di Metland Cileungsi … rehat sejenak sambil ngemil .. dan cuss lanjut lagi, melaju di jalan raya Jonggol Cariu, melewati taman buah Mekarsari, lanjut situ Tunggilis, melintas pintu gerbang Citra Indah Jonggol .. terus .. dan di tugu Tegar Beriman Jonggol sepeda belok kanan mengarah ke alun alun Jonggol. Melintas pasar Jonggol dan belok kanan menuju Dayeuh.

Perjalanan mulai sedikit sedikit menanjak, melewati pasar lagi … pasar Dayeuh … tidak ketemu pesepeda disini … tapi pesepeda motor sangat banyak bergerak mengarah ke atas .. ke Sukamakmur.

Mendekat ke spot wisata sungai Dayeuh … tapi sebelum sampai ke spot itu, sepeda belok kiri kebawah .. melewati area kosong parkiran truk … dan sampailah ditepi sungai Cipamingkis.
Sungai Cipamingkis dengan bebatuannya memang unik … tapi di titik ini … areanya lebih unik lagi …. ada dua “curug” … yang berdekatan … bentuk bebatuan seperti benteng memanjang. Karena debit airnya sedikit … aliran airnya mengalir melewati celah celah “banteng”. “Curug” ini lebih tepatnya adalah singkapan geologi yang terjadi karena proses alam dan berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Spot ini cocok untuk yang menyukai geowisata, tapi kalau saya sih … hanya cari spot unik dan tidak ramai untuk duduk duduk bersantai dan ngopi di pinggir kali.

— singkapan sungai Cipamingkis, cocok jadi geowisata
— singkapan lainnya ke arah hulu

Spot ini cantik dan unik …. keren.
Tidak ada wisatawan di sini … paling ada anak lokal yang sedang bermain bola di pinggir sungai … karena sebetulnya disekitaran area ini dijadikan tambang pasir, truk turun ke sungai untuk mengambil pasir.

Spot bagus dan tidak ramai begini asyik untuk santai sambil menikmati suasana.
Matahari bersinar terik .. panas banget … tapi kemudian sedikit mendung. Ngopi di pinggir kali pasti enak nih … duduk duduk di bebatuan tepi sungai … mendengar gemercik suara air .. melihat truk kuno yang ternyata sangat terawat dan sehat, kuat mengangkut pasir dan bergerak offroad melintasi bebatuan di sungai.

Menuangkan air panas thermos ke dalam french press, menanti sejenak 4 menit, tekan dan tuangkan kopi hitam ke gelas …. Nikmatnya ngopi di pinggir kali sambil nyemil snack.
Duduk duduk bersantai di tepi kali … membiarkan waktu berlalu, ketika terik matahari kembali datang … saya bersiap siap untuk beranjak … sampah dikumpulkan dan dibawa pulang.

Kembali sepeda bergerak di jalan aspal menuju Jonggol, didominasi turunan. Dan berdasarkan rute yang dibuat di GPS … sesuai misi, akan menembus bukit menuju Warung Desi dari belakang.
Disatu titik ketika menanjak … sepeda belok kiri masuk gang sempit kanan kiri rumah penduduk dan kemudian masuk jalur setapak di kebun penduduk dibelakang rumah. Masuk kebon bambu yang rindang dan nongol di jalan mobil …. halahhhh …. ngapain mesti masuk2 gang kecil begitu jika ada jalan mobil ini. Kemungkinan citra satelit yang diambil belum ada jalan ini … belum terupdate.

Saya ikuti jalan aspal yang sudah mulai rusak ini … karena jalurnya searah dengan di GPS, menanjak ke atas dan sampailah di puncak bukit dan terlihat bukit diseberang. Ini adalah bukit pertama … kemudian akan menurun ke bawah … ke lembah .. melintasi sungai dan menanjak kembali ke puncak bukit di seberang dan akan sampai di warung Desi … ini theory-nya tapi kenyataan tidak semudah itu Ferguso.

Mengikuti jalan aspal ini menurun kebawah dan menjadi seperti jalur setapak … sebagian hancur berbatu batu dan sebagian masih ada aspalnya tapi jalurnya dipenuhi rumbut dan semak semak … jadi agak sedikit ragu untuk meneruskan … tapi insting mengarahkan untuk bergerak terus, mengikuti jalur di gps. Sepeda di tuntun menurun terus kebawah … melewati semak belukar, melewati sedikit kebun … ketemu petani disana .. mengobrol dahulu … ternyata jembatannya sudah tidak ada, sudah hancur … tapi aliran sungainya sedang dangkal jadi bisa dilintasi … bekas jalur aspal ini … karena dulunya pernah ada peternakan ayam disini … tapi sudah tidak ada lagi, sudah jadi kebun katanya …. oohhh pantes.

Perjalanan berlanjut dan sampailah di tepi sungai …. ya airnya dangkal … tapi mesti buka sepatu jika tidak ingin basah … tidak nyaman jika gowes sepatu basah … akhirnya sepatu saya buka … dorong sepeda sebrang sungai.. keringkan kaki, pasang sepatu … dorong sepeda ke atas dan sampailah di kebun penduduk. Ohhh senangnya … dorong melintasi kebun, dekat saung ada petani disana .. kaget dan heran melihat saya nongol dorong sepeda. Dan si Bapak itu malah ngomel ngomel … ehhh kenapa sih pak … intinya susah dan sulit untuk terus ke atas. Hadeuhhh … ternyata memang bener omelan si bapak. Kebon ini luasnya kecil lewat dari kebon adalah rawa … wahhh … tidak nyangka di daerah sini ada rawa. Rerumputan tinggi dan tanahnya basah berair … kalau di injek pasti memblesek. Mikir … saya perhatikan gps .. jalur yang saya buat berdasarkan jalan setapak yang terlihat di satelit. Di citra satelit terlihat gundul … tapi kenyataaan disini dipenuhi semak belukar. Saya menerobos semak kearah kiri menyusuri rawa menuju jalur yang sebelumnya saya buat di GPS, ketemu rutenya lagi .. mengikuti jalur dan ternyata memang harus menyebrangi rawa ini … terlihat seperti ada jalur setapak … ada garis samar di semak semak yang terinjak .. membelah rerumputan yang tinggi … untungnya sudah seharian tidak turun hujan dan panas terik sehingga tidak terlalu lembek tanahnya. Sampai di sebrang .. tanah keras … tapi areanya masih tidak jelas … ada kebon .. tapi kecil selebihnya semak belukar … menyusuri jalan setapak yang dipenuhi semak, tidak tahu mengapa saya melirik ke sebelah kanan … dan hiyyy … ada pondok kayu kecil nyempil di tengah kerimbunan pohon dan semak belukar … tidak tahu mengapa auranya “beda” …. baca baca dan cepat cepat saya terus bergerak, lebih semangat menerobos semak semak …terus bergerak dan sampai di kebon kecil lagi, disana ada seorang petani yang bekerja … dan heran juga melihat saya nongol dari semak semak.

Beliau mengarahkan ke jalan yang benar … dan tidak jauh dari kebon tersebut ada jalan tanah selebar mobil … sepertinya digunakan untuk angkut hasil pertanian. Bahagianya menemukan jalan tersebut … mengikuti jalur itu dan sampai kampung kecil di lereng bukit ini … hanya ada beberapa rumah … rasanya lega banget, melihat peradaban.

Keluar dari kampung, mengikuti jalan tanah mengarah ke atas bukit. Tantangannya selain menanjak … areanya gersang … dan matahari bersinar sangat terik. Capek banget … perasaan panasnya benar benar menyengat … membuat badan cepat drop …. air minum sudah habis …

— pandangan ke belakang adalah lembah yang tadi dilalui

Semangattt … menanjak panas panas ke atas, mendekat ke atas areanya agak sedikit rimbun, tapi jalannya jadi banyak titik becek berlumpur … ya gimana lagi .. sikat terus. Dan akhirnya sampai di jalan aspal … jika belok kiri .. tidak jauh terlihat Warung Desi … bisa dikatakan muncul di sebelah WarDes, warung destinasi pesepeda di Jonggol.

Saya tidak mampir ke WarDes … tapi belok kanan dan menurun terus dan terus menurun … belok masuk jalan kecil, masuk gang dan tetap terus menurun dan masuk ke area perumahan Citra Indah.
Rehat sejenak di minimarket … sambil berteduh dari teriknya sengatan matahari, sengatan panas sinar matahari ini benar benar membuat badan terasa sangat capek dan lelah.
Kemudian perjalanan dilanjutkan … menurun terus dan terus dan sampailah di pintu gerbang utama Citra Indah, perjalanan berlanjut menyusuri jalanan raya Cileungsi Jonggol dan mengarah terus ke rumah.

Singkapan Sungai Cipamingkis
Sukanegara, Kec Jonggol, kab Bogor
Koordinat googlemaps -6.530440, 107.036832

Minggu 23 Januari 2022

4 komentar di “Apruk aprukan lewat jalur belakang ke WarDes Jonggol

  1. Ngegowes beblusukan nih Kang. Seni nerabas jalur berdasar citra satelit bonus rawa.
    Sepakat singkapan dasar kali Cipamingkis apik ya. Ngopi berlatar kali makin terasa sadapnya
    Salam sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s