Wehhh … Ternyata ini Tanjakan Gendeng – Babinsa Cigudeg

— kecuraman tanjakan Babinsa rata rata di 17% sd max di 20,7%

Misi utama adalah menuju gunung Eusing di daerah Rumpin Bogor.
Untuk menuju kesana saya pilih jalur lewat Cijambe Rumpin dan terus menanjak mendaki gunung mengarah ke Cigudeg.

Tahun 2019 pernah ke Curug Rahong Cijambe …. untuk kesana melewati tanjakan yang lumayan berat. Gunung Eusing ada diatasnya curug Rahong, di check di peta digital internet … memang didominasi tanjakan tanjakan mantap …. banyak yang kecuramannya di atas 17 derajat, dan yang paling curam 20,7 derajat … Sebagai perbandingan tanjakan ke km Nol Bojongkoneng Sentul yang sudah berat bagi para goweser … rata rata kecuramannya di 7% dan paling curam di 12,5%. Tanjakan ke gunung Eusing hampir sebanding dengan tanjakan demit / goskil Cileeur, Sukaresmi Bogor atau sama juga dengan tanjakan ke bukit Pabuaran yang mencapai 20,2%. Tapi tanjakan ke gunung Eusing ini panjang, sedangkan tanjakan Cileuer dan Pabuaran jaraknya relatif pendek.

Berdasarkan kecuraman tersebut, tanjakan ke KM Nol Bojong koneng jadi terlihat biasa biasa saja jika dibandingkan tanjakan kearah gunung Eusing.
Hmmm yahud bener tanjakannya … sudahlah tidak perlu pusing dengan tanjakannya, tinggal dinikmati saja toh.

Matahari bersinar terang memberikan energy ketika jam 7 kurang saya berangkat dari rumah, mengayuh sepeda melewati Cawang, Condet, Lenteng Agung. Dan tepat sebelum tikum di depan Margo City Mall … si om terlihat mengayuh sepeda dengan santai banget di depan.
Berjejeran dengan si om …. tidak melakukan pit stop …. tetap lanjut.

Meskipun dulu pernah gowes kearah Rumpin …. tapi kali ini melalui jalur jalur baru …. beberapa kali masuk gang kecil perumahan padat di daerah Depok. Bolak belok terur menerus … mesti sering sering pantau gps …. karena beberapa kali belokannya terlewat … bahkan kadang terlewat cukup jauh … mesti muter balik lagi. “ wah kalau saya nyerah deh kalau mesti balik lagi lewat sini “ kata si om. Saya nyengir dengarnya …. karena kadang gang yang mesti dimasukin kecil banget, seperti gang buntu … bikin ragu … diikutin jalurnya sesuai gps dan ternyata gangnya tembus.

Setelah keluar masuk gang dan jalan kecil … kita masuk jalanan besar … di daerah Sawangan dan kemudian melewati daerah Parung, tak lama kemudian sampai di Ciseeng dan masuk gang kembali lalu muncul di jalan Prada Samlawi. Di depan terlihat gunung runcing yang menyendiri gunung Nyuncung dan di bagian lainnya terlihat bentangan pegunungan di daerah Rumpin, gunung Munara, gunung Eusing dan lain lainnya.

Desinasi sudah didepan mata …. matahari bersinar terik … dan ada lagi ciri khas didaerah sini …. banyak truk lalu lalang …. di daerah sini banyak hasil tambang. Ada tambang pasir, tambang batu dan tambang tanah … ya tanah merah di tambangi dan diangkut dijual ke daerah lain. Pegunungan Rumpin ini selain gunung batu juga banyak yang bukit bukit tanah merah.

Otomatis debu debu yang diterbangkan ban ban truk menambah keseruan perjalanan.
Disatu titik perjalanan menurun ke bawah melewati jembatan Grendong, ternyata sekarang melalui jembatan besi baru yang agak lebaran, jembatan besi lama ada disebelahnya.

Sehabis jembatan jalanan menanjak ke atas, tanjakannya lumayan curam dan yang bikin ngeri adalah truk truk besar yang menyalip kita di tanjakan dan kadang sangat dekat ke sepeda. Truk yang kearah atas umumnya kosong kosong … yang arah sebaliknya mengangkut “hasil bumi”. Bahkan kita dikagetkan dengan bunyi letusan yang sangat nyaring …. truk dari arah depan yang mengangkut batu ban-nya meletus. Kata orang kalau ban truk meletus artinya beban yang dibawa sangat berat melebihi kapasitasnya.

Setelah melewati pasar Nyuncung kita masuk kejalanan kampung, jalanan yang mengarah ke curug Rahong Cijambe. Melewati pesawahan, kampung kampung dan mulai menanjak menanjak. Jalanannya di sisi kiri umumnya tebing dan sisi kanan adalah sungai. Di awal awal tidak terlalu menanjak dan jalanannya berbatu batu jelek dan banyak sekali anak kecil yang meminta sumbangan “uang jalan pak” di beberapa ruas jalan. Mungkin mereka menarget wisatawan yang menuju Curug Suakan Rumpin sedangkan curug Rahong yang ada di atasnya lagi kabarnya sudah ditutup.

Selepas jalanan jelek berbatu, jalanan berubah menjadi aspal … bisa dikatakan mulus. Tapi tanjakannya mulai terasa. Kita melewati pintu masuk curug Suakan, terus saja kita menanjak, beberapa kali melewati perkampungan kecil dan hutan. Mendekat ke curug Rahong … tanjakannya makin mantap.

Melewati pintu masuk curug Rahong … dan ternyata benar curugnya sudah ditutup, ada plang yang menyatakan bahwa area itu milik perusahaan swasta dan dilarang masuk.

Selepas curug Rahong kita terus menanjak nanjak tapi masih okelah .. melewati 2 perkampungan kecil … selama kita melalui jalur ini tidak ketemu pesepeda sama sekali, tapi di perkampungan kedua ada sekelompok goweser rehat di salah satu warung dan mengajak kita untuk mampir rehat dulu. Karena nanggung kita terus saja …. dan ternyata kita dihadang oleh tanjakan yang terjal … bikin ngap ngap bener …. kita … ehhh saya sih berjuang gila gilaan … si om terlihat serius banget menanjak … artinya tanjakannya memang berat … stabil si om terus melaju.

Disatu titik di sisi jalan ada pohon rindang dan kayu yang ditumpuk … cocok banget untuk duduk rehat, si om sudah duduk menanti disana. Saya berhenti disana dengan napas tersengal sengal.
Pantesan goweser tadi rehat di warung … rehat sejenak dulu setelah melewati tanjakan pemanasan sebelumnya untuk menghadapi tanjakan sebenarnya.

Duduk rehat sambil nyemil dulu … dan dibawah terlihat para goweser tadi sedang ttb mendorong dorong sepeda ke atas, dari cara mereka mendorong sepeda yang sampai miring miring … artinya tanjakan ini memang curam, berdasarkan data sih tanjakan awal ini di mulai dari 14% sampai 17,6%.
Mereka ikut rehat dibawah pohon rindang ini … ternyata mereka adalah goweser dari Depok dan gowes kesini bukan yang pertama kalinya.

Kita melanjutkan lagi perjalanan …. tertatih tatih saya menanjak … jika sudah ngap bener saya berhenti … kalau si om … perlahan tapi terus bergerak dengan badan yang condong condong kedepan …. karena ban depan terangkat terangkat ke belakang … gimana nggak ngangkat … kemiringannya di atas 15% bahkan sampai 20%.

Benar benar menguras tenaga … sudah menanjak nanjak curam dari tadi …. meskipun areanya hijau, tapi jalur jalannya jarang ada pepohonan yang rimbun … terik sinar matahari benar benar menyengat …. peluh deras bercucuran … membuat badan lebih cepat lelah.

— jalur tanjakan meskipun di gunung tapi tidak rimbun … alias panas gersang

Beberapa kali melakukan pitstop … meskipun harus stop di tempat panas disengat matahari …. ya bagaimana lagi … napas dan tenaga serasa habis …. pokoknya tidak sampai dorong dorong sepeda …. tetap digowes walaupun pelan merangkak. Lagi ngap ngap-an begini ada sekelompok goweser menurun dengan riang gembira kebawah …. serasa nikmat … haha.

Setiap kali melihat ujung tanjakan … seperti puncak atau belokan … berharap sudah sampai puncaknya … tapi ternyata hanya tanjakan dan tanjakan lagi menghadang di depan … hadeuhhh.

Disatu titik yang agak datar kita berhenti sejenak … memandang tanjakan berkelok di depan … terlihat curam sekali … suara motor saja menggerung gerung … mengeden …
“ sok om .. jalan duluan “ kata saya, si om berangkat … gowesnya bener fokus hahaha … tapi stabil dan terus berlanjut … saya diam saja perhatikan sambil mengumpulkan segenap tenaga dalam. Dan butuh pitstop satu kali untuk sampai keatasnya.

Akhirnya …. sampai juga di puncaknya …. Sudah jam 11-an lebih, dipuncak ini ada warung … ada beberapa spanduk disana ada spanduk Finish … dan ada spanduk bertuliskan Warung Mang Acong dan Tanjakan Babinsa …
Ohhh … ini toh tanjakan Babinsa yang terkenal dan wara wiri di medsos …. pantasen … memang top dah tanjakannya … hehe. Tanpa sengaja kita malah “menikmati” tanjakan ini.

— puncak tanjakan Babinsa, Warung Mang Acong

Di saung di pinggir warung si Om sedang ngobrol dengan satu satunya goweser lain yang ada disana.
Tidak tahu kenapa, tanjakan terkenal ini koq sepi goweser …. Saya pikir kalau terkenal begini bakalan ramai goweser ngumpul disini …. kurang lebih kayak di KM Nol Sentul begitu ….

Rencananya kita akan lanjut menuju gunung Eusing dari sini … mengikuti panduan gps dengan masuk melalui single track tanah, masuk kedalam hutan. Tapi kata warga lokal yang ada disana …. track didalam hutan licin hancur karena hujan … karena rimbun jadi lembek dan becek … berbahaya katanya.

Setelah ditimbang timbang …. sudahlah .. tidak sepadan jika ada apa2 didalam sana …
Akhirnya kita duduk duduk rehat sambil ngobrol ngobrol dengan goweser yang ada disini. Ternyata beliau goweser senior, sudah wara wiri ke daerah sini sejak jalanannya masih hancur.

Di kulkas yang ada di warung tertempel banyak sekali stiker dari berbagai komunitas sepeda … pokoknya body kulkasnya hampir penuh dengan stiker. Memang tanjakan Babinsa ini cocok untuk jadi tempat para goweser mempraktekan ilmu “kanuragaan”. Tanjakannya panjang, gradient-nya ekstrem, jalannya bisa dikatakan bagus (tidak hancur) dan … sepi lalu lintas …. jadi ketika ngeden ngeden nanjak tidak khawatir terganggu oleh lalu lintas motor dan mobil. Meskipun ada motor dan mobil yang lewat … tapi sangat jarang.

Ngobrol ke barat dan ke timur tidak terasa waktu sudah berlalu lama … hampir jam 13. Saatnya pulang. Kita bergerak menurun ke bawah … dan mesti hati hati … karena turunan curam.
Ketika perjalanan menurun … kita bertemu dengan rombongan pesepeda yang diawal awal tanjakan tadi …. dengan wajah capek, berpeluh … beriringan mendorong dorong sepeda ke atas …. posisi mereka sudah tidak jauh lagi untuk sampai ke puncak ke warung mang Acong.

Kita terus menurun kebawah dengan riang gembira.

Tanjakan Babinsa/Warung Mang Acong
Banyu Asih, Kec. Cigudeg, Bogor
Koordinat googlemaps -6.50097, 106.60679

24 Oktober 2021

2 komentar di “Wehhh … Ternyata ini Tanjakan Gendeng – Babinsa Cigudeg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s