Menembus gunung Klapanunggal menuju Mata air Cikukulu

Mata air Cikukulu ….
Nama yang unik … belum pernah dengar.

Ketika ada yang mengabari tentang mata air ini … tidak hanya heran tapi langsung tertarik.
Googling2 … infonya sangat minim banget.
Posisinya yang pasti ada di area kawasan tambang pabrik semen di Citeureup, sebelah mananya tidak jelas.

Mungkin karena adanya didalam kawasan tambang jadi aksesnya agak terbatas sehingga tidak banyak yang tahu tentang spot ini. Pernah sekali saya melintasi area tambang ini … area yang sangat sangat luas dan memang sepi …. karena waktu itu hari minggu jadi sepi … tidak ada yang kerja. Kalau hari kerja tidak boleh masuk kesini … karena lalu lalang truk truk tambang besar yang ban-nya seukuran mobil.

Selama ini mata air di area gunung Klapanunggal yang terkenal adalah mata air Sodong …. Tapi ternyata ada yang lain …. mata air Cikukulu.

Kali ini akan kesana lagi … mencari dan menemukan.

Untuk masuk kesana kemungkinan tidak bisa masuk lewat akses utama yang merupakan cara tercepat dan termudah – lewat “kota” … ya sudah sekalian saja dibuat lebih seru …. sekaligus berpetualang. Lewat akses belakang yang belakang banget … menjelajah area yang belum pernah saya lewati … sudah lama penasaran dengan jalur ini, ingin sekali melewati jalur ini.

— jalur yang ditempuh menembus gn Klapanunggal

Naik gunung Klapanunggal dan membelah sisi tengahnya dan masuk ke area tambang di tengah atas pegunungan Klapanunggal.

Hari Minggu … saatnya untuk pergi mencari.
Jam 7.45-an kurang sudah nongkrong di bawah flyover Cileungsi …. dan jam 8 kurang si om datang … intime … janjian jam 8. Menjelaskan arah dan destinasi yang dituju …. dan cabut … cusss

Melewati pasar Cileungsi yang padat dan ramai, kemudian berbelok di pasar Meong, masuk gang berkelok kelok dan tak lama kemudian di depan mata sudah terhampar bukit putih tinggi memanjang … bukit kapur Klapanunggal … bukitnya sudah terpotong potong serta banyak lahan bolong bolong karena penambangan batu kapur. Area tambang ini sepertinya bukan resmi dari pabrik semen besar, area tambang milik pabrik semen besar ada di atas gunung Klapanunggal yang nanti akan kita lalui.

Yang sedikit jadi masalah …. sepertinya dalam beberapa hari ini turun hujan di daerah Klapanunggal sehingga jalanannya banyak yang becek … untungnya belum masuk benar2 musim hujan …. karena jika musim hujan jalanannya benar benar banyak kubangan dan tanahnya menempel di ban.

Mungkin juga karena dibeberapa bagian becek …. selama gowes di area sisi gunung kapur Klapanunggal ini tidak ketemu pegowes … biasanya wara wiri kelompok gowes … sekarang tidak ada sama sekali …

— area tambang kapur di kaki gn Klapanunggal

Kita gowes melewati akses destinasi wisata Lalay yang juga sepi. Kemudian kita melintas masuk ke area penambangan kapur, tepat di bawah tebing kapur yang dipapas tegak lurus …. putih memanjang seperti tembok yang tinggi.

Dan kemudian mulai menanjak mendaki kaki gunung Klapanunggal …. melewati jalan tanah yang baru dibuka … jalan baru ini menghindari area perumahan perkampungan, karena jalan baru ini merupakan akses lalu lalang truk mengangkut kapur dari area tambang yang ada di bagian atas kampung.

Jalanan menanjak landai .. nyaman digowes dan disatu titik kita belok kanan … jika tadi diteruskan akan masuk area penambangan baru dan belok kanan ini adalah akses jalan untuk menuju Desa Cioray yang ada di atas gunung Klapanunggal.

Selepas pertigaan ini … tanjakan tanjakannya mulai terasa … apalagi jalanannya berbatu batu. Sisi kanan kiri adalah pepohonan atau semak belukar .. dan dibeberapa titik ada lahan yang dibuka dijadikan ladang penduduk tapi tidak banyak. Kadang melewati kubangan air dan lumpur … hal ini membuat ban sepeda menjadi basah tertutup lumpur dan slip ketika menanjak di jalanan berbatu batu.

— menanjak di “jalan utama” gn Klapanunggal

Umumnya memang pesepeda sangat jarang melintas dijalan ini … tapi kita ketemu 2 pesepeda yang searah sama kita menanjak … mereka dari Mekarsari Cileungsi dan bermaksud melewati kampung Cioray dan berputar ke Ciwadon – Jonggol Garden dan kembali ke Mekarsari, mereka baru pertama kali melewati jalanan ini dan “berkonsultasi” mengenai kondisi dan jalur jalan. Biasanya di jalur ini sering bertemu kelompok motorcross … tapi saat kita lewat tidak ada sama sekali … heran …. apa mungkin karena tanggal muda .. jadi pada jalan2 ke mall ya …

Sesekali kita bertemu dengan pemotor penduduk lokal … selebihnya sunyi sepi.
Terus saja kita gowes tersengal sengal menanjak .. dibeberapa titik yang tanjakannya licin berbatu .. kita harus dorong dorong sepeda.

Sampailah kita melintas area rumah penduduk yang hanya ada beberapa rumah dan tersebar di beberapa titik … kalau tidak salah ini adalah kampung Cibuntu. Dan tibalah di titik percabangan …. Jika terus adalah jalur utama yaitu jalur yang menuju kampung Cioray … dan belok kanan menanjak adalah rencana jalur yang akan kita ambil untuk menuju area tambang kapur ditengah gunung.

Yang bikin ragu adalah …. jalurnya berupa tanah merah … dan terlihat gembur dan sedikit basah karena hujan …. welehhh. “ wah sepertinya bakalan parah nih “ kata si om. Terdiam …. untung ada penduduk lokal dan kita bertanya …. katanya kalau musim hujan jalanannya bakal parah … hmmm … semakin ragu ….
Lalu kita bertanya lagi apakah tahu mengenai mata air Cikukulu. Ya katanya posisinya ada di area tambang pabrik semen …. Menjelaskan arahnya nanti setelah ketemu jalur conveyer belt dan jalan putih tinggal ikutin saja pokoknya kearah kanan … dekat gudang dinamit …. walahhh .. hehehe. “ biasanya disana tempat ngompi pak “ …. “ tempat ngopi ya, sesuai dong dengan kita” …. “bukan pak … untuk cari nomor …. “ …. apaaa … untuk cari nomor telepon gitu … #Pletak …..
Ohhhh ngertilah kita maksudnya.

Posisi kita sudah kepalang sampai disini …. kita mantapkan untuk mencoba dahulu … seandainya makin parah … ya kita balik lagi saja … ok kata si om.

Langsung kita tancap menanjak dengan gahar … ehhhh … maksudnya dorong dorong sepeda terengah engah di tanah merah …. baru gerak beberapa meter … berhenti …. ban sudah jadi donat …. cungkal cungkil dulu tanah yang menempel di ban pakai kayu … lanjut lagi .. dorong dorong … berhenti lagi …

— menanjak di jalur tengah yang membelah gn Klapanunggal

Kita berpapasan dengan motor bebek petani yang bergerak dari arah berlawanan menurun ke bawah … membawa hasil bumi yang berat diboncengannya … melihat kondisi ban-nya sepertinya kondisi didepan tidak parah parah banget … karena hujannya belum intensitas tinggi. Melihat petani lokal tersebut melalui turunan jalanan ini dengan motor bebek seadanya membuat kita cengar cengir ….. jika kita pakai motor kesini dengan motor yang lebih layak dan tidak boncengan pasti akan tetap kesulitan dan keteteran …

Setelah pemotor petani lewat, semakin yakin dan semangat untuk terus melanjutkan perjalanan.
Jika kondisi tanjakannya memungkinkan maka kita gowes … jika tidak kita dorong dorong … tidak tahu berapa kali kita berhenti membersihkan tanah yang menempel di ban.

Sampailah kita dititik tertinggi perjalanan …. selebihnya akan banyak melalui turunan turunan. Di titik ini pandangan kearah lembah agak terhalang karena banyak dipenuhi pepopohonan. Jika sebelumnya pada waktu menanjak … jalannya masih cukup lebar tapi kondisi jalanan menurun berubah menjadi jalanan setapak dan berbatu batu. Kita melewati beberapa lahan yang dibuka jadi ladang di daerah atas ini tapi luasnya tidak besar.

Jalanan setapak menurun ini didominasi jalanan berbatu batu … dan sebagian masih ada tanah merah …. tidak gowesable … jalanan turunan berbatu batunya berbahaya … daripada nyungsep dan jontor lebih baik ttb … play safe. Hanya sesekali dapat dinaiki sepedanya … selebihnya dituntun.

— menuruni gunung melalui jalan setapak berbatu batu

Dibeberapa titik kadang kita melewati area lereng gunung dan bisa memandang kebawah lembah …. Yang terlihat dikejauhan dibawah lembah adalah area hijau dan area berwarna putih … atau area tambang. Itulah area tambang milik perusahaan semen besar, yang berada di atas gunung Klapanunggal. Terlihat jaringan conveyor memanjang membelah pegunungan dari satu area tambang ke area tambang lainnya. Kita berada di suatu lereng bukit/gunung dan diseberang lembah adalah gunung / bukit lagi …. tidak terlihat kota karena terhalang oleh gunung diseberang. Kita berada ditengah pegunungan Klapanunggal …. kerennn. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga menjelajah dijalur ini.

— view di tengah gunung, sekelilingnya masih area hutan gn Klapanunggal
— disalah satu puncak bukit gn Klapanunggal

Ketika menurun terus dan disatu titik jalan menjadi agak lebar lagi. Masih didominasi batu batu tapi kadang masih melewati jalanan tanah merah yang agak becek, paling tidak sepeda bisa dinaiki dan terus menurun kebawah …. melintas sungai kecil … kita berhenti disini, membersihkan sisa sisa tanah yang menempel di ban. Sungai kecil ini mengairi curug kecil yang ada tepat disisi jalan … unik … airnya bersih karena tidak ada kampung di atas aliran sungai ini …. tapi diatas sebenarnya ada lagi area tambang kapur yang sangat besar … bagian dari milik pabrik semen.

— curug kecil di tengah hutan, tepat di sisi jalan

Ketika diperhatikan aliran sungai ini ke arah hilir sebenarnya adalah tebing jurang …. terdengar bunyi air jatuh tapi karena terhalang semak belukar yang lebat sehingga sulit untuk melihatnya. Jadi ada curug tinggi di daerah sini yang tidak diketahui banyak orang dan belum dibuka akses jalannya.

Setelah ban bersih … kita kembali meluncur turun bergetar getar kebawah melewati bebatuan dan sampailah di bawah jalur conveyer belt yang memanjang. Jalur conveyer belt ini memanjang dari tambang yang ada di bukit seberang ke tambang yang lebih besar di atas bukit … diatas aliran sungai tadi yang kita lewati …. atau tepatnya di atas tebing Lidah Jegger. Tebing batu memanjang yang terlihat dikejauhan kalau kita dari arah Lulut, Tajur, Sukamakmur …. Tebing batu itu disebut Tebing Lidah Jegger … dan tidak banyak yang tahu kalau diatas tebing itu adalah area tambang besar milik pabrik semen …. bukan area hijau pegunungan yang lebat.

— area conveyor belt di atas gn Klapanunggal di jalur truk tambang raksasa

Kita sekarang berada di tanjakan di sisi jalur conveyor belt, jalannya berwarna putih – batu kapur -lebar besar karena ini adalah jalur lalu lintas truk tambang segede gaban alias truk tambang raksasa, yang bannya lebih besar dari mobil. Berhubung dihari Minggu jadi tidak ada aktifitas …. dan juga sepi …. kita tidak tahu persis keberadaan mata air ada disebelah mana …. apakah kearah atas alias menanjak lagi atau kearah bawah …. Tidak ada orang yang bisa ditanyai disini …. feeling seharusnya ke aras bawah … menurun kebawah, kita pernah sebelumnya menjelajah bersepeda muncul dari bukit di seberang di area tambang dan menurun ke bawah lembah dan tepat di bawah lembah ada jalan jalan kecil menuju akses pintu keluar utama.

Riang gembiralah kita menurun kebawah di jalan lebar rata ini … wiyyyyyy …
Tepat sebelum sampai dibawah lembah kita bertemu dengan petani yang sedang membawa rerumputan dijok belakang motornya. Kata beliau “posisi mata air jauh pak” … kearah atas bukit …. Walahhhhh … kita baru saja menuruni kebawah …. jadi mesti balik lagi gowes kearah atas …. hehehe … nasip nasip ….

Pak tani tersebut bersedia mengantarkan kita ke mata air, katanya jalannya searah dengan dia.
Kita balik lagi gowes merayap rayap ke atas di panas terik bolong begini … argghhh, pak tani karena naik motor maka dia menyalip dan menunggu kita di belokan atas. Asyiknya di belokan ini jalannya menurun terus …. bisa kencang dan lebih cepat dari motor kalau mau …. tapi tetap mesti hati hati karena jalanan berwarna putih ini penuh dengan kerikil batu putih kecil … yang bisa dengan mudah ban sepeda selip dan jatuh.

Disatu titik pak petani menunjukkan lokasinya … “dibalik pintu besi itu pak posisinya”
Ohh dibalik sana toh posisinya …. Sebenarnya pada waktu pertama kali gowes jelajah masuk ke area tambang ini …. Dari jalan kecil dibawah lembah conveyer belt akhirnya menyambung ke “jalan raya putih” ini – jalan lalu lintas truk tambang – dan melewati area ini …. Tapi karena tidak ada papan petunjuk sama sekali jadi tidak tahu.

Kita bergerak masuk ke balik pagar, menuruni jalan setapak dan …. disanalah mata air Cikukulu berada saudara saudara ….. sepi tidak ada orang … yang terdengar adalah dengungan rendah suara mesin pompa air raksasa … tepat di sebelah mata air ini ada bangunan pompa air …. berdasarkan info dari internet bahwa mata air ini dikelola dan dirawat secara berkala oleh pabrik semen, menjadi pasokan air bersih yang di alirkan melalui pipa pipa ke desa Lulut dan Leuwikaret yang ada disekitar area tambang ini. Dimusim kemaraupun air ini tetap mengalir … tidak kering.

Sepeda kita sandarkan …. melihat lihat situasi … ada kolam air bening dan mata airnya ada di tebing bebatuan yang tertutup lebat oleh semak belukar serta pepohonan …. dan terdengar sejenis suara binatang … mungkin burung tapi tidak jelas juga itu apa … tapi saya baru mendengar suara tersebut.

Ada seorang ibu pulang dari ladang lewat … kata beliau kita harus sering banyak nyebut …. hmmmm …. sepertinya tempat ini memiliki nilai mistis dan dikeramatkan …. bahkan jadi tempat ngompi. Kita jadi nyengir saja … saling berpandangan tidak jelas …. beruntung tidak lama kemudian datang beberapa bocil kampung …. mereka bermain ke mata air ini untuk mandi dan berenang renang. Jadi kita tidak merasa kesepian … tingkah mereka bermain serta suara mereka yang riang dan nyaring membuat kita tidak merasa keueung atau angker ….

— mata air Cikukulu

Ngobrol dengan bocah2 ini, katanya memang jarang sekali orang luar datang kesini … umumnya hanya orang orang sekitaran sini saja. “Pesepeda ada yang kesini nggak ? ” kata saya …. belum pernah lihat kata bocil bocil ini.

Saat siang terik panas begini, bocil bocil ini ceria berenang renang bahkan melompat lompat di area bangunan pompa yang ternyata memiliki spot yang dalam. Bosan bermain di area pompa mereka bermain ke area kolam mata air …. disinipun ada spot yang dalam sehingga mereka bisa melakukan jungkir balik koprol masuk kedalam air.

Kita menjelajah kesekitaran area mata air … berpindah pindah tempat … melihat lihat air yang keluar dari sisi bebatuan tebing. Akhirnya kita duduk rehat di “pulau kecil” di kolam mata air … berlindung dari terik sinar matahari …. ngemil ngemil.

Waktu sudah semakin siang …. terik matahari semakin terasa menyengat.
Kita berangkat pulang …. kembali ke jalan besar lebar putih, melanjutkan perjalanan menuju akses pintu keluar masuk utama ke area tambang ini yang dijaga oleh security. Jalan masih menurun … melewati semacam bangunan hanggar besar …. disana terparkir traktor dan truk truk tambang yang segede gaban …

Dan sampailah kita di gerbang keluar yang dijaga security … mengangguk tersenyum kepada petugas jaga dan keluar dari area tambang.
Sebetulnya dari gerbang ini ke mata air Cikukulu tidak sampai 1 km …. bisa dikatakan sangat dekat.
Tapi jika masuk melalui akses utama ini, harus meminta izin … yah mungkin juga diperbolehkan lewat.

Curug Kecil di gunung Klapanunggal
Koordinat googlemaps -6.504700, 106.947900

Mata air Cikukulu
Leuwikaret, Klapanunggal, Kab Bogor
Koordinat googlemaps -6.496355, 106.927014

Minggu 3 Oktober 2021

2 komentar di “Menembus gunung Klapanunggal menuju Mata air Cikukulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s