Sebuah Pencarian Sarang Macan — Liang Maung

Liang maung ….
Hiyyyy seremmmm

(Liang Maung = lubang macan)

Sudah lama ingin pergi ke tempat ini, dari dulu hanya wacana wacana dan rencana rencana saja … no action.

Beberapa hari ini tidak turun hujan … cocok untuk pergi kesana.
Paling aman kalau pergi kesana saat jalanan kering … saya tidak tahu berapa km akan melewati jalanan tanah. Dari rute yang dibuat, sebisa mungkin menghindari jalur tanah atau makadam meskipun jadi lebih berputar.
Rute dibuat berdasarkan ancer2 dari satellite Googlemaps … tidak tahu kenyataan dilapangannya bagaimana.

Minggu pagi jam 7.30 kurang sudah nongkrong di tikum daerah Bekasi … menanti sejenak .. dan si om datang mengebut, sedikit terlambat.

— menunggu di tikum

Hujan rintik kecil turun ketika akan berangkat … hmmm

Dan ketika mendekat Blu Plaza Bekasi … rintik hujan bertambah … rintiknya nanggung … kalau pakai jaket hujan pasti gerah … tapi kalau tidak, baju basah … aspal jalanan sudah basah …

Berhenti dulu, pasang cover hujan di sadel kulit … sadel kulit sedikit repot … jangan terkena air dalam intensitas lama dan banyak.
Sambil berpikir dan menimbang nimbang …. sedikit ragu untuk … terus tidak ya … kalau hujan pasti repot di area mendekat destinasi. Tapi wajah si om tidak menunjukkan keraguan … tetap semangat untuk lanjut dan langit ke arah jauh … ke arah Karawang … sepertinya terang … tidak hujan.

Perjalanan dilanjutkan … menyusuri Kalimalang … gowes santai … supaya air tidak nyebret ke baju belakang.

Gowes santai banget … beberapa kelompok goweser … menepi berteduh … kita tetap gowes sedikit berbasah basahan.

Terakhir melewati Kalimalang ke arah Karawang setahun yang lalu … sekarang ternyata 2 jembatan sudah rampung tersambung, sehingga Kalimalang 2 lajur besar sudah semakin tersambung … horeeee.

Hujan rintik sudah berhenti … aspal jalanan masih basah dan mendekat Cikarang … jalanan kering, tidak turun hujan.
Kayuhan sepeda mulai dipercepat … sesekali berhenti untuk buka masker dan minum.

Melewati jembatan Siphon Cibeet, dimana aliran sungai Kalimalang mengalir melalui underpass dibawah sungai Cibeet … berarti sudah semakin dekat ke belokan keluar dari jalan Kalimalang.

40 km lebih … kita belok kanan, keluar dari Kalimalang masuk ke daerah Wanasari, Pangkalan Karawang dan kemudian menyebrang jalan tol Cikampek.

Gowesan berlanjut … mengarah ke Loji Kawarang … jalanan rolling naik turun … meskipun banyak nanjaknya.

Hanya 2 kali ketemu kelompok sepeda di jalan Raya Pangkalan …
Sepeda masih rolling naik turun. Melewati belokan ke destinasi wisata Gua Dayeuh Karawang, wisata geologi dan sekaligus dipercayai sebagai bagian dari sejarah kabupaten Karawang. Tahun 2016 pernah gowes ke gua ini, melewati dulu tambang batu kapur yang luas dan sedikit masuk hutan, disanalah lokasinya ada dihutan lindung negara. Sekarang dibelokan jalan masuknya sudah ada banner penunjuk destinasi wisata Gua Dayeuh.

Gowes mengikuti terus jalan raya, terlihat asap hitam pekat … dikiri kanan jalan ada pabrik traditional pengolahan batu kapur. Asam hitam pekat muncul dari beberapa pengolahan yang sedang beroperasi menggunakan bahan bakar karet dan ban bekas sehingga menimbulkan asap hitam pekat.

Setelah melewati pabrik2 beserta asap hitamnya, Kita melewati pabrik modern dan sangat besar pabrik semen Garuda, lalu melewati jembatan besi yang berkelok menyebrangi sungai Cibeet.

Perjalanan masih rolling … dan kita berbelok di daerah Ciptasari, keluar dari jalan Raya Pangkalan masuk kejalanan kampung.
Jalanan cor-an semen menurun melewati perumahan kampung kampung … keluar dari kampung, mulai memasuki kebun kebun penduduk dikanan kiri jalan, terus melewati berbagai aneka kebun penduduk dan jalan cor-an semen habis berubah menjadi jalan tanah merah … untung kering … kalau basah hujan pasti ribet. Kontur tanah mulai menanjak … didepan terlihat area hijau lebat. Ada sepasang suami istri petani di pinggir jalan … ngobrol ngobrol sebentar … katanya didalam hutan sedang ada banyak pemburu babi datang.

— mulai memasuki hutan

Ya kita akan memasuki hutan mungkin ini hutan lindung milik negara. Gowes mulai memasuki area hutan … kanan kiri jalan areanya lebat, untung gowes berdua sama si om … kalau ngga jiper juga, soalnya belum mengetahui bagaimana situasi kondisi di depan. Kita melewati beberapa mobil parkir termasuk beberapa mobil pickup dan angkot yang membawa besi besi kandang anjing …. para pemburu babi … dan tipikal para pemburu babi …. nanti kita akan melewati sebaran mobil mobil ini sampai ke depan … mereka akan parkir di beberapa titik. Ya betul sampai ke dalam hutan … mobil mobil parkir di beberapa titik … puluhan mobil mungkin totalnya +- 50 mobil … banyak banget pokoknya. Meskipun banyak mobil terparkir … tapi sepi, karena orangnya sedang masuk kedalam hutan berburu, paling ada satu dua yang menunggui mobil.

Terus kita gowes membelah hutan … hmm berapa jauh hutan ini … sebetulnya ini adalah jalan shortcut …. Daripada memutar kita potong jalan melalui hutan ini. Tidak ketemu pesepeda maupun anak motor cross … sesekali ketemu motor penduduk yang lewat.

Kemudian kita mulai menemukan 2 – 3 rumah dalam satu cluster …. sepertinya kita akan sampai ke ujung hutan dan tak lama kemudian kita menyebarang sungai … yang ada pilihannya … melalui jembatan bambu atau nyebur kesungai. Karena air sungainya sedang surut … kita nyebur ke sungai karena lebih praktis dan mudah dilalui.

Ketika musim penghujan … ketika air naik, maka otomatis pilih jembatan bambu, tapi jembatan bambu ini hanya bisa dilalaui pejalan kaki atau sepeda dengan cara diangkat / digotong, motor tidak bisa apalagi mobil.
Selepas sungai ini kita kembali ke area kebun kebun penduduk. Sepertinya sungai ini menjadi pembatas antara area hutan lindung dan area milik umum.

Jalanan kembali berubah cor-an semen dan memasuki perkampungan kecil. Selepas dari perkampungan ini, kita melewati kebun kebun penduduk sampai ketemu jalan cukup besar di daerah Kutamaneuh. Tapi selepas menyebrangi sungai sampai ketemu jalan besar … meskipun jalan cor-an semen mulus, lalu lintasnya sangat sepi … motor ketemu sekali dua kali, mobil bahkan tidak. Mungkin karena bisa dikatakan jalannya “buntu” juga penduduk desanya tidak banyak,

Melaju di jalan besar … meskipun jalan besar, lalu lintasnya sepi juga. Konturnya tetap rolling naik turun dan disatu titik belok kanan masuk kembali kejalanan desa. Jalanan membelah pesawahan yang luas dan kering karena kemarau. Gunung hijau runcing yang terlihat dari perjalanan sebelumnya sekarang semakin terlihat dekat.

— gunung Cengkik di background

Gunung runcing tersebut meskipun hijau lebat, tapi sepertinya itu adalah gunung batu, karena di beberapa bagian terlihat batu batu besar yang muncul keluar dari pepohonan yang lebat. Gunung tersebut terdiri dari 2 gunung …. gunung Cengkik dan gunung Sirnalanggeng.

Sepeda terus bergerak, jalanan kem bali menanjak tapi masih ramah, masih nyaman digowes. Kembali kita melintasi area kebun kebun dan terlihat sawah berundak dibawah lembah. Suasananya berbeda dari yang sebelum sebelumnya, di daerah ini banyak batu tersebar, dari batu ukuran sedang sampai batu yang besar, berarti kita sudah semakin mendekat ke destinasi utama.

Jalan cor-an semen habis, berubah menjadi jalan tanah kembali. Berdasarkan GPS destinasi seharusnya ada disini … disebelah kiri, dibawah lembah kecil. Dari atas diantara pohon pohon dan semak semak terlihat batu besar, nah itulah destinasinya.

Ada jalan setapak menurun +- 10 meteran, dan dibawah batu batu berbagai ukuran tersebar memenuhi area.
Disebelah kiri ada dua buah batu yang sangat sangat besar … bisa dibilang batu segede gaban … wooow.

Di batu yang paling besar dibagian bawahnya terdapat celah atau lubang alias liang yang menjadi gua, yang zaman dulunya menjadi sarang maung atau macan.

Sekarang sih kosong … lingkungan sekitarnya sudah berubah … banyak jadi ladang … tersingkirkan … mungkin macannya sudah pergi ke kota menjadi penyanyi dangdut … haha.
Sebagian area berbatu batu ini berubah menjadi ladang penduduk dan dibagian dilerengnya menjadi pesawahan.

Di tempat ini tidak ada orang lain, hanya kita berdua, tapi di ladang disebelah area ini ada petani yang sedang bekerja.

View dari salah satu besar yang dapat dipanjat, sangat menarik … melihat sebaran berbagai aneka dan komposisi batu.

Bentuk batu besar sangat unik .. keren … Instagenic untuk komposisi dan background foto. Apalagi area sekitarnya yang penuh berserakan berbagai bentuk batu menambah keunikan dan meningkatkan level kekerenan destinasi ini.

Seandainya di bersihkan semak semak sekitarnya dan ditata, pasti jadi tempat wisata yang unik dan menarik.

Awan sedikit mendung dan tidak terasa panas, kita rehat duduk di atas batu, minum kopi sambil mengemil snack2 yang dibawa … dan memandang lepas ke arah pesawahan yang berundak dan berbatu batu … unik.

Awan masih mendung, khawatir turun hujan ketika melintasi hutan lindung. Sudah jam 12 lebih … dan kita beranjak pulang.

Liang Maung
Tiket masuk gratis
Kutamaneuh, Kabupaten Karawang
Koordinat Googlemaps -6.50803, 107.26255

Minggu 29 Agustus 2021

10 komentar di “Sebuah Pencarian Sarang Macan — Liang Maung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s