Mengarungi lautan tambak menuju Muara Blacan

Diam dirumah saja bosen juga ya …
Pengen jalan jalan ….
Tapi ketempat yang aman …
yang sepi …

Yang terbayang adalah Muara Blacan …
Disana pasti sepi …

Sebetulnya pernah dua kali melewati tempat ini, yang pertama ketika gowes ke Pantai Bahagia Muaragembong dan yang terakhir tahun 2018 waktu ke pantai Mekar.

Ngga apa apa kesana lagi … seru juga.

Saat yang tepat untuk main kesana adalah sekarang pas musim kemarau …. Kalau musim hujan akan sangat sulit untuk gowes kesana …. banyak kubangan air dan di beberapa area tanahnya lembek …
Tapi di musim kemarau … tantangannya adalah panas menyengat dan debu debu …. Karena akan melewati jalanan 10 km-an yang gersang … melewati area tambak tambak ikan …. serasa benar benar dipanggang.

Pagi sebelum berangkat saya oleskan suncream … goweser juga tidak mau kulit kusam.
Hampir jam 7 sepeda berangkat meninggalkan rumah, dan tidak lama mulai menyusuri BKT (Banjir Kanal Timur) kearah hilir.

Sinar matahari pagi bersinar dengan hangat dan cerah …. Hmmmm … sudah terbayang nanti suasana disana.

Kemudian sepeda bergerak melintas area perumahan Harapan Indah …. Dibundaran patung Harapan Indah … sepi … biasanya banyak yang berolah raga … tapi dimasa pandemic ini area ini tidak dibuka untuk orang berolah raga.

Selepas Harapan Indah sepeda melewati perumahan besar yang lain …. Mutiara Gading City, ternyata yang sesepedaan di area perumahan ini lumayan banyak …. Saya hanya lewat diluarnya saja.

Gowes mengarah ke sasak CBL … sepanjang jalan menuju kesana … beberapa area yang dahulunya pesawahan sudah berubah menjadi perumahan perumahan … dari skala menengah sampai skala besar.

Sampai di area kali CBL (Cikarang Bekasi Laut), menyusuri sisi sungai dan kemudian berbelok menyebrang kali CBL melalui sasak CBL. Ketika melintas menyebrang jembatan … dan melihat ke arah sisi sungai … wahhh … kapalnya tidak ada …. dulu di area sisi ini bertahun tahun terdampar kapal boat yang cukup besar dan dibiarkan terlantar begitu saja … sekarang sudah tidak ada lagi …

Selepas jembatan ini sebetulnya bisa ambil jalan yang lebih pendek …. Masuk ke jalan berbatu batu ….tapi saya pilih tetap lewat jalan beraspal … tidak apa lebih jauh berputar menambah jarak 1 – 2.

Saya pilih jalan aspal … selain bisa lebih cepat … juga nanti tetap harus melalui jalanan berbatu batu …. jadi saya pilih skip yang bagian ini.

Terus ban berputar, jalanan mulai sepi … meskipun masih banyak rumah dikanan kiri jalan … tapi lalu lintasnya sepi, lalu sampailah di pertigaan … ambil belok kanan dan masuk jalanan berbatu batu.
Mulai dari sini sampai Muara Blacan jalannya seperti ini …. jalanan makadam … alias berbatu batu …. kata anak sepeda kekinian sih gravel …

Di awal jalanan berbatu batu masih ada pemukiman dan sekitar 500 meteran sudah berubah menjadi area pesawahan …. kanan kiri hamparan pesawahan luas terbentang. Petani petani yang sedang berkerja disawah … membuat suasananya sangat berbeda …. benar benar serasa jauh banget dari Jakarta.

area pesawahan di awal awal jalanan berbartu batu

Sepeda terus bergerak ajrut ajrutan dijalan berbatu batu ini … sebisa mungkin melalui jalanan sisi, jalur tanah yang lumayan rata. Tak lama kemudian terlihat dua tiang tinggi menjulang yang mengeluarkan kobaran api …ya itulah tambang gas milik perusahaan pelat merah.

Diarea Babelan ini tersebar sebar tambang gas di beberapa titik … sepertinya juga jalan gravel yang saya lalui adalah jalur pipa gas yang menghubungkan titik titik sumur ke stasiun pengumpulan gas.
Dijalanan kadang terlihat pipa gas keluar dari permukaan dan kadang bertemu motor petugas security yang berlalu lalang … mungkin sedang melakukan inspeksi.

Jalanan ini meski bisa dikatakan sepi … tapi tidak akan kesepian … motor yang sering dijumpai lalu lalang disini umumnya adalah motor para pemancing …. mereka bergerak kearah tambak tambak ikan atau ke Muara Blacan.

tipikal jalanan menuju Muara Blacan – berbatu batu

Mobil jarang sekali … selama perjalanan saya pp ke Muara Blacan ini, tidak bertemu mobil yang bergerak …. mobil mobil yang parkir sih ada. Sepeda … sekali ketemu 3 pesepeda bergerak dari arah berlawanan. 3 X dengan kali ini saya melalui jalanan ini … pertama ke pantai Bahagia Muaragembong, kedua ke Pantai Mekar dan ketiga ke Muara Blacan ini, perjalanan yang kedua sebelumnya tidak ketemu pesepeda sama sekali. Pertama kali melewati jalanan ini tahun 2017 waktu gowes ke pantai Bahagia Muaragembong …. dan jalannya lebih sepi dibandingkan sekarang … kalau sekarang agak sering ketemu pemotor dijalan. Ke pantai Bahagia dan pantai Mekar akan melewati Muara Blacan, tapi kali ini hanya cukup sampai Muara Blacan saja.

hamparan rawa rawa

Sepeda terus bergetar getar di jalanan gravel … dan suasana kanan kiri berubah menjadi area rawa rawa … dan kemudian berubah menjadi tambak tambak ikan …. Sejauh mata memandang adalah tambak ikan bandeng.

Diperjalanan akan melewati lagi pemukiman penduduk kecil … dan beberapa warung disisi jalan …. Warung warung ini sepertinya dijadikan basecamp para pemancing …. Disana umumnya banyak motor motor terparkir dan kadang suka juga ada mobil mobil … tapi orangnya tidak ada …. Sepertinya mereka menitipkan kendaraan disana dan kemudian berjalan kaki masuk ke dalam tambak tambak ikan.

Sengatan sinar matahari dan debu menjadi teman perjalanan …
Di depan terlihat ada jembatan besi putih …. Destinasi Muara Blacan tidak jauh lagi.

di area jembatan kali Nawan

Sungai yang cukup besar ini ada yang menyebutnya sungai Larangan ada yang juga yang menyebut sungai Keramat sedangkan nama jembatannya disebut jembatan kali Nawan … jadi nama sungainya apa ….

Disisi kanan kiri jembatan ini ada warung dan motor mobil yang terparkir …. Mereka adalah pemancing, dari sini sepertinya juga bisa sewa perahu untuk mancing kearah laut. Beberapa perahu terparkir di pinggir sungai.

Berhenti sejenak disini, mengamati area sekitar dari atas jembatan, hamparan tambak terbentang luas disekelilingnya. Tambak tambak besar, gersang … panas, sangat unik dan berbeda dari pengalaman saya pergi ke tempat tempat lain di sekitaran Jabodetabek.

Perjalanan kembali berlanjut …. Tidak lama lagi saya akan sampai destinasi.
Landscape mulai berubah … sisi jalan ke arah laut mulai hijau hijau … ada penanaman mangrove dan pohon lainnya yang memang biasa tumbuh di area hutan bakau. Terakhir tahun 2018 lewat daerah sini masih area tambak …. Sekarang sudah mulai berubah … sudah ditanami bakau lagi …. Area tambak berhektaran ini dahulunya adalah hutan bakau yang beralih fungsi jadi tambak ikan. Akibatnya terjadi infiltrasi air laut memasuki area daratan … dan pesisir pantai menghilang.

Area seberang jalan … sisi jalan kearah daratan masih tambak tambak ikan. Ya mungkin butuh perubahan bertahap, karena tambak tambak ikan ini adalah sumber perekonomian warga.
Suasana sisi hijau hijau tidak tahu kenapa tapi membuat perasaan lebih bahagia … terus saja sepeda menyusuri sisi hijau yang semakin panjang dan sampailah di satu titik …. Ya titik ini adalah area yang paling hijau dalam perjalanan. Dari dulu juga area ini sudah hijau, karena menjadi proyek csr suatu perusahaan swasta besar, penanaman kembali bakau. Kanan kirinya sudah dipenuhi tanaman bakau dan sepertinya area penghijauannya sudah semakin meluas. Kondisi hijau hijau kembali membuat aneka satwa kembali datang …. kicauan aneka suara burung jadi sering terdengar … kadang juga burung burung tersebut terbang melintas dengan indahnya …. membuat alam kembali meriah.

area yang sudah ditanami pohon mangrove kembali

Dari area teduh ini Muara Blacan sudah sangat dekat … ada di depan sana.
Roda sepeda berputar melintasi area hijau hutan bakau, melewati area warung di sisi hutan bakau yang cukup banyak motor terparkir disana dan …. didepan terlihat jembatan besi putih lagi …. ya …. inilah Muara Blacan.

Warung ada di sisi kearah daratan dan selepas warung kembali menjadi area tambak tambak ikan. Tapi sisi kearah laut tetap menjadi area hijau … area hutan bakau.

Dikanan kiri jembatan ada warung warung … dan kendaraan yang terparkir disini – motor mobil – jauh lebih banyak dibandingkan di jembatan kali Nawan. Ya karena Muara Blacan adalah area favorit pemancing. Dari sini pemancing dapat menyewa perahu untuk mancing ke laut .. ke bagan bagan atau lapak pancing di lautan.

di jembatan Muara Blacan

Muara Blacan terkenal dengan ikan kakap putih dan baramundi. Jika tidak bawa alat pancing, disini tersedia juga penyewaan alat pancing dan umpanya juga bisa beli disini … udang, ikan laut yang ditarget menyenangi udang.

Diarea “pelabuhan” Muara Blacan selain kapal perahu kecil juga berlabuh kapal kapal yang lebih besar … di tahun 2018 waktu kesini bahkan ada sejenis perahu boat modern berlabuh. Tapi saat ini yang berlabuh hanya kapal kayu ukuran sedang.

view ke arah laut

Muara Blacan sudah ditetapkan oleh pemda Bekasi sebagai destinasi wisata dan memang butuh pengelolaan lebih jauh supaya destinasi ini terkenal dan menjadi tujuan para wisatawan .. tidak hanya pemancing.

Tidak jauh dari sini … di area tengah tengah tambak ikan ada masjid Al Alam Blacan, masjid yang menjadi destinasi wisata religi. Tidak ada yang tahu kapan masjid itu dibuat … tapi konon kabarnya sudah sangat sangat lama … bahkan kabarnya disana ditemukan koin kuningan yang diperkirakan dari tahun 1360.

Untuk mencapai masjid Al Alam bisa melalui daratan atau melalui sungai dengan menyewa perahu dari Muara Blacan dan bergerak kearah sisi hulu sungai. Dan yang paling gampang untuk mencapai kesana menurut saya adalah dengan naik perahu. Saya pernah ke masjid tersebut via daratan dengan bersepeda melalui pematang pematang tambak ikan …. butuh perjuangan untuk sampai kesana. Jika naik motor ke masjid ini – jaraknya lumayan jauh – butuh skill dan nyali untuk melewati pematang pematang tambak ini. Tapi petani tambak … dengan santainya … bahkan berboncengan melewati pematang pematang ini dengan kecepatan cukup laju, membuat saya tertawa tawa sendiri … saya saja menuntun sepeda … ehhh mereka malah ngegas naik motor … apakah mereka sebenarnya pemain sirkus …

Jika ingin lanjut ke pantai Bahagia dan pantai Mekar maka perjalanan terus dilanjutkan … butuh perjuangan lagi untuk mencapai pantai pantai tersebut. Sebetulnya untuk mencapai pantai pantai tersebut dengan relatif lebih mudah ada jalan utama yang bisa dilalui mobil cukup mudah, tidak melalui Muara Blacan, yaitu dengan menyusuri jalan di sisi sungai Citarum.

Saya cukup sampai Muara Blacan ini, mencari tempat rehat untuk mengaso …. berusaha sebisa mungkin menghidari kerumunan … tidak mampir ke warung, bawa sendiri air mimum yang banyak dan snack snack. Saya cari spot yang agak rindang tepat disisi tambak ikan. Meskipun daerah panas gersang tapi kalau berteduh dibawah pohon tetap terasa sejuk …. Sambil menikmati semilir angin … buka perbekalan, cemal cemil snack dan mengamati suasana Muara Blacan, truk pengepul ikan tambak memuat ikan bandeng yang dipanen petani tambak, perahu yang hilir mudik di sungai, motor motor pemancing yang lewat membawa peralatan pancing, warga lokal yang lewat mengendarai motor …. tak terasa hari semakin siang … jam 11-an … badanpun telah terasa segar.

Saatnya pulang, kembali mengarungi lautan tambak ikan dengan disirami sinar matahari yang semakin garang … tidak masalah … karena hati riang gembira.

Muara Blacan
Pantai Harapanjaya, Muara Gembong, Bekasi
Koordinat gogglemaps -6.024060, 107.022673

Minggu 18 Juli 2021

4 komentar di “Mengarungi lautan tambak menuju Muara Blacan

  1. Alah bisa karena biasa, baca pengalaman mas orang motoran di tambak saya jadi teringat kalo di kampung-kampung orang biasa aja naik motor bawa rumput banyak lewat jembatan gantung yang goyang2 nggak jelas sementara sungai di bawahnya tinggi banget wkwkw …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s