Cerita Perjalanan Biji Kopi – Bukit Paniisan

— Perjalanan mendekati Bukit Paniisan

Area perkebunan kopi di Bogor ada di beberapa daerah, salah satunya ada di Babakan Madang. Desa penghasil kopi

yang cukup terkenal disana adalah Desa Cisadon terutama kopi luwak yang dihasilkan oleh luwak liar.

Penasaran ingin kesana sekalian membeli biji kopinya, tapi tidak ke desa Cisadon …. ke desa tetangganya … sekalian melihat view di atas gunung Pancar …. ke Bukit Paniisan.

Riding di minggu pagi, sepeda mengarah ke tikum …. +- 20 km-an sampailah di tikum Cibubur. Menanti sejenak dan si om muncul … ngobrol ngobrol sejenak dan cuss … ban sepeda kembali berputar. Melewati Cimanggis, Citeureup … melintas gerbang Sentul Sirkuit … terus sepeda di gowes dan belok kiri di sisi Hotel Harris Sentul.

Dan tak lama sampai di perempatan Jungle Land, kita lurus terus dan kemudian berbelok kearah gunung Pancar. Tanjakan tanjakan awal ini ternyata sangat terasa jika menggunakan sepeda 1 x 11 drivetrain, gigi depan 38T dan belakang mentok di 42T … bikin napas tersengal sengal … megap megapan pollll.

Berhenti 2 x untuk atur napas … dan perlahan lahan … sampai di spot wisata Batu Kemun sebelum gerbang masuk gunung Pancar …. istirahat sejenak. Lanjut lagi memasuki area gerbang dan diharuskan bayar tiket Rp. 10 ribu persepeda. Beberapa kali wara wiri masuk melalui gerbang ini …. Kadang diharuskan bayar dan kadang gratis …. tidak tahu … apakah peraturannya berubah ubah atau tergantung mood si penjaga gerbang.

Beres bayar kita lanjut terus merayap …. nanjak ke atas melewati beberapa spot wisata selfie yang sudah cukup ramai kendaraan yang parkir, roda dua dan roda empat. Area hutan pinus ini memang cocok untuk jadi tempat wisata. Kita ketemu beberapa rombongan pesepeda yang juga mengarah ke atas.

Setelah melewati Sebex, sampailah di gerbang pemandian air panas gunung Pancar. Tidak ada pesepeda disini … rehat sejenak … atur napas dan tenaga karena di depan tanjakan cukup terjal menghadang. Dengan mengerahkan segenap tenaga kita … ehhh maksudnya saya … perlahan tapi hampir ngga pasti … akhirnya sampai juga ke atas … kalau si om sih …. dengan santainya tanjakan ini dilibas.

— Rehat sejenak di Pintu Masuk ke Pemandian Air Panas Gunung Pancar

Setelah melewati lapangan, sampailah kita di area “puncak” jalan aspal ini, selebihnya jalanan akan menurun …. Tapi kita berhenti disini, di area banyak kendaraan parkir … motor dan mobil … bahkan truk dan mobil pickup. Umumnya mereka adalah peziarah yang akan mengunjungi makam keramat yang ada di area ini.

Ada papan petunjuk di area parkiran ini …. Kita ambil jalan setapak yang ditutup portal dan mengarah ke atas, kita bergerak mengikuti panduan GPS yang telah di set sebelumnya. Ketika masuk ngolong ke bawah portal …. “ mau kemana pak ? “ Tanya warga lokal yang ada disana …. “ mau ke bukit Paniisan pak “ ….. “ wah … terjal pak … susah kesana bawa sepeda “ kata warga lokal ….. “ hmmm …. Ngga apa apa pak …. Kita angkut angkut sebisanya “ …. si warga lokal hanya cecengesan … senyum kasihan ….

Saya juga tidak tahu …. Bagaimana kondisi jalan di depan … seberapa parah jalannya … dan seberapa terjal jalannya. Ngga apa2lah jalan berdua sama si om …. kalau ada apa apa bisa saling bantu.

Setahu saya … track ini adalah jalur hiking dan pelari lintas alam … yang menjadikan gunung ini area permainannya. Kadang juga dilewati komunitas motor trail …. pesepeda …. ada … tapi sangat jarang yang masuk masuk ke daerah sini …

Selepas portal … jalan setapak berbatu dan mulai menanjak … sepeda sudah tidak bisa dinaiki .. kita dorong dorong …. Kita bergerak menyusuri tembok di sebelah kiri dan lereng gunung di sebelah kanan yang lebat oleh pepohonan dan batu batu besar segede gaban yang berserakan.

Suara binatang …. burung dan serangga nyaring terdengar ….
Sepeda di dorong dorong terus …. melewati jalanan setapak berbatu batu besar … hanya di beberapa area yang gowesable … selebihnya … dorong

Sampai di satu titik …. kita berada di posisi dimana sebelah kanan lereng gunung dan sebelah kiri adalah jurang dan terbentang lembah hijau yang luas …. kerennn.

Jalanan setapak ini kemudian menyatu dengan jalan tanah lain yang agak sedikit besar …. sekelompok komunitas motor trail lewat dengan suara mesin yang meraung meraung menanjak ke atas melalui jalanan berbatu batu. Kita terus bergerak menanjak tertatih tatih … dan sampailah di satu warung …. Sepertinya tempat ini dijadikan spot area motor trail untuk rehat dan bermain main dengan tanjakan terjal tanah di dekat warung ini, untuk mengetes nyali dan berlatih skill.

Kita berbelok disisi warung mengambil jalan setapak tanah yang mendaki melewati kebun kebun penduduk. Istirahat sejenak … atur napas …. didepan tanjakan terjal menghadang. Ada petani yang sedang bekerja diladang …. tanamannya apa ya ini … bentuknya saya sepertinya pernah lihat … “bu ini tanaman apa ? “ tanya saya ke ibu yang sedang berladang …. ternyata ini adalah tanaman kucay, dan dia jual biasanya 10 ribu per 1 kg, beres ngobrol ngobrol dan napas sudah teratur … kembali hurghhhh dorong .. terus dorong … terus dorong ke atas …. Istirahat sejenak di titik landai … sambil memandangi lembah …. mengobrol dengan pemuda desa yang akan pergi keladang … katanya kalau hari sabtu banyak komunitas hiking dan trail running lewat, tapi kalau minggu hanya sedikit.

— dorong dorong melewati kebun kucay penduduk

Perjalanan dilanjutkan kembali …. ketika sedang dorong dorong ke atas termehek mehek … tiba tiba sepeda jadi agak ringan didorong …. ehhh …. ternyata si pemuda desa itu ikutan mendorong dibelakang …. hehehe …. kasihan kali dia lihat saya … keringat deras mengucur … napas tersengal sengal … menghalangi jalan dia menanjak pula dijalan setapak ini … akhirnya dia bantu dorong …. Katanya dia menuju ke ladang cengkeh di bukit pertama …. kebetulan … hehehe …. akhirnya.

Sepeda dia dorong terus … saya jalan melenggang …. tanjakannya benar2 terjal …. Si pemuda desa yang biasa jalan kaki wara wiri disini, juga harus istirahat, tidak kuat untuk dorong terus menerus. Ketemu lagi rombongan motor trail lewat searah … menanjak susah payah ke atas …. hehehe … motor trail saja susah … harus saling bantu untuk dorong dorong …

Melewati semacam “portal” ada yang jaga … serta kotak uang untuk bayar seikhlasnya … kabarnya dana yang terkumpul digunakan untuk merawat jalur …. Memang jalur ini terlihat seperti ada perawatan … tapi karena motor trail yang lewat … bagian tengahnya jadi tergerus habis.

Ditanjakan ini kita bertemu dengan satu keluarga chinesse, ayah ibu dan 3 anaknya yang masih kecil sedang hiking ke atas …. kerennn, dengan gear lengkap dan ternyata mereka sudah biasa berpetualang bersama … mereka naik dari arah km nol.

— sepeda dibantu didorong di tanjakan terjal oleh petani lokal dan dibelakang adalah keluarga Hiker

Kita beristirahat bersama di bukit pertama … disini ada rumah panggung kayu … si pemuda hanya bisa bantu dorong sampai disini … karena dia akan bekerja di ladangnya. Dari rumah kayu ini kita melihat bentangan lembah hijau dan bukit bukit gunung hijau yang indah. Si pemuda desa menunjuk satu bukit dikejauhan dan terlihat ada bangunan yang dikelilingi pepohonan hijau …. “ itu bukit Paniisan pak …. warung pak haji Jajang ada disana “ ….. walahhhh … terlihat masih jauh dan menanjak …. ckckckck …. kita pasrah …. kepalang negro sudah sampai disini … kita akan tetap lanjut.

— pondok rehat di bukit pertama

Kita juga bertemu dengan sekelompok hiking yang turun ke bawah dan ikut beristirahat disini, mereka adalah sekelompok hikers dari satu alumni sekelohan STAN, sambil reunian sambil berpetualang … seru.

Rehat, menikmati pemandangan dan ngobrol2 dengan hikers …. Lalu kita melanjutkan kembali perjalanan … menanjak dan menanjak …. dorong sorong sepeda …. Selepas bukit satu …. Tidak ada lagi ladang penduduk …. kita memasuki hutan …. Seringnya kita mendaki di sisi lereng gunung, salah satu sisinya adalah jurang …. tapi kadang kita berada di punggungan gunung …. alias kanan kirinya jurang … hiyyyy ….

Disatu titik kita ketemu sepasang hiker yang sedang turun …. dan heran melihat saya menuntun nuntun sepeda …. Selama kita ketemu hikers di rute ini, mereka semuanya bertanya dengan heran …. Karena memang rute ini adalah rute untuk hiking dan trail running …. jarang pesepeda main ke daerah sini … karena rutenya bukan untuk sesepedahan …. nongowesable …

“ sendirian om ??? “ … tanyanya dengan muka heran, kaget dan sedikit takjub ….. pada saat itu posisinya saya sedang sendirian tuntun sepeda di daerah antah berantah …. sedangkan si om tertinggal di belakang.

Akhirnya saya mengerti kenapa mereka kaget dan takjub ….. karena rute di depan …. Selain terus mendaki terjal dan sulit … juga di beberapa titik berlumpur …. menambah keseruan perjalanan …. peluh dan napas tersengal sengal adalah teman perjalanan.

— Pemandangan yang indah menemani perjalanan

Disatu spot, kita melihat di bawah lembah di kejauhan ada air terjun besar …. Sepertinya itu adalah curug Cibingbing, so amazing ….

Setelah satu pendakian terjal sambil dorong dan angkat angkat sepeda …. Sampailah di punggungan gunung … kanan kiri adalah jurang terjal dan lembah hijau lebat terbentang. Subhanallah indah sekali …..Di titik ini ada warung .. dan terlihat masih baru dibuat … menjual aneka makanan ringan dan minuman …. cocok untuk rehat sambil menikmati pemandangan.

— melewati warung rehat di atas punggungan gunung

Tapi kita tidak stop lama disini … hanya berhenti rehat sejenak sambil menikmati pemandangan dan perjalanan dilanjutkan. Disatu titik Ketemu lagi sama keluarga hiker bersama 3 anak kecilnya yang sebelumnya ketemu dibawah, mereka sedang rehat.

— perjuangan tiada henti menuju ke bukit Paniisan

Meneruskan perjalanan berbarengan mereka …. melihat saya berjuang dorong dorong dan angkat sepeda … jadinya saya yang jadi candaan adik kecil …. “ sabar ya om …. “ … “ om pasti bisa …” …. wehhhh ….
Ayahnya tipikal khas pendaki, yang tidak mau bikin drop semangat ….. “ sebentar lagi kog om …. setelah bukit ini “ …. Perasaan dari tadi bilang sebentar lagi .. tapi ngga sampe sampe …. hehehe

Karena banyak berhenti atur napas …. Akhirnya mereka jalan lebih dulu meninggalkan kita lagi.
And finally … kita sampai juga di Bukit Paniisan … di warung pak Haji Jajang dan disana ada hamparan biji kopi yang sedang dijemur … yeayyyy …. Allhamdulillah.

— inilah Bukit Paniisan yang begitu tenang dan dingin
— hamparan biji kopi yang dijemur di Bukit Paniisan

Terpampang papan ketinggian bukit Paniisan di 846 mdpl …. weleh welehhhh …. pantesan dari tadi mendaki nanjak mulu ….. FYI ketinggian area Sebex atau Pemandian Air Panas Gunung Pancar adalah di 514 mdpl.
Di warung pak Haji Jajang selain ada keluarga hiker tadi juga ada sekelompok hikers lain …. juga ada beberapa anak kecil di kelompok ini … hebat … kecil kecil sudah di ajak bapak ibunya hiking ketempat tempat indah seperti ini.

— warung pak Haji Jajang destinasi utama Hikers dan Trail Runners
— pilihan rute untuk menuju Bukit Paniisan

Kita rehat di warung, ngeteh, makan mie, ngobrol ngobrol dengan hikers …. Keluarga hiker tadi ternyata akan melanjutkan perjalanan menuju desa Cisadon dan terus sampai villa Prabowo, katanya dibutuhkan waktu +- 2 jam untuk sampai kesana. Dari sana tergantung kondisi … akan naik angkutan umum atau jalan kaki lewat dalam via Leuwi Pangaduan dan sampai ke parkiran mobilnya di area Mesjid di bundaran Sentul Nirwana …. weleh welehhh … saya saya geleng geleng kepala takjub …

— petualangan seru untuk mencapai 846 mdpl

Tidak ada pesepeda di sini, ngobrol dengan pak Haji Jajang memang tempat ini jadi spot utama para pelari alias trail running …. Di warung terpampang rute untuk mencapai ke titik ini …. ada banyak jalurnya ternyata. Pesepeda ada yang main kesini … tapi jarang …. di warung ini juga bisa dijadikan tempat menginap yang layak, toilet bersih dengan air mengalir tersedia …. tidur dibale bale … bahkan jika datang malam kesini bisa telpon dulu untuk booking tempat … dan sekalian ambil kunci … karena pak Jajang tidak tinggal disini kalau malam. Bahkan belum lama ini ada seorang ibu dengan dua anaknya sampai kesini waktu maghrib dan lanjut menginap disini …. wahhhh … gile hebat benerrr …. ckckck.
Pak Jajang banyak cerita mengenai pelari gunung …. Ternyata tempat ini dipopularkan oleh komunitas pelari dari Depok, dan akhirnya terkenal dikalangan komunitas hikers dan trail runners ….

Cerita kemudian bergeser mengenai kopi …. Didaerah Sukamakmur memang banyak petani kopi, umumnya kopi robusta, desa terkenal penghasil kopi adalah Cisadon. Biasanya pak Jajang jual kopi bubuk yang berasal dari kebunnya dan dikasih merek Kopi bukit Paniisan, tapi saat ini stock-nya sedang habis.

Saya mencari biji kopi bukan bubuk kopi, pak haji Jajang memiliki stock biji kopi mentah atau green bean … biji kopi yang belum di roosting … tidak masalah bagi saya. Saya beli biji kopi mentah 1 kg … harganya 30 ribu … kondisi biji kopinya nanti mesti dipilah pilah lagi sebelum di roosting jika ingin mendapatkan kualitas kopi yang bagus.

Beres rehat dan ngobrol2 …. Kita beranjak pergi, rute pulang mengambil rute lain supaya lebih seru lagi … melihat hal baru lagi. Kita ambil rute ke arah Wangun, katanya nanti akan muncul di jalan raya sebelum Pendopo Ciherang, berdasarkan papan petunjuk jaraknya 2 km …. relatif dekat sih …. tapi bagaimana jalurnya …

Jalurnya menurun …. pertama tama sih masih bisa di gowes asyik sambil menurun … hanya sekitar 50 meteran …. dan selebihnya atau 90% sampai perkampungan tidak bisa di gowes …. menurun curam dengan jalurnya yang tidak rata …. jika pakai sepeda jenis downhill atau minimal AM serta memiliki skill dan nyali yang mumpuni layak untuk dicoba …. Karena kalau tidak hati hati dan salah salah handling bisa nyemplung ke dalam jurang.

Rute kebawah 99% menurun terus dan bisa dikatakan hampir sepanjang jalan menurun kita tuntun terus …. di beberapa titik turunannya sangat curam …. Jari kaki saja terasa sakit menahan beban terus menerus ketika menurun.

Sepanjang perjalalan kita dihibur dengan pemandangan alam yang indah, lembah lembah yang keren …. melewati hutan pohon damar yang sedang disadap getahnya. Melewati 2 titik warung di dalam hutan yang digunakan oleh para hikers beristirahat ketika mendaki ke atas. Salah satu kelompok hiker yang kita temui di warung Bukit Paniisan, mereka mulai mendaki melalui rute Wangun ini.

Setelah menurun cukup lama, kita melihat atap rumah dibawah lembah di sela sela pepohonan …. horeee sudah dekat ke ujung perkampungan … dan tak lama kemudian kita sampai di perkampungan … ketemu anak kampung disana … Tanya “ berapa lama untuk sampai jalan raya ?” …. Kalau jalan kaki katanya ½ jam-an …. untung kita naik sepeda …. Gowes terus menurun ke bawah di gang sempit perumahan kampung yang berbelok belok, meskipun kadang turunannya curam tapi masih bisa di handle karena jalannya disemen.

Dan muncullah kita di jalan raya Babakan Madang …. diseberang masjid. Ternyata di jalan mobil pada “parkir” alias macet ….. tidak ada mobil yang lewat dari arah Pendopo Ciherang, sedangkan mobil yang mengarah ke Ciherang berhenti …. Dijalanan nanjak sempit berkelok kelok, lumayan panjang …. Kelihatannya sudah cukup lama … karena ada yang sudah keluar dari mobil dan menunggu di warung … bahkan ada yang sedang kebingunan karena bensinnya hampir habis … welehhh.

Sepertinya seminggu setelah lebaran masih atau bahkan lebih banyak orang yang pergi berwisata. Ketika jalan pulang menurun menuju Sentul, dibeberapa spot wisata seperti di Leuwi Kunten terjadi kemacetan …. Setelah melalui lika liku perjalanan akhirnya kita tiba dengan aman dan selamat di rumah masing masing.

Allhamdulillah … akhirnya berhasil mendapatkan biji kopi robusta dari daerah Sukamakmur.
Tinggal di roasting … dan … dinikmati … secangkir kopi asli espresso dari Sukamakmur.

Bukit Paniisan
Karang Tengah, Kec. Babakan Madang, Bogor
Koordinat googlemaps -6.606800, 106.926067

Minggu 23 Mei 2021

10 komentar di “Cerita Perjalanan Biji Kopi – Bukit Paniisan

  1. Aduh lihat foto jalannya aja udah geleng – geleng, itu jalan tanah nanjak, jalan kaki aja repot apalagi sambil dorong sepeda, dua jempoll buat si om 😁👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s