Pencarian Sawah Berundak Keren dekat Jakarta – Sawah Weninggalih

Beberapa hari ini tiap hari turun hujan, maklum lagi puncak2nya musim hujan.

Tapi tetep ingin jalan2 … di musim hujan … pesawahan akan terlihat menarik … hamparan kuning atau hijau akan terbentang … syahdu dan indah.

Kepengennya melihat pesawahan terasiring yang terhampar luas … biar serasa di Ubud … hahaha.

Sebelumnya sudah lama mencari cari sawah terasiring dekat dekat Jakarta. Ada daerah yang disebut Little Ubud di daerah Cileungsi dekat perumahan Harvest …

Tapi saya ingin yang terasiringnya lebih wah … Setelah cari sana sini di googlemaps, sepertinya daerah antara Cibarusah – Jonggol memiliki sawah berkarakteristik tersebut, dan dibuatkanlah rute kesana … Pokoknya muter2 dari satu pesawahan ke pesawahan lainnya. Rutenya melewati jembatan gantung Ridhogalih dan terus kluyuran ke pesawahan … berputar, sekitar 120 km-an untuk balik lagi ke rumah.

Finally rute ini terpakai … yeayyy.

Minggu pagi awan gelap sepertinya hujan akan turun … malamnya turun hujan deras disertai petir guntur saling sahut sahutan … paginya sepertinya mau hujan lagi… tapi ke arah Cileungsi langit terlihat lebih cerah. Galau untuk berangkat …. jam 7 kurang akhirnya diputuskan berangkat … kabari si om waktu tikum diundur.

Jalanan basah, saat melintas Kalimalang .. sepi … apalagi yang sesepedahan hanya ketemu 1 – 2.

Sampai di Pekayon Bekasi turun hujan … berteduh dulu … Pakai jaket hujan, ketika hujan rintik saya melanjutkan perjalanan.

Di Kemang hujan berhenti, gerah .. lepas jaket di Narogong. Terus melaju ditemani awan mendung, sampai Metland hujan rintik turun.

Di Metland yang biasanya ramai orang berolahraga … sekarang sepi … yang sesepedahan jarang banget.

Duduk sendirian ditrotoar …. seperti anak hilang … menanti ditemani rintik rintik kecil.
Tak lama si om muncul dan perjalanan dilanjutkan.

Baru melewati Mekarsari hujan turun …. berhenti menepi ….
Hujan sedikit mereda, pakai jaket hujan … lanjutkan.

Hujan lagi … menepi lagi …
3x kejadian seperti ini.

Ketika perjalanan kembali berlanjut …. jam 10-an kurang … langit menjadi cerah … matahari cukup menyengat terasa di kulit …. Tapi suasana awan ini berubah ubah … moody … laksana suasana hati … bahkan kadang panas terik tapi hujan rintik turun.

Gowesan naik turun mengikuti kontur jalan raya Jonggol Cariu … gowes santai aja …. mengikuti mood suasana langit.

Disatu titik kita keluar dari jalan raya, masuk jalanan kampung. Dan tidak jauh dari belokan suasana alam langsung berubah …. bentangan sawah menguning di kanan kiri jalan. Suasana sangat asyikkk … sepi … angin bertiup menerpa dedaunan menyanyikan lagu alam yang sangat syahdu, kita diam sejenak menikmati sambil membuka cemilan. Dikejauhan terlihat pesawahan berundak …. Keren.

Roda kembali berputar melewati perkampungan perkampungan kecil dan juga pesawahan, kemudian kita melewati suatu area … di daerah sini ada goa Sancang Rawa Bogo, yang konon kabarnya peninggalan prasejarah … kita pernah main ke goa itu …. dan sepertinya destinasi ini tidak popular … sampai sekarang sepi sepi saja.

Melewati satu perkampungan kecil lagi, berbelok di ujung kampung …. dan wowwww … ada lembah di depan. Kita berada dititik atas dan didepan jalanan menurun … dan … terbentang pesawahan …. Pesawahan yang berundak …. ini keren bener .. bener bener keren …. Subhanallah indahnya.

Pesawahan sudah hampir menguning …. bahkan sebagian ada yang sudah panen. Pesawahan berundak ini terbentang luas … instragramable …. apalagi jalanannya sepi … bisa puas foto foto kece disini. Dari beberapa spot pesawahan yang pernah saya kunjungi … yang lokasi tidak jauh dari Jakarta …. spot sawah ini menurut saya yang paling keren.

pesawahan Weninggalih Jonggol

Lokasi pesawahan ini berada di daerah Jonggol tepatnya di desa Weninggalih kabupaten Bogor yang posisinya sebetulnya berdekatan dengan batas kabupaten Bekasi di daerah Cibarusah.

Suasananya masih asri khas pedesaan … belum ada warung warung apalagi wahana spot selfie …. yang ada hanya petani yang bekerja disawah. Kita berpindah pindah tempat … benar benar menikmati suasana, mengagumi keindahan ini.

Tak bosan rasanya menikmati suasana ini …. ingin berlama lama, tapi ini baru 40% dari perjalanan ke pesawahan pesawahan lainnya, mungkin ada lagi sawah berundak yang lebih keren dari ini.

Kembali roda sepeda menggelinding melewati kampung kampung kecil … pesawahan pesawahan yang terbentang luas, beberapa pesawahan terasiring …. meskipun bagus tapi belum mengalahkan yang tadi keindahannya.

banyak pesawahan terasiring di daerah sini

Selama blusukan di kampung dan sawah sawah ini … tidak ketemu pegowes … mungkin bukan jalur utama untuk pergowesan. Kita gowes santai benar benar menikmati suasana …. apalagi jalanannya sepi … jadi gowes beriringan sambil ngobrolpun tidak masalah.

Kontur alamnya naik turun … meskipun bukan tanjakan atau turunan yang panjang, tapi kadang tanjakannya pendek dan curam … lumayanlah untuk mengeraskan otot betis dan paha.

Sampai di satu titik kita harus berbelok masuk jalanan tanah …. terlihat becek … hmmm … kita putuskan tetap mengikuti jalan beton, karena sepertinya mengarah sama meskipun agak melipir. Menyusuri jalanan beton dengan kanan kiri kebon kebon, sampai diperkampungan kecil dan jalanan habis sudah …. di depan adalah gamparan bukit rumput … rumbut basah.

Kita lanjutkan mengarungi bukit rumput ini dan berakhir di hutan sengon kecil …. berdasarkan arah gps kita harus mengambil jalanan setapak … jalanan setapak tanah …. sepeda masuk kesana dan makin lama jalur semakin tidak jelas bahkan bisa dikatan hilang.

Untuk memastikan kondisi didepan, sepeda ditinggal dan saya jalan kaki mencari jalur …. setelah berjalan cukup jauh … dan ya confirmed … fixed … memang jalur menghilang di semak belukar dan banyak area bertanah lembek yang bakalan sulit dilalui.

Kita berputar arah, kembali ke jalur seharusnya yang kita ambil …. jalan tanah yang cukup lebar bisa dilalui mobil. Awal awalnya masih bisa digowes sambil menghindari kubangan dan jalan jalan yang becek beulok, tapi setelah berjalan kurang lebih 500 meteran … jalanan semakin hancur …. walahhhh …. Setelah berunding dan bermufakat akhirnya kita putuskan untuk berbalik arah kembali.

Sampai dijalanan cor-an semen, ngobrol dengan warga lokal … memang jika ingin melalui jalanan yang “beradab” kita harus berputar cukup jauh, buka ponsel dan check check di google maps … ya benar .. berputar jauh … check check lagi googlemaps … sepertinya … ya sepertinya ada jalur shortcut … melalui satu perkampungan dan hilang jalurnya dipesawahan dan disebrangnya ada perkampungan lagi, saya yakin meskipun di google maps tidak ada jalur … tapi disana ada jalurnya.

Sepeda bergerak mengikuti arah gps garmin menuju desa tersebut, melewati pesawahan, nyebrang jembatan kayu, melewati pesawahan lagi … ohhh oiya … jika melewati jalan jalan diperkampungan area sini …. Sepertinya agak ribet jika bawa mobil …. Karena jalanan dijadikan tempat untuk menjemur padi …. dan banyak sekali, kalau sepeda atau motor mudah melipir lewat sisinya, tapi kalau mobil ribet deh. Memang selama kita gogowesan diarea ini … benar benar sangat jarang jarang sekali ketemu mobil lewat.

Sampailah kita di desa kecil, ditengah pesawahan dan jalan cor-an semen berakhir sudah, jalan berubah menjadi jalan setapak tanah alias pematang sawah alias galengan sawah yang membentang membelah pesawahan. Hmmm …. permasalahannya … jalurnya becek beulok …. wahhh. Berkomunikasi dengan penduduk lokal … “ wah pak … susah dilewati …. beulok … mending lewat jalur lain” … tak puas … kita mencari second opinion … “ bisa dilalui pak … sepeda mesti dipanggul panggul dikit …. sampai ke pohon kelapa diseberang … ngga sampai 1 kiloanlah, setelahnya jalan bagus “

Ada yang pesimis dan optimis … saya masih galau melihat beulok-nya galengan ini … dan seberapa heboh perjuangannya nanti. “ Ayo kita teruskan “ si om tiba tiba berkata. Ini dia si Om … orangnya optimis dan easy going … cocok banget untuk teman blusukan ngga jelas.

Ya sudah … tekad bulat … kita lanjut …. sepatu menancap dalam lumpur, sepeda di geret geret … didorong dorong … untungnya karena tanahnya basah poll .. jadi tidak melengket gila di ban … ban masih berputar dengan nyaman. Baru jalan 10 meteran sudah ketemu area yang super lembek memblesek … dan untungnya ada galengan kecil di sebelahnya … melipir lewat sana dan setelahnya kembali ke jalur galengan utama.

Memang benar benar perjuangan …. Beberapa kali di area yang sulit di geret kita harus mengangkat sepeda … dan ini terjadi berkali kali. Dan hebatnya …. Matahari bersinar dengan indah dan teriknya …. hahaha …. membuat keringat mengucur … langkah harus hati hati … karena licin banget … beberapa kali hampir jatuh … menambah keseruan.

Beberapa kali berhenti untuk rehat dan atur napas … akhirnya … setelah penuh perjuangan dan doa sampailah dijalan cor-an kembali di desa disebrang sawah.

Tidak hanya sepatu tapi ban sepeda benar benar penuh lumpur, kita membersihkan lumpur lumpur tebal yang menempel di ban, untungnya lumpur lembek sehingga mudah dibersihkan.

Berputar kembali ban sepeda … melewati kampung kampung dan sawah sawah. Akhirnya bertemu kembali rute awal yang dibuat, mengikuti rute tersebut, ternyata rute yang dibuat untuk melalui pesawahan pesawahan tidak selalu melalui jalan cor-an semen kadang mesti masuk jalan tanah … tapi untungnya jalanannya tidak sehancur yang sebelumnya … tapi yang jelas perjalanan ini seperti masuk kedaerah antah berantah … banyak melalui daerah yang sepi … kadang melewati hutan kecil yang ditumbuhi pepohonan tinggi … jarang sekali ketemu orang. Untung gowes berduaan jadi tidak kesunyian.

Terus bergerak mengikuti jalur yang dibuat … blusukan kesana kesini … dan jalur ketemu lagi galengan sawah … wahhh … galengan yang becek beulok …. galengan ini akan melewati jembatan gantung Ridhogalih … sebagai salah satu ikon di daerah ini.

“ tidak bisa pak … “ …. “ susah dilalui “ …. “ disana setinggi betis dalamnya pak “
Mendapatkan masukan masukan dari petani yang ada disana … bukan lagi one atau second opinion tapi beberapa …. ya sudah … daripada mengulang “kesuksesan” … kita putuskan untuk mencari rute lain.

jalan hancur lebur …. didepan adalah tiang jembatan gantung Ridhogalih

Untuk kembali ke rute yang dibuat, kita cari jalur dan kembali lagi bertemu rute awal yang dibuat. Mengikuti jalur kembali, mengarah perjalanan pulang. Jalur yang dibuat memang seminimal mungkin melalui jalan utama …. melewati jalan jalan desa kecil … hanya sesekali masuk jalan utama dan kembali lagi blusukan ke jalan jalan kecil.

Disatu titik melewati suatu sungai yang cukup besar, sepertinya kita sudah berada di daerah Cibarusah Bekasi. Setelah melewati jembatan sungai besar ini … sepeda membelah pesawahan yang hamparan sawahnya luas sekali … menurut saya sih ini hamparan sawah terluas dari trip ini … di daerah ujung pesawahan ada banyak pabrik pabrik batu bata dan genteng tanah merah tradisional … yang bangunannya khas … bangunan beratap pendek untuk memaksimalkan panas.

Sepeda bergerak terus … sudah jam 14-an … dan belum makan siang ….perut sudah berbunyi bunyi dari tadi … tenaga sudah makin berkurang …. gowesan jadi makin santai … bukan karena menikmati suasana .. tapi memang tiada tenaga … dari tadi tidak menemukan tempat makan yang menggoda selera … ada tempat yang menarik di pinggir sawah … ternyata hanya jualan mie tidak ada nasi ….

Yang herannya …. ternyata konturnya masih turun naik …. bahkan beberapa cukup terjal … setiap ada turunan disana pasti ada tanjakan, kadang harus menaiki bukit kecil atau menuruni lembah menyebrang sungai dan menanjak kembali.

Disatu area kita melewati suatu desa yang rimbun dan kemudian sampai di depan lembah … ada bentangan perumahan yang sangat luas …. dahulunya ini adalah pesawahan … masih sedikit tersisa sawahnya, tapi pembangunan terus sedang berjalan …. sepertinya ini adalah perumahan bersubsidi, rumahnya ratusan bahkan sepertinya bisa sampai seribuan … pokoknya sangat luas … yang sudah jadi banyak dan sedang dibangun juga banyak.

Menemukan perumahan ini berarti kita sudah mendekat ke area “peradaban” … akan menemukan lagi perumahan perumahan di depannya. Kita menyebrangi perumahan yang luas ini … sebagian sudah tergenang air …. walahhh …. kebayang jika nanti perumahannya makin banyak dan tanah resapan makin jauh berkurang.

Setelah belok sana belok sini mengikuti rute … ternyata kita melewati bagian belakang perumahan Harvest … melewati ruko ruko-nya dan akhirnya makan soto ayam di salah satu ruko.

Badan terasa bertenaga kembali .. perjalan diteruskan dan tak lama kemudian kita sampai di daerah Narogong Bekasi. Berpisah dengan si om disini … dadah dadahan .. ehh nggak deng.

Saya melanjutkan perjalanan pulang mengarah ke Kalimalang.

Sawah Berundak Weninggalih
Desa Weninggalih, Jonggol, Kab. Bogor
Koordinat googlemaps -6.464312, 107.102556

Minggu 7 Februari 2021

13 komentar di “Pencarian Sawah Berundak Keren dekat Jakarta – Sawah Weninggalih

  1. 120 kilometer? hebat om! saya separuh jarak itu aja belum kesampaian..

    tapi ngomong pematang sawah saya jadi inget pas di kawasan candi jiwa karawang 4 tahun lalu dimana shortcut antar candi harus lewat sawah dan sandal outdoor saya hampir hilang ditengah sawah.. itupun jalan kaki yang relatif lebih mudah daripada bawa sepeda.. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s