Telaga sunyi di atas gunung Klapanunggal – Telaga Melati

Berdasarkan pantauan citra satellite Googlemaps terlihat ada yang aneh … terlihat seperti lubang hitam yang posisinya ada diatas gunung Klapanunggal.

Apakah itu betulan lubang …. black hole akses menuju dimensi lainkah …
atau kolam …. telaga ….

Masak sihhh …

Tidak pernah dengar kalau diatas gunung Klapanunggal ada telaga, danau atau situ.

Kalau di area tambang batu kapur banyak … Galian tambang batu kapur akhirnya menjadi danau

Tapi yang ini jauh dari area tambang batu kapur … Di area yang masih hijau.

Heran … kepo …. want to know aja …. Berangkatlah saya kesana di hari minggu. Melewati Kalimalang, Grand Galaxy, Kemang Pratama, Narogong dan sampailah di tikum underpass Cileungsi.

Sampai disana si om sudah menanti … Hampir tanpa kata kata, kita melanjutkan perjalanan, mengarah ke Citeureup.

Disatu titik kita belok masuk pasar miawww … ehhh … Pasar Meong … lalu masuk gang, lewat sawah, bolak belok jalanan kampung, melewati komplek perumahan besar dan semakin mendekat ke kaki gunung Kapur Klapanunggal.

Akhirnya kita gowes juga di SINGAPUR – SIsi gunuNG kAPUR – ….

Selama perjalanan gowes sampai kesini … dijalan tidak terlalu sering ketemu pegowes … di SINGAPUR ini juga hanya ketemu sedikit.

Biasanya ramai …
Pada kemana mereka ya …

Gowes dijalan berdebu dengan santuy, melewati akses masuk ke destinasi pemandian alam Gua Lalay, aliran sungai yang muncul dari dalam gua … Bukti bahwa di area gersang gunung kapur ada aliran sungai dibawah tanah.

Disatu spot kita berbelok mengarah memasuki area tambang kapur.
Biasanya jika kita gowes mendaki gunung Klapanunggal ke arah desa Cioray, kita melalui jalan lama yang melalui goa Cicurug – gua yang juga ada aliran sungai bawah tanah.
Supaya tidak bosan …. Mencari suasana berbeda, kita melalui jalur baru, mungkin jalan baru ini dibuat oleh para penambang. Nantinya jalan ini akan menyatu kembali dengan jalan lama di daerah atas.
Pertama tama kita melalui area luas penambangan batu kapur …. Biasanya dihari minggu-pun suka ada aktifitas penambangan …. Tapi saat ini tidak ada … sedang libur. Areanya benar benar luas rata … putih gersang panas.
Setelah melintasi area penambangan jalanan mulai menanjak …. Ini dia jalur baru tersebut, jalanan tanah melewati lereng gunung yang masih hijau hijau. Disatu titik kita melihat beberapa motor terparkir di satu bangunan kecil, bangunan yang berdiri sendiri dikelilingi area yang masih hijau. Kata si om kemungkinan itu makam yang dikeramatkan …. Hmmm mungkin juga sih.

Terus saja kita gowes … jalanan sepi banget …
Ketika melihat sesuatu yang “janggal” di tepi jalan kita berhenti. “ Apa ini …. ? “
Wah ternyata ini mata air …. Ya mata air yang muncul dari gua kecil ditebing batu.
Airnya begitu jernih …. Saat ini benar benar puncak musim kemarau …. Tapi masih ada aliran air yang keluar …. Keren.
Air ini ditampung dan terdapat pipa pralon untuk menyalurkan ke tempat lain, mungkin ke perkampungan yang ada di kaki gunung ini. Sebetulnya spot ini bisa dikelola jadi pemandian alam … hehe. Supaya ramai dikunjungi … kasih aja gimmick … kalau cuci muka disini akan enteng jodoh … 🙂 Kabarnya air yang berasal dari area batu kapur tidak mengandung zat besi, sehingga sangat baik untuk kesehatan.

Perjalanan dilanjutkan … jalan kembali menyatu dengan jalan lama dan …. perjuangan dimulai, jalanan menanjak berbatu batu dan terus menanjak …. Kadang rata atau sedikit menurun dan kembali menanjak.

Beberapa kali kita melewati lahan yang sudah dibersikan …. Semak semak dan pepohonan lainnya “dihilangkan” … dengan cara dibakar, tanahnya hitam bekas pembakaran. Untung kita lewat disini bukan saat sedang dibakar …. Pasti asapnya bakal gila gilaan.

Saat ini melewati jalanan ini tidak sesepi dulu. Sekarang kita kadang ketemu komunitas motor trail berombongan lewat. Atau sesekali penduduk lokal melintas naik motor … atau petani yang sedang bekerja membersihkan lahan.
Ketika tahun 2014 pertama kali melintasi area ini …. begitu sepi …. benar2 antah berantah … lahan lahan belum digarap, ketemu orang hanya ketika melintas kampung kecil.

Tapi selama perjalanan ini … tidak sama sekali ketemu anak sepeda disini …. Saya kira saat trend bersepeda seperti sekarang bakalan bertemu … paling tidak satu atau dua …. Ternyata tidak ada sama sekali. Bahkan ketika melewati kampung ada penduduk yang heran …. “ada juga yang naik sepeda kesini “ mungkin dia sedang bertamu kekampung itu, sehingga aneh melihat pesepeda lewat sini.

Kadang kita berhenti untuk atur napas …. atau sekedar menikmati pemandangan. Di bebeapa tiitk tanjakan kadang sulit untuk digowes … berbatu batu lepas dan terjal.
Pokoknya jalanan terus menanjak berbatu batu …. Kita melewati satu kampung kecil …. Ini bukan kampung utama, disini hanya ada paling tidak belasan rumah yang tersebar, paling tidak mendengar suara orang dan anak kecil membuat hati menjadi riang.

Selepas kampung ini jalanan tetap berbatu batu … ajrut ajrutan adalah hal biasa …. Gowesan sepeda berjalan dengan lambat …. Kadang selepas tanjakan yang kita lihat didepan adalah tanjakan lagi bahkan lebih terjal …. Untuk menghibur diri kadang kita bercanda “ itu turunan ya om …. ? “ ….. “ ya tergantung dari cara kita memandang dari mana … “ kata si om … “ dari bawah ini atau dari atas sana “.

Setelah berkali kali melewati tanjakan berbatu …. Didepan ada tanjakan pendek curam tapi disemen …. yeayyyy. Di atas tanjakan itu ada sedikit rumah rumah … kita akan memasuki kampung kecil lagi … Si om langsung geber menanjak … saya tergontai gontai menanjak. Ternyata jalan semen ini hanya ditanjakan ini … jalanan berubah berbatu batu lagi dan di depan sudah siap menghadang tanjakan curam berbatu.

Ya sudah … berhubung disini ada warung … air minum sudah menipis … kita mengisi bidon sambil rehat sejenak diwarung.

Desa Cioray … sudah tidak jauh lagi dari sini … rumah rumah yang kita lalui termasuk nanti rumah2 di desa Cioray …. benar2 desa yang remote …. ada di gunung Klapanunggal dan sulit di akses.

Untuk mencapai desa tersebut kita harus melewati titik tertinggi di perjalanan ini …. Maka kita menanjak dan menanjak kembali …. Ternyata di daerah atas sini semakin banyak lahan telah “dibersihkan”.

Dan sampailah kita di desa Cioray … desa yang ada di puncak tertinggi jalan ini.
Setelah puncak …. berarti …. akan ada turunan. Dari sini kita menurun curam dan terus turun … setelah itu akan menanjak kembali menuju bukit berikutnya ….. meskipun bukit itu tidak setinggi desa Cioray …. Tapi menanjak jalan berbatu begini bukan hal mudah.

Ternyata selama perjalanan berbatu batu ini …. naik sepeda full rigid yang bergetar getar terus … menggetarkan seluruh badan …. dari kepala sampai kaki …. lama lama membuat badan si om terasa sesuatu …. sesuatu yang tidak nyaman di bagian tubuhnya …. sakit dibagian tubuh pada saat jatuh di perjalan terakhir semakin terasa. Rasa tidak nyaman dan kesakitan membuat si om lebih sering menuntun sepeda daripada digowes.

Kalau di turunan curam berbatu curam saya pasti tuntun … tapi si om tidak hanya di turunan curam … turunan yang landai berbatu dia tuntun …. Yang sebelumnya tanjakan curam berbatu dia libas …. sekarang tanjakan biasa saja dia tuntun. Bagaimana lagi … jalannya terus berbatu batu … membuat badan terus bergetar getar.

Biasanya saya yang selalu tertinggal …. kini si om yang selalu tertinggal ….
Biasanya si om yang menunggu saya …. sekarang saya yang menunggu si om.

Kata si om … “ Ok … kita tetap lanjut … tidak masalah … asal pelan “
Ya sudah kita jadi lebih “menikmati” perjalanan ini …. Sekarang posisi kita sudah menanjak nanjak kembali menuju suatu bukit.
Menemukan lagi mata air di satu lembah, airnya meskipun kecil tapi mengalir …. Wah … di gunung kapur yang terlihat tandus dan sulit air, ternyata banyak aliran aliran air dibawahnya.

Di satu titik di tanjakan … saya menunggu … si om terlihat di bawah menaiki sepeda sebentar … lalu dorong dorong … menaiki lagi … lalu doron dorong. Melewati saya berdiri sambil dorong dorong sepeda dengan nyengir … meskipun kesakitan tapi tidak terlihat tampang yang lelah.

Sebenarnya saya berdiri menunggu di satu pertigaan kecil “Om … kita belok sini …. masuk jalan setapak “ ….
Kita menurun melalui jalan setapak tanah “ wah jalan begini yang asyik …. coba dari tadi “ kata si om senang karena tidak melalui lagi jalanan berbatu batu.

Jalan setapak menurun ini tidak panjang … kemudian dari sela sela rimbunan semak belukar terlihat ada danau ….. ya betul danau …. situ …. telaga … Ternyata memang benar ada danau di atas gunung Klapanunggal. Situ yang bukan bekas tambang galian kapur. Karena tidak begitu luas …. Mungkin lebih tepatnya disebut telaga.

Telaganya tidak terlalu luas dan di area sekelilingnya masih asri hijau. Disebagian sisinya ada ladang ladang dan saung petani. Memang area yang cocok untuk bertani … dekat dengan sumber air.

Disisi telaga ada bangunan yang dibeton …. Terdengar kucuran air dari dalam … tidak banyak karena musim kemarau. Kemungkinan yang dibeton ini adalah mata air …. telaga ini langsung diisi dari mata air … keren.

Suasananya begitu tenang, sepi …. dan damai.
Cocok sekali untuk menenangkan batin …. Mendengar desiran angin …. Melihat kupu kupu yang berterbangan … yang bikin heran, umumnya kupu kupunya jinak …. Didekati tidak kabur … bahkan ada yang hinggap di lengan baju si om …. dan nyantai saja disana tidak terbang terbang, meski si om bergerak gerak.

Telaga ini posisinya tersembunyi …. Padahal tidak terlalu jauh dari jalan lintas, hanya tertutupi oleh rimbunan pepohonan dan semak semak. Tidak banyak yang menyangka terdapat telaga di atas gunung ini.

Tidak tahu saya apa nama telaga ini …. Di lantai bangunan beton tertulis “ TKM Melati “ …. Hmmm mungkin namanya situ atau telaga Melati.

Kita mengexplore area ini …. dan di posisi belakang telaga ternyata sudah tebing curam …. Lembah terbentang luas …. Di bawah lembah terlihat lahan lahan yang sudah menjadi kebun kebun penduduk …. dikejauhan terlihat jajaran pegunungan.

Ajib bener view-nya …. Jika dibuat vila di atas sini …. atau kedai / warung …. Wah pasti bakalan top banget deh. Terpaku takjub dengan pemandangan lembah ini …. bikin jatuh cinta …. kalau punya duit banyak saya beli nih …. Hehehe.

Kita sambil rehat disini …. menghabiskan semua perbekalan sambil ngobrol ngalor ngidul …. Tak terasa lumayan lama juga kita berdiam disini.

Saatnya kita beranjak pulang …. Si om ngomong “ kalau bisa kita cari jalan lain pulang ….. kalau lewat jalan tadi lagi, terlalu panjang jalan bebatuannya …. sakit “

Hmmm … ada 2 opsi ….. opsi 1 via Sukamakmur – Dayeuh dan opsi 2 via gua Ciwadon.

Berdasarkan check di peta …. Jika via Sukamakmur – Dayeuh …. perjalanan sampai ke jalan raya aspalnya sekitar 6 km lebih … jalan kesana menurun tapi hancur berbatu batu dan perjalanan pulang akan lebih jauh memutar.
Sedangkan opsi ke 2, via goa Ciwadon … jaraknya sekitar 4 km-an untuk sampai jalanan “beradab” …. Menurun dan jalanan hancur berbatu batu juga …. Tapi jalan pulang tidak akan sejauh memutar jika lewat Sukamakmur.

Kalau jarak terdekat pulang ke rumah sih …. Sebetulnya lewat jalan kita pergi tadi, tapi harus melalui 10 km-an lebih untuk sampai ke jalan aspalnya. Kondisi si om yang kesakitan ajrut ajrutan dijalanan berbatu tidak memungkinkan untuk melalui jalan itu kembali.

Akhirnya kita ambil opsi ke 2 via Goa Ciwadon Jonggol.
Kita berangkat ….

Dari posisi danau berada, kita harus menanjak dahulu sampai ke puncak bukit yang dekat dengan pertigaan menuju goa Ciwadon atau Sukamakmur.

Maka menanjaklah kita dijalanan berbatu batu kembali …. tanjakannya sebetulnya tidak securam di jalanan2 awal …. tapi si om kembali menuntun nuntun sepedanya …. tidak ada lagi kegaharannya ditanjakan. Jangankan menanjak …. jalan menurun saja dia tuntun ….. padahal jalanan menurun meskipun berbatu batu adalah bonus …. kita hanya tinggal ngerem ngerem saja … sambil meluncur perlahan menurun untuk mengurangi vibrasi getaran.
Saya menunggu beberapa kali untuk regrouping …. tapi view di daerah sini lebih bagus …. lebih keren … Disebelah sisi kiri kita bisa melihat jelas tebing batu yang memanjang dan menjulang tinggi …. dan di sisi kanan adalah hamparan lembah luas, melihat jauh kearah Sukamakmur.

Yang bikin kita heran dan takjub …. Karena sudah lebih dari 5 tahun tidak lewat sini …. dahulu daerah atas sini sunyi sepi … rimbun pepohonan dan semak belukar, sekarang sudah jauh berbeda …. Sekarang lahan lahan-nya hektaran sudah banyak dibersihkan …. Sedang dipersiapkan untuk ditanami sesuatu …. Bahkan sudah ada rumah rumah peladang bertebaran berjauhan …. Sudah sampai di atas atas lereng … mendekati tebing batu. Tidak hanya bangunan rumah kayu bahkan rumah tembok bata permanenpun sudah ada beberapa disini …. tidak akan merasa kesunyian lagi deh jika lewat sini.

Meskipun bergerak perlahan akhirnya kita sampai di puncak bukit jalan pulang ini …. kita akan menurun terus kebawah. Turunan awal pertama langsung menukik curam dengan batu batu lepas …. Hati hati sekali saya menuruni turunan ini … dibeberapa spot saya tuntun … play safe dan sampai di pertigaan ke goa Ciwadon.

Menunggu si om di pertigaan, kebetulan disini sedang rehat juga anak anak komunitas motor trail, suasananya meriah … menyetel musik cukup kencang dan saling bersenda gurau.

Perjalanan lanjut lagi turun kebawah …. selepas pertigaan, baru pertama kali ini saya melalui jalan ini …. jalan yang sepertinya jarang dilalui kendaraan …. terlihat dari rumput rumput yang tumbuh dijalanan berbatu batu. Sepertinya di area sini belum terlalu dimanfaatkan jadi ladang.

Di beberapa titik, turunan jalanan berbatu batu besar …. Beberapa kali juga saya menuntun sepeda. Kalau pakai sepeda fullsus bisa geber dari atas terus kebawah dengan nikmat …. hehe.

Sesekali saya menunggu … sekali ketemu anak motor trail yang naik ke atas … bahkan ada sejenis mobil offroad juga yang berpetualang lewat sini, menanjak berlawanan arah dengan kita.

Akhirnya sampai juga di desa .. desa Cibodas yang berada di daerah atas Jonggol. Rumah rumah penduduk lumayan banyak disini … Jalanan berubah menjadi aspal dan sebagian cor-an semen … Horeee …. si om seneng banget.

Terus kita bergerak … melewati akses ke Goa Kelong …. Terus melewati Wonjo …. Melewati spot warung warung baru di atas puncak Jonggol ini …. Melalui Goa Ciwadon …. Jonggol Garden …. Warung Desi (warung kumpul anak mtb di daerah sini) …. Terus meluncur kencang dijalanan aspal mulus sepi kebawah ….. melalui komplek perumahan Citra Indah Jonggol … ishoma dulu di pasar Citra Indah …. dan tancap kembali pulang melalui Taman Buah Mekarsari …. dan si om mulai mengebut terus … menunjukkan jati dirinya kembali …. saya mulai tertinggal tinggal kembali …..


Telaga Melati
Tiket Masuk Gratis
Desa Leuwikaret, Klapanunggal
Koordinat googlemaps -6.526762, 106.974035



Minggu 6 September 2020

6 komentar di “Telaga sunyi di atas gunung Klapanunggal – Telaga Melati

    • googlemaps membuka petualang baru ya mas … banyak tempat2 “aneh”, menarik dan unik untuk didatangi dan di eksplore. Tempat yang dianggap “biasa” bagi sebagian atau bahkan terlupakan ternyata menarik banget buat kita … 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s