Sentul yang saya tidak tahu – Kebon Sampeu

Banyak area di daerah Sentul yang belum pernah saya kunjungi.
Biasanya jika ke Sentul paling ke daerah daerah itu lagi … seperti km nol, Bukit Pelangi, gunung Pancar.
Ada satu area yang penasaran untuk saya kunjungi …. Tidak jauh jauh dari area perumahan Sentul … dan tidak jauh juga dari Bukit Pelangi.

Sepertinya area yang sepi …. Cocok untuk keadaan sekarang, waspada terhadap covid-19 …. menghindari keramaian.

Minggu pagi jam 7-an gowes meluncur … melintas Pondok Gede – Cibubur dan sampai di Citereup.
Tidak ada yang neko neko selama perjalanan … jalanan relative lebih sepi …. Apakah karena lebih banyak memilih tinggal di rumah daripada bepergian ….

Sentul sirkuit terlewati dan di pertigaan bawah Babakan Madang belok kiri mengarah ke Sukamakmur dan jalanan mulai sedikit menanjak. Disatu pertigaan pasar Babakan Madang yang ramai saya belok kanan dan tidak lama sampailah di jalan raya perumahan Sentul. Gowes mengarah ke atas …. Melewati gerbang besar utama perumahan dan terus keatas. Tidak ketemu pegowes yang mengarah ke atas mungkin karena sudah cukup siang … jam 9-an. …. Yang mengarah ke bawah meluncur kencang ketemu beberapa … Di satu pertigaan saya belok kanan … ada papan petunjuk Sampoerna Academy, jalanan menurun melewati beberapa gebang cluster perumahan Sentul dan sampailah di sisi kanan ada gerbang Sampoerna Academy. Berhenti sejenak mengamati gedung sekolah elite …. Berkesan classic grande

gedung Sampoerna Academy Sentul

Perjalanan dilanjutkan … jalanan mulai menanjak kembali dan terus menanjak melewati kebun dan rumah rumah warga lokal. GPS mengarahkan untuk belok kanan …. Masuk jalan kecil dengan rumah penduduk yang cukup padat dikanan kiri. Melewati beberapa kali belokan dan kemudian berbelok masuk jalanan semen yang telah hancur menjadi jalanan berbatu batu … masih menanjak tapi rumah rumah sudah jarang jarang, kanan kiri didominasi kebun kebun.

Kemudian sampailah di ujung desa … jalan habis sudah …. Berubah menjadi jalan tanah setapak dan masuk langsung ke rimbunan semak semak. Berhenti sejenak agak sedikit ragu …. Tapi gps memang mengarahkan kesana …. Track di gps saya buat berdasarkan citra google satelite untuk mencapai titik destinasi yang akan saya tuju. Ya sudah saya masuk …. Setelah memasuki rimbunan semak … di kanan kiri dipenuhi tanaman singkong yang sudah menjulang tinggi. Jalan tanah merah licin …. berhubung semalam hujan. Jalan menanjak … beberapa kali ban sepeda selip …. Cari aman … tuntun dan dorong dorong sepeda.
Jika memungkinkan sepeda di gowes … tapi lebih banyak dorong dorong sepeda …. Jalan menanjak.
Tidak ketemu petani sama sekali …. completely alone …. Hanya ditemani desiran angin dan suara kicauan burung burung …. suasana yang “mewah” …. Jarang banget gowes blusukan begini di temani oleh kicauan burung …. Saya kira ini hanya terjadi di puisi atau lagu saja … tapi ternyata saya alami secara real dan langsung. Di daerah sini artinya masih banyak burung burung yang berkeliaran bebas.
Suara kicauan burung menyemangati saya untuk terus dorong sepeda ke atas membelah kebun singkong. Jalanan setapak ini tiba tiba berubah menjadi jalan setapak berbatu batu dengan berbagai ukuran dari kecil sedang sampai besar …. Berserakan di sepanjang jalan setapak ini. Otomatis sepeda tidak hanya harus didorong dorong … tapi juga diangkat angkat melewati serakan bebatuan ini.
Napas megap megap jadi satu dua …. Peluh mengucur …. Beberapa kali berhenti sebentar atur napas dan dorong angkat kembali sepeda terus menuju ke atas.

Disatu titik … masih di area bebatuan …. Sudah letih … ada batu besar yang atasnya datar … cocok nih untuk spot rehat … saya berdiri di atas batu ini dan memandang jauh ke bawah terlihat gedung gedung tinggi di daerah Sentul … tapi di sekeliling saya sejauh mata memandang adalah hamparan kebon sampeu …. Ya kebun sampeu alias kebun singkong…. Disini sampeu … disana sampeu …. sampeu ada dimana mana …. Cocoknya saya disini sambil bakar bakaran singkong… Mungkin area ini adalah sentra untuk buat keripik kali ya …. #Sotoy
Meskipun matahari cukup bersinar terik … tapi hembusan angin membuat terik matahari tidak begitu menyengat. Saya duduk di atas batu membuka perbekalan dan merenungi kehidupan …. Ehhh ngga deng …. Hanya duduk duduk saja sambil memandang kejauhan.

Badan terasa segar kembali dan perjalanan dilanjutkan …. Gowes dorong … akhirnya sampailah di jalanan tanah besar … jalanan untuk mobil … di sebelah atas terlihat ada bangunan besar seperti vila. Sepeda bisa di gowes menanjak … dan jalanan tanah ini banyak cabang cabangnya … hmmm … setelah saya perhatikan … ternyata ini adalah trek offroad mobil … mobil 4×4, jalur jalur jalan ini memiliki berbagai rintangan … dari kemiringan extreme, drop off bahkan jalur kubangan lumpur. Kalau saya sih pilih jalur chicken way saja …. Yang gampang gampang saja pokoke terus mengarah ke atas ke arah bangunan besar.

dari jalan setapak kebon singkong akhirnya ketemu jalan mobil

ini adalah area track off road mobil 4 x 4


Sampailah di puncaknya … di sisi bangunan besar …. Kita bisa memandang lepas jauh ke bawah ….
Setelah saya amati … ternyata area ini adalah semacam suatu resort atau resto …. ada vila vilanya bahkan ada kolam besar sepertinya untuk mancing ikan, nama tempat ini adalah De’pes …. Karena areanya yang luas maka kelebihan tempat ini adalah trek offroad mobil …

sampai di area belakang De’Pes Vila Resto dan off road land

Saya masuk ke De’pes melalui jalan belakang …. Ini adalah area private bukan akses public … makanya tidak ketemu orang melintas di jalur “pendakian” tadi. Saya ikuti trek GPS yang saya buat yang mengarah ke jalan raya … tapi jalur yang saya lewati harus melalui area utama vila vila …. Saya cari jalur shortcut untuk keluar dari area ini … ada jalur setapak disisi tembok …. Saya ambil jalur tersebut dan malah masuk ke halaman belakang rumah …. Saya permisi minta izin untuk lewat sambil menanyakan arah menuju jalan raya …

keluar dari area De’Pes menuju jalan raya Bukit Pelangi

Ternyata saya masuk dari area private ke area private lainnya …. Rumah ini adalah rumah penjaga di area ini …. Tidak tahu area apa ini …. Yang jelas lahannya juga tidak kalah besar … dan rimbun oleh pepohonan.

Mengikuti arahan … saya kembali ke jalanan aspal dan menanjak ke atas dan akhirnya keluar dari gerbang hijau sampai di jalan raya.

muncul di jalan raya Bukit Pelangi

Senangnya melihat jalan raya …. ada rasa rikuh ketika mengetahui masuk ke area private …. Tidak nyaman dan merasa harus segara keluar. Jadi senangnya ketika sudah ada diluar … ada di area public.

Dari sini saya turun kebawah ….. melewati gerbang ke area Bukit Pelangi yang merupakan jalur alternative untuk menuju Gadog Puncak. Sepanjang perjalanan pulang menuju bawah … lalu lintas ramai … bahkan yang menuju ke dan dari Puncak terlihat ramai …. Sepanjang perjalanan pulang memang jalanan tidak sepi, tidak seperti perkiraaan saya di pagi hari … sepertinya orang orang keluar lebih siang dan tidak terpengaruh untuk mengurangi aktifitas keluar terutama ke tempat ramai.



Kebon Sampeu Desa Pelangi
Bojong Koneng, Babakan Madang, Desa Pelangi, Sentul, Bogor
Koordinat googlemaps -6.601000, 106.877983

Minggu 15 Maret 2020

27 komentar di “Sentul yang saya tidak tahu – Kebon Sampeu

    • bikin jalurnya dari citra google satelite … jadi tidak tahu apakah area yang dilewati atau dimasuki milik private atau area publik … baru setelah dilapangan tahu .. ini area private 🙂

      • Jalur jalannya dibuat sendiri (tdk mengikuti jalur yg ada), dengan melihat perkiraan jalan setapak di citra satellite Google maps … Karena bukan jalur resmi jadi seringnya memasuki area private 🙂

  1. Ping balik: Sentul yang saya tidak tahu – Kebon Sampeu | – Kucing Membaca

  2. Kebon Sampeu alias kebun singkong…ah keren perjalanan gowesnya Mas. Selalu melewati medan yang terjal dan jaraknya itu…hadeuh…mana kuat saya mah Mas.
    Selalu sepedanya difoto sendirian. Kesian tuh Mas, sepedanya ga ada temennya…hehehe

    Salam dari Sukabumi, Mas

    • Misi gowesnya mencapai suatu destinasi … cuman ternyata jalannya harus “berliku” dulu …
      Kalau di foto sepedanya ingin jaga jarak .. social distancing … haha

      semoga selalu sehat dan fit, mas
      salam dari Jakarta

  3. Entah kenapa saya merasa damai melihat foto-foto tentang keadaan desa dan sepi. Padahal, aku orang desa. Jadi kangen juga nih pingin segera jalan. Cuma kondisi bencana ini belum memungkinkan ya Bang?

    Salam dari Anak Desa

    • Suasana desa yang tenang dan sepi serta alamnya yang hijau bagi orang kota seperti saya 🙂 … sesuatu yang wow .. sangat damai dan tentram.
      Untuk masa masa sekarang ini … sangat baik untuk diam di tempat (rumah), menjaga diri kita sekeluarga dan membantu meringankan pekerjaan orang2 yang di garda depan yang sedang berjuang keras dan mengorbankan nyawa mereka.
      Diam dirumah membuat kita tidak tertular atau jika kita positif (tapi imun kita kuat sehingga tetap sehat) kita tidak menulari kepada orang lain.

      salam dari orang kota

  4. Fotonya terasa beda dari foto2 sebelumnya ya Kang? Beda kamera atau karena apaan ya hahaha ceilah sampe ditanyain. Btw dengan pandemi covid-19 ini, masih kah bersepedahan atau di rumah aja Kang? Semoga sehat selalu ya.

    • halo neng Fasya …. semoga tetap sehat ya
      fotonya beda soalnya kelupaan setting iso-nya. pakai iso tinggi .. jadi begtulah hasilnya 🙂
      selama covid 19 ini, serasa dipingit … diem dirumah saja. Kadang sepedaan muter2 komplek sambil berjemur sinar matahari.

  5. batu-batuan besar berasa kayak bekas aliran sungai gitu nga sich mas. masa pandemi gini kepikiran beli sepeda buat gowes ke kantor dech mas. secara masih harus kerja tapi naik gocar tanggung, angkutan umum juga seram. pilihannya hanya jalan dan sepedaan buat maksud sekaligus olahraga.

    • Dimasa pandemi ini berada di area yg orang banyak memang riskan.
      Transportasi naik sepeda memang bisa jadi salah satu pilihan … mungkin saatnya bersapedahan.
      Mba Adel bisa pilih sepeda listrik jenis pedelec, bentuknya sepeda biasa, listriknya bekerja tetap harus di kayuh. Kalau tidak butuh bantuan tenaga listrik dikayuh seperti biasa tapi Jika di hidupkan listriknya maka kayuhannya akan ringan … bisa ngebut … ngga akan cape. Sekali charge umumnya bisa capai 100 km-an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s