Travel into the unknown — Gunung Sieum Jonggol

Hanya karena belum pernah saja kesana ….

Tidak tahu ada apa disana

Nama daerahnya Gunung Sieum.

Cari informasi mengenai gunung ini begitu minim.
Ada apa disana ….?

Apakah disana ada keraton …. ?
Ada kerajaan … ?

Jadi pengen tahu.

Yang saya tahu dari googlemaps bahwa akan pergi ke suatu gunung kecil di daerah Dayeuh Jonggol yang cukup lebat dan melalui kontur naik turun …. Ya namanya juga naik gunung …. Mungkin ini kategorinya “muncak” kata orang2 zaman now …. Hehe … Maksa.

Dibuatkanlah jalur untuk kluyuran di gunung tersebut dan di masukkan kedalam GPS…. Supaya ada panduan … biar ngga terlalu apruk aprukan kemana mana …. Capek soalnya …. Ngga ada warung digunung. Nanti sih tergantung dilapangan bagaimana situasi dan kondisinya. Karena biasanya kondisi lapangan bisa berbeda.

Sepeda di set ringkas, supaya tidak terlalu berat jika harus menanjak atau dorong2 atau bahkan angkat2 sepeda nanti … Tidak bawa peralatan lenong … bawa seperlunya saja …. toolskits, jas hujan … cadangan minuman dan kudapan … Untuk ngemil2 kalau kecapean di hutan nanti.

Minggu pagi yang cerah … semangattt … 7 kurang meluncur,
Ban sepeda menggelinding di Kalimalang menuju ke Cileungsi … Tikum.


Sampai Cileungsi om Adi sudah duduk manis menanti. Makan sedikit camilan dulu sambil chit chat … Dan lanjut gowes lagi.

Melewati Taman Buah Mekarsari … Gowes sedang sedang saja … Lalu ada pesepeda balap menyalip ….
Wah kebenaran … Butuh ada yang narik supaya agak kencengan gowesnya.

Akhirnya kita nempel terus di belakang si pembalap … Jadi terbawa cepat, lumayan lama juga … di satu titik dia melambat dan bilang akan belok kanan …. Ya sudah …. kita dadah dadahan …

Lanjut lagi … Dan berbelok menuju alun alun Jonggol … Mendekat alun alun Kita belok lagi mengarah ke Dayeuh.

Jalanan mulai menanjak landai, diselingi turunan dan nanjak lagi. Tak lama sampailah di destinasi wisata sungai Cipamingkis … Kita hanya lewat… Dan tak jauh dari sana kita belok kejalanan desa yang lebih kecil.

Melewati jembatan Leungsir, melihat lihat dulu suasana, bebatuan di sungai ini unik serta ada leuwi yang dalam yang biasa dijadikan spot untuk loncat loncat anak kampung … tapi saat ini tidak ada anak kampung yang bermain.

Lanjut lagi gowes … Disatu titik berdasarkan track yang dibuat dan dimasukkan ke GPS kita harus belok kiri melewati jembatan bambu dan menanjak terjal ke atas melalui jalan tanah … sedangkan jika ambil jalan lurus terus … jalanan masih cor semen …. Hmmm tergoda untuk lanjut … Mending lanjut saja … khawatir kalau ambil jalan tanah … dimusim hujan begini bakalan becek berlumpur … dan mesti berjuang dorong dan angkat sepeda. Jadi selama ada jalan cor semen … kita pilih jalan cor semen … toh arahnya masih bisa dikatakan searah … sama sama menuju gunung juga.

Akhirnya sepeda mengikuti jalanan cor semen dan mulai menanjak … disatu titik … heyyy … itu ada curug. Di lembah kiri terlihat ada curug … tidak begitu tinggi .. tapi debit air lumayan banyak berhubung musim hujan.

Ini dia curug yang di cari cari waktu jalan ke Leuwi Lengsir …. Ternyata curugnya memang ada dan lokasinya agak ke sebelah atas dari ancer2 lokasi yang saya dapat.

Kita hanya memperhatikan dari atas … sebetulnya lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan sekitar 50 meteran … tapi tidak ada akses jalan … harus nerabas semak semak.

Perjalanan dilanjutkan … melewati perkampungan dengan rumah yang jarang jarang, untuk memastikan situasi di depan … karena jalannya menanjak terus, kita bertanya pada petani yang sedang bekerja di ladang …. Kata beliau, jalan cor semen ini hanya sampai di depan, selebihnya jalanan batu makadam dan selebihnya lagi jalan tanah. Hmmm …. Hati jadi galau .. dilanjutkan .. atau tidak … atau pilih jalan pertama tanah yang menanjak.

“ … kita lanjut saja … kalau banyakan jalan makadamnya masih oke “ kata om Adi menyemangati …. Ohh ok … saya jadi semangat melanjutkan.

Jalan sepuluh meteran berbelok dan jalan cor semen habis sudah … berubah menjadi batu makadam dan terus menanjak. Batu makadamnya masih ramah … bisa dikatakan “tertata rapi” … digowes menanjak masih nyaman … apalagi jalanannya rimbun pepohonan, tidak kepanasan.

Terus saja kita gowes perlahan sambil menanjak … kanan kiri masih ada rumah rumah penduduk tapi jarang jarang. Ketika gowes perlahan dijalan berbatu ini … saya melihat sebongkah batu besar di pinggir jalan … dan ada tapak kakinya …. Diperhatikan … ini sih tapak kaki yang pakai sepatu …. Datar …. Artinya kerajaannya sudah modern … hahaha … ngarang aja. Tapi memang sih kalau diperhatikan seperti tapak kaki …. Ya sudahlah …

batu tapak peninggalan kerajaan …. 🙂 

Tidak jauh dari batu tersebut …. Tidak ada lagi rumah di sisi jalan makadam …. Kanan kiri adalah hutan pohon jabon yang sudah menjulang tinggi …. Jalanan masih terus menanjak, dibeberapa titik batu batunya tidak sopan … besar besar … sepeda susah digowes … akhirnya sepeda di dorong dorong. Enaknya di daerah sini jalanannya rindang … ternaungi oleh pohon pohon jabon yang sudah tinggi menjulang.

jalan makadam menuju puncak gunung Sieum

Sampailah di pertigaan …. Belok kanan menurun dan batu makadamnya terlihat masih baru dipasang … tertata dengan rapi, sedangkan lurus batu makadam yang sudah lama dipasang … dari selepas rumah terakhir … sampai pertigaan sini tidak ketemu orang sama sekali.

Berdasarkan GPS … perjalanan yang dilalui terlihat makin menjauh dari track yang saya buat …. Dan jika belok kanan maka akan semakin bertolak belakang dengan track yang dibuat. Maka kita ambil jalan lurus terus. Sedikit mendatar dan kemudian menanjak kembali melalui jalanan batu makadam … sesekali digowes .. sesekali ehhh berkali kali didorong dorong.

Letih … lelah … lapar … bercampur baur.
Melihat ada saung kayu di tengah hutan … kita putuskan untuk beristirahat disini. Membuka perbekalan … minum dan makan camilan camilan.

Kita tidak bisa beristirahat lama …. Mungkin karena sedang musim hujan, sepanjang perjalanan nyamuk hutan banyak banget …. Senang banget lihat manusia … berhenti sebentar langsung mengerubungi, bahkan ketika jalan pelanpun tetap mengikuti …. Terbang menyerang dengan riang gembira menemukan “makanan” … nyamuknya kurus kurus …. Jadi selama ini jika tidak ada manusia mereka makan apa ya …..

Om Adi sibuk menangkis dan menepuk kesana kemari … karena dia pakai kaos lengan panjang tapi pakai celana pendek. Nyamuk ini menyerang semua bagian kulit yang terbuka …. Termasuk wajah …. Walahhhh.

Tidak lama istirahat kita lanjut kembali …. Perjalanan menanjak kembali dilanjutkan. Kanan kiri tetap hutan jabon yang lebat …. dan mulai melihat plang plang tanah kepemilikan di lahan lahan yang luas ini … milik si inilah milik si itulah …. Kalau saya bawa patok tanah … saya patok juga nih … haha

Disatu titik … kita melihat lintasan kabel listrik … lho koq ada kabel listrik …. Kabel listrik untuk menuju rumahan … bukan kabel listrik tegangan tinggi jarak jauh. Dan anehnya …. Dapat sinyal handphone disini … beberapa bunyi pesan mulai masuk terdengar … anehhh …. Didaerah tinggi antah berantah …. Hutan … tidak ada orang ….

area hutan pinus … sudah mendekat ke puncaknya

Setelah melalui tanjakan tanjakan … kontur tanah mulai mendatar … dan tanaman berubah menjadi hutan pinus …. Ooo … ini dia yang dikatakan warga lokal, jika terus maka akan ke puncak pinus. Lumayan cukup luas hutan pinus ini … Dan melihat satu plang …. Plang kepemilikan tanah oleh perusahaan Dep store swasta terkenal …. Tercatat disana luas lahannya 220 hektare. Wah apakah disini ada mall … mall khusus untuk yang jalan jalan kegunung … hmmm

Kita lanjut terus masih dalam area hutan pinus dan sampailah di satu spot … ada bangunan disana tapi tidak ada orang sama sekali … tidak terlihat orang yang jaga. Ohhh pantes … kabel listrik tadi ditujukan untuk bangunan ini …. Apakah sinyal HP juga sebagai fasilitas penunjang di bangunan ini …..

puncak Gunung Sieum

Sepertinya ini adalah puncak gunung ini …. Karena kita bisa melihat ke sisi kanan dan kiri …. Hamparan lembah di kejauhan … di sisi kiri lembah hijau padat dan masih terlihat bentangan gunung gunung yang lain sedangkan di sisi kanan adalah bentangan gunung gunung yang dipisahkan oleh lembah luas dan terlihat perkampungan yang ada di bawah lembah. Bahkan area pasar Sukamakmur dapat terlihat dari atas ini.

Dipuncak ini angin bertiup semilir dan tidak ada nyamuk nyamuk ….
Kita rehat sejenak sambil mengagumi pemandangan
Terlihat gunung yang runcing … bukan gunung Batu Jonggol … sepertinya itu adalah gunung yang terlihat kalau mengarah ke Cariu …. Tapi dari sini terlhat lebih dekat ya …

Selepas area bangunan ini …. Jalanan berubah …. ditumbuhi oleh ilalang dan rumput liar …. dan hanya beberapa bagian yang batu makadam … sebagian tanah. Sepertinya jarang sekali mobil lewat dari arah sini, mungkin mobil mobil naik ke puncak pinus dari arah saya datang.

selepas puncak … jalanan mulai berubah

Kita gowes menurun dan beberapa kali berhenti untuk mengagumi pemandangan …. Kapan lagi kita akan kesini … mumpung disini kita nikmati sepuas puasnya.

sisi lain … pandangan mengarah ke area Sukamakmur Bogor

Dan kita melihat lagi plang kepemilikan …. Kali ini milik bank sentral pemerintah …. Lho koq …. Kenapa sampai memiliki di atas gunung ini ya ….. seluas 3 juta m2 lebih … wowww … artinya segunung ini miliknya …. Jadi patok patok tadi bagaimana …. Sudah tak perlu dipikirkan … bukan tanah saya ini ….

Tiba tiba kita bertemu dengan seorang warga lokal yang sedang bawa kayu bakar …. Dia kaget dan heran … ketemu orang naik sepeda kesini …. Kitapun kaget … karena sama sama nggak ngira akan ketemu orang disini. Basa basi sejenak dan memastikan arah …. Ya kata beliau jalan ini bisa tembus ke jalan desa.

Sisi bagian gunung inipun berbeda …. Tidak ditumbuhi tanaman jabon …. Tapi bentangan rumput liar dan semak belukar yang sangat luas, mengisi sisi gunung dan telihat jalanan menurun dan menaik. Sepertinya pohon2nya sudah dipanen tapi tidak ditanami kembali sehingga terbentuklah hamparan padang semak belukar luas begini.

lembah setelah puncak …. gundul … hanya hamparan semak belukar

Slide12Yang sedikit uniknya …. Sisi jalan dipenuhi oleh pohon pohon yang tinggi …. Sehingga rindang …. Nah ini permasalahannya …. Karena jalanannya tanah, musim penghujan …. Pohon pohon tinggi disepanjang jalan melindungi dari sinar matahari … akibatnya tanah tidak mengering … lembek …. Dibeberapa titik kubangan … dan di beberapa titik lagi berlumpur.

Selepas plang kepemilikan bank sentral ada tanah cukup lapang …. Jalan ke arah puncak pinus yang tadi saya lewati sudah lama tidak ada atau jarang sekali mobil yang lewat … tapi kearah sebaliknya, kearah saya bergerak, terlihat tapak ban mobil offroad …. Kemungkinan mobil itu berputar di tanah lapang ini.
Kendaraan offroad memacul kanan kiri jalan … meninggalkan jejak seperti alur selokan. Dari sini terlihat bahwa jalanan tanah lembek didepan menanjak …. Susah payah kita mendorong dorong dan mengangkat angkat sepeda …. Tanah merah menempel di ban sehingga ban sulit berputar …. Meskipun rindang tapi peluh bercucuran …. Napas ngos ngosan satu dua …. Beberapa kali berhenti atur napas dan tangan yang pegal untuk angkat sepeda. Di kubangan lumpur sebisa mungkin kita melipir kesisi sisinya …. Jika tidak bisa melipir …. Ya tidak ada cara lain … nyemplung … tapi sebisa mungkin sepeda diangkat … hanya sepatu yang kotor … tapi kalau cape … didorong dorong sepedanya …. Akibatnya tanah menempel dan ban jadi stuck.

jalanan tanah merah lembek …. rolling naik turun

Ketika melihat ujung tanjakan … kita senang … menambah semangat … terus dorong dan dorong …. Ternyata ini puncak semu … ada turunan lagi dan tanjakan lagi …. Jadi ketika melihat ujung tanjakan … kita tidak riang lagi …. Takut terjebak harapan palsu.

Akhirnya ada tanjakan yang curam tanah merah lembek dan cukup panjang …. Setelah angkat dorong … berhenti … angkat dorong … berhenti … sampailah di puncak bukit. Jalanan bercabang ke kanan dan kiri. Jika lurus terus adalah lembah yang curam. Rehat …. Mengeluarkan lagi perbekalan sambil bersih bersih tanah yang menempel di ban.

Melihat situasi di GPS … maka kita harus belok kiri untuk mengarah ke track yang dibuat sebelumnya.
Belok kiri jalanan tanah menurun … asyiknya karena jalannya tidak tertutupi oleh pepohonan … meskipun tanah tapi tanahnya keras terkena sinar matahari …. Sehingga sepeda menurun dengan riang gembira.

DIsatu titik kita berhenti … karena ada tambang batu …. Wah tambang batu di daerah sini …. Tidak besar tambangnya …. Tidak ada orang pula …. Sepertinya tambang batu ini dipergunakan untuk bangunan2 yang ada di kawasan hutan ini.

Selepas tambang … kembali kanan kiri diisi pohon jabon yang rindang rapat dan ada percabangan, jalannya sama sama menurun … dua duanya jalan batu makadam. Kita mengambil arah lurus terus menuruni jalan batu makadam … tidak bisa kencang kencang … khawatir nyusruk.

Jalan terus menurun cukup panjang dan tiba di satu area disana ada rumah penjaga kebun jabon … ada orang yang diluar … dan kaget melihat kita nongol tiba tiba di jalanan yang menurun … tapi dia senang melihat kita …. Mengobrol ngobrol dan mengajak kita untuk mampir rehat dulu …. Ya mungkin dia kesepian … ada orang datang senang bisa diajak ngobrol. Kebayang ya … tinggal di tempat seperti ini dan jauh kemana mana … mau ke mall pasti susah dari sini … #KeplakKepala

Jalan batu makadam berakhir disini …. Selebihnya adalah jalan tanah … bisa dilalui mobil tapi karena sudah lama tidak ada mobil yang lewat jadi tertutupi semak ilalang, seperti jalanan setapak membelah ilalang. Berdasarkan info dari beliau kita bisa meneruskan jalan ini dan akan nembus ke jalan desa. Untung ada informasi ini …. Jika tidak … kita akan ragu untuk meneruskannya …. Kebayang deh sudah terus menurun cukup jauh begini jika sampai salah jalan atau buntu …. Makkk … kita harus balik lagi ke atas.

jalur berubah menjadi “single track”

Kita ikuti jalan penuh ilalang menurun ini …. Dan terus menurun melewati lembah yang gundul …. Yang hanya dipenuhi ilalang dan semak belukar, serasa sepedaan di single track.

Mendekat ke dasar lembah …. Kita melewati pesawahan terasering …
Uniknya …. Ada batu besar seperti perahu … diatasnya nangkring saung …. Kerennn
apakah batu kapal ini peninggalan suatu kerajaan …. : )

apakah batu perahu ini peninggalan kerajaan …. 🙂

Sungaiiii …. Di dasar lembah adalah sungai. Mungkin aliran sungai ini yang mengarah ke curug Leuwi Lengsir.
Dari lembah sungai ini … Untungnya jalannya hanya menanjak sedikit dan melipir menyelusuri punggung bukit …. Horeee … bahagianya tidak harus menanjak ke atas.

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan tanah yang kering …. Menemukan curug mini di pinggir jalan. Masuk lagi ke area hutan jabon yang rindang dan jalanan kembali batu makadam. Terus saja mengikuti jalur makadam ini … dan akhirnya ketemu perkampungan … wahhh senangnya … menurun terus … dan akhirnya ketemu jalan cor semen …. Horeeee.

Dari sini perjalanan pulang berlangsung lancar sampai kembali ke rumah masing masing …
Ehhh … sebenarnya ngga begitu lancar sih …. Ban bocor di Narogong Bekasi … cari tukang tambal ban … ditolak satu kali … kedua kali ditolak … tapi akhirnya hanya mau pompa angin saja tanpa tambal … karena bocor halus … setelah 20 km-an tambah angin lagi satu kali … dan sampai rumah.

Curug Leuwi Lengsir
Sukajaya, Jonggol, Bogor
Koordinat googlemaps -6.553642, 107.026468

Gunung Sieum
Sukajaya, Jonggol, Bogor
Koordinat googlemaps -6.563826, 107.014437


Minggu 19 Januari 2020

8 komentar di “Travel into the unknown — Gunung Sieum Jonggol

  1. Pemandangannya keren Mas… Cuma kebayang deh untuk mencapai kesana dg bersepeda. Huampun deh saya mah…
    Eh sudah ada nongol orang nih di beberapa foto sepeda nya. Kapan2 Mas selfie juga dong ya…

    Sehat selalu Mas. Salam dari Sukabumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s