Menyelusuri Bunker Belanda di Kota Bogor

Peninggalan sejarah banyak sekali “bergeletakan” di area Bogor
Dari zaman prasejarah, kerajaan sampai masa kolonial Belanda.

Saat ini yang ingin saya kunjungi adalah peninggalan kolonial … yaitu bunker atau ada juga yang menyebutnya benteng Belanda yang ada di kota Bogor.

Start genjot sepeda dari rumah … setelah melalui Kalimalang, Jatiwaringin, Pondok Gede …. sampailah di Cibubur …. Menanti sejenak di tikum … dan si om akhirnya datang. Nyemil nyemil dulu sambil bahas yang ngga jelas sampai bahas teori fisika quantum …. ehhh ngga deng … pokoknya yang ngga jelas semua dibahas.


Melanjutkan perjalanan mengarah ke Bogor melalui Cibinong … jalan raya Bogor, melewati sisi luar Kebun Raya Bogor

sisi luar Kebun Raya Bogor

… masuk pasar … masuk gang gang kecil untuk memotong jarak … tapi menambah waktu tempuh …. Ya sekalian kepo aja dengan perumahan padat di lembah kota bogor. Sepeda berbelok belok di gang kecil, menurun curam dan menanjak kembali … masuk lagi jalan raya … masuk lagi gang gang kecil, berbelok belok di jalan sempit … menurun ke bawah dan sampailah di rel KA dan mulai menyusuri pinggir rel KA mengarah menuju stasiun Batutulis.

Tujuan menyusuri rel KA ini karena jalur ini ada tepat di belakang Istana Batutulis. Berdasarkan info dari berbagai sumber di internet … salah satu bunker tersebut berada di belakang area Istana Batutulis … kabarnya ada di lahan milik PT KAI dan kondisinya sudah setengah hancur dan terbenam tanah sebagian.

bagian belakang Istana Batutulis

Kita menyusuri rel KA sambil celingukan memperhatikan sisi sisi rel KA … kondisinya padat oleh semak dan pepohonan. Dan sampai Stasiun KA Batutulis .. bunker tersebut tidak diketemukan … yang kita temukan adalah sumber mata air yang keluar dari lereng Istana Batutulis … ini dia … jadi ingat waktu kita mencari situs sumur tujuh dan diantarkan oleh bapak tua untuk menuju situsnya … warga ini yang sejak kecil artinya sudah puluhan tahun tinggal di Lawang Gintung bercerita bahwa salah satu sumur dari sumur tujuh menurutnya adalah mata air yang berada di belakang Istana Batutulis dan kabarnya juga dipercaya digunakan oleh keluarga kerajaan Pajajaran.

Posisi mata air ini berada agak kebawah, terlihat ada pancuran air dari lereng bukit dan seperti ada musholla kecil. Saya tidak turun kebawah …. Karena kebetulan ada ibu ibu sedang cuci pakaian dan agak gimana gitu … jadi saya hanya foto foto dari luar saja.

mata air Batutulis

Akhirnya sampai di Stasiun KA Batutulis. Dari sini terlihat di atas lereng bangunan resto Gumati yang cukup besar dan sepertinya pembangunan belum diselesaikan. Kita akan menuju kesana … karena bunker Belanda ada disana.

Pintu masuk ke resto Gumati bisa dikatakan ada disebelah stasiun KA. Masuk ke area resto …. Suasananya sepi … tempatnya sangat luas … jalan bercabang … dan mengikuti insting … taraaaa … itu dia bunkernya. Bangunan bunker ini tepat ada di salah satu ujung bangunan.

Kondisinya masih utuh … temboknya tebal dan ada lubang pengintai, didepan bungker terdapat plang Bunker Gumati. Bunker ini diketemukan secara tidak sengaja ketika melakukan penggalian untuk membangun proyek café resto Gumati.
Berdasarkan yang saya baca … di area resto Gumati ini ada yang menyebutkan terdapat satu bungker, ada yang menyebutkan dua bungker dan bahkan ada yang menyebutkan 4 bungker dan dua bungker telah dihancurkan ketika melakukan pembangunan resto ini.

Misi dilanjutkan … keluar lagi dari resto ke jalan raya …. Berdasarkan informasi internet … bunker lainya berada dekat dengan resto Gumati. Ketika sampai di jalan raya kita menanyakan posisi bunker kepada bapak tua yang ada di pinggir jalan. Beliau menunjukkan … “ini di sebelah atas ini satu dan ada di arah kedalam satu lagi”. Bunker yang ada di sebelah atas …. bisa dikatakan dekat banget dengan jalan raya, tapi posisinya ada di seperti bukit kecil dan untuk masuk kedalam ternyata gerbangnya di tutup pagar dan terlihat bagian dalamnya tertutup semak belukar seperti sudah lama tidak pernah ada yang masuk. Karena ini lahan private dan pagarnya ditutup, saya tidak mau lancang untuk masuk kedalam.

Perjalanan dilanjutkan untuk menuju bunker yang ada di arah kedalam. Eeee …. Ternyata akses kesana selain harus “mendaki” tebing dahulu … aksesnya sudah tertutup semak belukar juga …. Sudah jarang banget orang masuk kesini. Wah kalau harus menembus semak belukar begini ….ngeri ular … hiyyy. Dasar penakut … akhirnya saya urungkan untuk masuk ….

Menurut salah satu informasi konon terdapat 10 bungker di kota Bogor dan diprediksi dibangun antara tahun 1939 sampai 1941. Bungker tersebut dibangun untuk melindungi tangsi militer Belanda di Lawang Gintung, yang sekarang menjadi Markas Komando (Mako) Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).

Dari salah satu info disebutkan terdapat 2 bungker di lahan Bukit Gumati café, 2 bungker di lahan eks Bank Mandiri yang sekarang sudah menjadi lahan milik pribadi perorangan kondisinya relatif utuh, 2 bungker di lahan PT KA di belakang istana Batu Tulis kondisinya agak rusak dan satu lagi di lahan milik pribadi yang kabarnya sudah sangat rusak.

Meskipun akhirnya saya hanya berhasil mengunjungi satu bunker saja …. Tidak perlu sedih tidak perlu kecewa …. Resiko jalan jalan seperti ini ya begini ini ….
Hari masih pagi belum terlalu siang, supaya tetap happy … kita mencari coffee shop untuk ganjel perut sambil ngopi … tak terasa cukup lama juga nyantai disana … sudah jam 12-an … saatnya pulang.

Bunker Gumati
Tiket masuk gratis
Bukit Gumati Café Resto
Jl Raya Batutulis, Lawang Gintung Bogor
Koordinat googlemaps -6.626864, 106.810534


Minggu 13 Oktober 2019

 

8 thoughts on “Menyelusuri Bunker Belanda di Kota Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s