Perjalanan Penasaran ke bukit Singasari Klapanunggal

di kejauhan bukit Singasari

“ Kemana kita ? “ tanya Adi
“ ke arah Sodong … disana ada bukit kecil “ jawab saya
“ ada apa disana ?” tanya Adi
“ nggak tahu …. mungkin ngga ada apa apa … penasaran aja “jawab saya
“ ok … ayok “ kata Adi

Itulah sekelumit percakapan ketika ketemuan di tikum Metland Cileungsi.
yang satu easy going … yang satu ganteng … eyalahhh … koreksi … kepoan ….#MaksaBanget

Perjalanan dilanjutkan melewati belakang taman wisata Mekarsari dan melintas jalanan berbatu batu di area perkebunan sawit yang sangat luas dan seperti terlantar.

hamparan kosong bekas perkebuan sawit

Lalu keluar masuk perkampungan dan tibalah diujung desa …. masuk ke jalan tanah bercampur batu yang membelah pesawahan di kanan kiri. Hamparan sawah yang subur menghijau …. terasa aneh karena sekarang sedang musim kemarau kemaraunya, di daerah lain pada kekeringan …. koq pesawahan disini tidak mengering … tetap teraliri air, ya karena pasokan dari mata air di kaki gunung Klapanunggal … salah satunya yang terkenal adalah mata air Sodong.

bukit Singasari sudah di depan mata

Sangat menyenangkan bersepedahan membelah bentangan pesawahan yang menghijau seperti ini. Gowes perlahan sambil menikmati desiran angin dan suasana pesawahan … Tak terasa bukit kecil sudah tampak di depan mata …. bukit yang dituju. Makin lama makin mendekat dan sampailah di kaki bukit. Berhenti sebentar mengamati keliling dan melanjutkan perjalanan melalui jalanan setapak dan mulai menanjak …. mengikuti track yang sudah dibuat di gps. Ketika disatu titik kita harus berbelok … ternyata jalannya di tutup pagar … pagar yang memanjang tidak boleh melintas masuk, dibalik pagar sepertinya itu adalah ahan private yang sangat luas … welehhh …

Kita mencari jalan lain …. mencoba jalur lain … ketika sudah dicoba jalani …. koq seperti makin menjauh dari arah yang harus dituju. Balik badan … mencari jalan lain. Kita mengikuti jalur setapak yang dipergunakan oleh para peladang. Memang di bukit ini ada bekas bekas ladang yang saat ini mengering dan seperti diterlantarkan …. bahkan ada sawah … tapi semuanya mengering … karena aliran air tidak naik ke dataran yang lebih tinggi …. lahan hanya dimanfaatkan ketika musim penghujan.

Selama blusukan mengikuti jalur peladang ini kadang kita menemui jalan buntu … jalur yang semakin menjauh …. jalur yang ngga jelas …. pokoknya kita terus bergerak … terus berusaha mengikuti acuan arah berdasarkan gps supaya tidak semakin menjauh.

Dibukit ini ternyata ada juga yang menanam pohon sawit … kalau pohon keras seperti jabon sih ada di beberapa area … kebun pohon pisang juga ada …. ada juga area yang banyak bebatuannya … dan banyak area yang penuh semak belukar … rimbun … konturnya naik turun … dorong dorong dan angkat angkat sepeda sudah dari tadi …. karena sekitar 70% tidak gowesable. Otomatis perjalaan jadi lambat …. tidak terhitung juga berapa kali kita berhenti untuk rehat …. bahkan berlindung dari sengatan matahari … karena sering melalui area kosong atau yang tidak rindang sehingga terpapar sengatan matahari.

Selama blusukan di bukit ini kita tidak bertemu dengan satu manusiapun …. sunyi
Kalau jalan sendiri … pasti sudah dari tadi balik badan gerak ….
Untung bareng om Adi … yang tetap positif, tidak mengeluh dan semangat untuk terus bergerak

Setelah penuh perjuangan … kita melihat rumah kayu dibalik pepohonan … semakin dekat ternyata ada beberapa rumah … dan semakin mendekat lagi … ternyata ini adalah perkampungan, kita masuk dari dari balik kandang kerbau …. anak anak dan ibu yang sedang ada di belakang rumah kaget heran melihat kita tiba tiba nongol di halaman belakang mereka ….

Setelah berbasa basi dan mengikuti arahan si ibu … mengikuti jalanan setapak lagi yang benar … akhirnya kita sampai dijalanan desa …. jalanan berbatu kapur putih dan setelah diikuti jalanan berubah menjadi jalan cor semen dan semakin banyak rumah dikanan kiri … bahkan warung, kita berhenti dulu untuk isi ulang air minum …. perjalanan dilanjutan dan sampailah kejalanan desa utama … dan ambil arah untuk jalan pulang melalui pemandian alam Sodong.

diperjalanan pulang menuju pemandian Sodong

Selepas pemandian alam Sodong kita melihat bukit yang kita lalui ada disebelah kanan jalan terpisah oleh hektaran hamparan pesawahan. Tidak tahu apa nama bukit itu … tapi karena kita melalui desa yang bernama SIngasari … jadi mungkin bukit itu namanya bukit SIngasari … seperti nama kerajaan ya …. apakah disana pernah ada kerajaan … tidak tahu …. yang jelas di bukit itu seperti tipikal bukit pada umumnya …. ada rimbunan pepohonan … rimbunan semak belukar … bahkan ada padang rumput.

Paling tidak, saya tidak penasaran lagi dengan bukit ini.

Bukit SIngasari
Desa Singasari Klapanunggal Bogor
Googlemaps -6.472505, 107.005652


Minggu 21 Juli 2019

 

8 thoughts on “Perjalanan Penasaran ke bukit Singasari Klapanunggal

  1. Selalu mengikuti di belakang para pegowes cinta alam. Suka dengan semangat yg ditularkan pokoknya maju. Hamparan sawah hijau menguning selain udara segar ada rasa ayem ada panen yg dinanti petani. Salam gowes.

  2. Hallo om jauhari…
    kayaknya mau mengulang pengalaman dulu ketika ke situs batu tapak pasir awi ya…”
    subur banget pesawahannya ya,,, masih pada menghijau. Tempat yang lain kekeringan semua.

    • hallo om …
      ha ha .. iya … “sukses yang diulang”
      ada satu area yang dilalui sungai dari mata air sodong … sepertinya tidak pernah mengering … jadi di musim kemaraupun, sawah disni hijau subur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s