Bukti keberadaan Tentara Nazi Jerman di Indonesia pada PD II – Makam Jerman Arca Domas

Tentara Nazi Jerman hadir di Indonesia ?

Lha kenapa namanya Arca Domas ?

Tah eta … kenapa coba?

Untuk menuju kesana semuanya dipersiapkan dengan cepat.. pokoke bawa rain gear.. kan musim hujan. Jam 6.33 sudah meluncur dari Jaktim. Ketemuan dulu di tikum minimarket di daerah Citereup. Ngobrol ngobrol dulu .. beli cemilan .. ngemil ngemil .. baru lanjut lagi ke arah Sentul … kelamaan ya ..

Ambil shortcut dari Perumahan Sentul ke arah Gadog Ciawi dengan melalui jalan setapak pinggir sungai.

jalan setapak potong kompas dari perumahan Sentul

Masuk lagi ke jalanan aspal kampung lalu menyusuri jalan disisi luar tol Jagorawi, melewati rest area di pintu tol Ciawi dan sampailah di jalan raya Gadog yang mengarah ke puncak.

Hanya sebentar masuk jalan raya lalu belok kanan keluar jalan raya, di sana ada papan petunjuk Situs Makam Jerman 4 km … 4 km ?? di gps tercatat harus menempuh 8 km lebih dikit untuk sampai destinasi … Perjalanan dilanjutan terus menanjak dan menanjak mengarah ke kaki gunung Pangrango .. untungnya rata rata aspal mulus hanya sebagian yang rusak tapi tidak parah. Dikanan kiri diseling selingi kalau bukan rumah penduduk adalah area komersil seperti hotel hotel, villa, resto bahkan ada area agribisnis kelas raksasa.

Melewati belokan dengan area terrtutup .. wow .. ada plang-nya pembangunan bendungan Sukamahi… kerennn… bendungan di atas bukit .. ya .. bendungannya di lembahnya. Ini sepertinya untuk mengontrol air kiriman ke Jakarta .. meminimalisir banjir.

Makin ke atas lebih banyak melewati perkampungan lalu melewati pasar.. pokoknya terus menanjak.

Lumayan juga tanjakan tanjakan ini menguras tenaga… om Adi dengan nyantainya langsung menggebrak .. mengasapi saya .. ehh meninggalkan saya di tanjakan.. sesekali dia menunggu.. dan meninggalkan kembali.

1 km menuju destinasi tanjakan mulai menjadi jadi.. melewati dulu satu kampung terakhir di daerah tebing yang padat dengan rumah rumah gedong .. jadi serasa bukan di kampung.

Pemandangan menuju makam Jerman

Dari mulai kampung sudah menanjak dengan kemirimgan yang ” oke “. Keluar kampung …. tidak tahu fisik yang sudah ngedrop atau memang tanjakannya mantap.. makin ngos ngosan.. napas satu dua, hanya melihat gps .. 800 meter lagi, 600 400 200 … nah ini dia lokasinya… tepat di pinggir jalan aspal… komplek pemakaman Jerman yang terlihat asri dan hiijau. Meskipun ada di pinggir jalan tapi agak sedikit sembunyi jika kurang perhatian mungkin akan terlewatkan.

Halaman Depan Makam Jerman

Karena pintu masuknya ditutup pagar kayu maka saya minta izin dahulu ke warung yang ada tidak jauh dari lokasi.

Area pemakaman ini sangat bersih terawat, ada beberapa pohon kamboja dan disekitarnya ada pohon2 besar.. pohon karet yang sudah berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

2 Makam di depan adalah jasad tidak dikenal “ Unbekannt “

Sejarah masuknya Jerman ke bumi Indonesia pada era Kolonial Belanda karena pada tahun 1905 pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan menarik investasi luar masuk – wah kebijakan seperti ini ternyata sudah ada sejak zaman baheula — Emil Helfferich adalah seorang businessman yang sebelumnya terlebih dahulu masuk ke Sumatera Selatan kemudian ke Batavia bahkan sempat berkantor di gedung yang sekarang dikenal Toko Merah di kota tua Jakarta. Helfferich bersaudara (Emil dan Karl Theodor Helfferich) membeli tanah seluas 900 hektar dan membangun perkebunan teh berikut pabrik pengolahannya di Desa Sukaresmi ini setelah Perang Dunia I diperkirakan pada tahun 1918.

Helfferich bersaudara memiliki jiwa patriot terhadap negaranya, untuk mengenang dan menghormati jasa dan pengorbanan Admiral Maximilian Graf von Spee yang pada 8 Desember 1914 melawan Inggris PD I di Kepulauan Falkland (Malvinas), Amerika Selatan, 4 kapal perang Jerman tenggelam dan sekitar 2.000 orang Jerman, termasuk Admiral Spee dan kedua putranya tewas. Maka dibuatlah monument yang bertuliskan “Dem Tapferen, Deutsch-Ostasiatischen Geschwader, 1914″, yang berarti “Sang Pemberani, Skuadron Jerman – Asia Timur, 1914”. Monumen ini diresmikan pada hari Minggu 17 Oktober 1926 oleh pasukan Jerman yang datang bermobil mobil ke lokasi ini, mereka tiba dengan menaiki kapal Hamburg.

Helfferich bersaudara pulang ke Jerman pada 1928 dan menyerahkan pengelolaan perkebunan ini kepada Albert Vehring.

Ketika Jerman menginvasi Belanda pada 1939, pemerintah Belanda menangkap orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, termasuk Albert Vehring. Perkebunan Helfferich pun diambil alih oleh Belanda. Dan ketika Jepang mengalahkan Belanda dan menjajah Indonesia (1942 – 1945), Jepang yang satu team dengan Jerman, mengembalikan perkebunan ini ke Jerman dan Albert Vehring pun kembali ke tempat ini.

Untuk membantu Jepang melawan sekutu di sekitar Asia Tenggara, Jerman menjadikan pelabuhan di Penang, Sabang dan Batavia sebagai pangkalan kapal militer. Dan area perkebunan yang sejuk ini dijadikan tempat istirahat bagi awak kapal setelah melakukan pelayaran panjang mengelilingi Afrika.Slide11

Menguatkan bukti keberadaan kapal perang Jerman yang wara wiri di perairan Indonesia yaitu diketemukannya bangkai kapal selam legendaris Jerman Uboat U-168 di laut sekitar Karimun Jawa pada tahun 2013. Menurut sejarah kapal selam tersebut di torpedo oleh kapal selam Belanda Hn.Ms. Zwaardvisch (P-322) pada 6 Oktober 1944. Bahkan dipercayai bahwa masih ada satu kapal selam jenis U-183 yang karam di sekitar laut Indonesia yang di tembak oleh kapal perang Amerika.

pohon karet tua di area Taman Jerman

Bagian sejarah yang tidak diketahui banyak orang adalah bantuan Jerman terhadap pejuang kemerdekaan Indonesia, yaitu ketika Jerman menyerah pada Sekutu pada tanggal 7 Mei 1945, saat itu kapal-kapal Jerman masih ada atau akan melintas perairan Indonesia dan kapal kapal tersebut tidak boleh bersenjata lagi. Maka oleh pihak Jerman senjata, amunisi, terpedo, bom dan bahan peledak lainnya di berikan secara cuma cuma kepada Indonesia yang menjadi asset penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

apakah dia orang Jerman .. ???

Tentara tentara Jerman yang masih ada di Indonesia di kabarkan bergabung dan berkumpul di perkebunan ini dan berbaur dengan pribumi bahkan mereka dilindungi oleh pribumi. Kemudian grup Jerman ini ditemukan oleh resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira Skotlandia yang datang ke Pulau Jawa pada awal September 1945. Untuk memindahkan pasukan Jerman disana membutuhkan puluhan truk eks pasukan Jepang karena jumlahnya sekitar 250 – 260 orang. Mereka dipindahkan ke Bogor dan dikemudian dipindahkan ke pulau Onrust di kepulauan Seribu dan di tahun 1946 di pulangkan ke Jerman.

Sedangkan 10 Jasad warga Jerman yang dikebumikan disini meninggal pada periode 1944-1945 (8 jasad diketahui identitasnya dan 2 jasad tidak dikenal) kabarnya berasal dari beberapa tempat ada yang dari Surabaya meninggal karena sakit, ada meninggal yang karena kecelakaan, juga ada yang dibunuh oleh pejuang kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 karena dikira orang Belanda dibunuh di kota Bogor dan ada yang di bunuh di kereta Api Jakarta Bogor.

Menurut cerita warga kampung terjadi prosesi penguburan 4 peti mati dan 1 kendi yang berisi abu jenazah pada Oktober 1945 yang dilakukan puluhan tentara Jerman secara militer.

Hmmm .. kisah yang menarik ya .. kita hampir tidak pernah tahu keberadaan pasukan Nazi Jerman di Indonesia karena tidak ada dalam pelajaran sejarah di sekolah, akibat pergi ke situs makam Jerman ini saya berusaha menggali gali informasi dan mendapatkan cerita cerita ini.

Ketika mengamati area pemakaman ini ada seorang ibu yg datang dan ternyata dialah yang merawat pemakaman ini dan sudah generasi yang ketiga, kakeknya dahulu yang merawatnya. Diberi tanggung jawab oleh kedutaan Jerman dan setiap minggu kedua di bulan November, yang merupakan Hari Peringatan (Commemoration Day) di Jerman, kedutaan Jerman melakukan ziarah dan upacara di pemakaman ini.

Terdapatnya arca Ganesha dan arca Buddha … menurut cerita itu sebagai penghormatan terhadap budaya warga sekitar … tidak tahu sejak kapan arca itu dibangun dan berada disini.

Ngobrol ngobrol dengan si Ibu diceritakan bahwa rumah tuan tanah Helfferich ada di daerah atas lagi di daerah hutannya disebutnya daerah Arca Manik — berarti disana dulunya ada arca juga kali ya … sekarang sih hanya tinggal puing puing fondasi katanya. Jika diteruskan jalan aspal ini ke atas maka masih ada beberapa villa dan seterusnya jalanannya habis .. Area ini masuk ke PT Perkebunan Nusantara VIII sama dengan yang mengelola perkebunan teh di Gunung Mas Puncak.

Daerah ini disebut Arca Domas karena disini dulu banyak arca-nya seukuran +- 30 sd 50 cm konon jumlahnya ada ratusan bahkan mungkin sekitra 800 karena domas artinya 800, bahkan ada peninggalan batu batu dalam rupa tertentu. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi sama sekali … ada yang menjarahnya .. untung masih ada sebagian sempat diselamatkan bahkan di rumah keluarga si Ibu sempat menyimpannya dan sudah diambil pemerintah kabarnya ada di museum tapi tidak tahu museum mana.

Arca2 ini adalah peninggalan kerajaan Padjajaran bentuknya mengingatkan seperti arca yang ada di situs Purwakalih di kota Bogor.

Setelah kluyuran kesana kemari dan ngobrol2 akhirnya kita berangkat pulang. Meluncur kebawah terus… tergantung nyali saja.. dan om Adi meluncur kencang bak pebalap.

Didaerah Gadog hujan rintik rintik dan di daerah Sentul .. hujan besar … berteduh dulu.. ditungguin kayaknya bakalan lama berhenti.. kita lanjutkan perjalanan berhujan hujanan ria … dan hujannya malah semakin besar …. seperti semua air dicurahkan dari langit … jalanan Sentul Citeureup berubah seperti sungai yang mengalir… karena drainase yang jelek sehingga air selokan semua meluap kejalan. Karena hujan tambah besar kita menepi sambil makan siang di warung soto pinggir jalan… dikasih nasi hangat segunung bak kuli .. karena dingin dan lapar… disikat habis plus sruput teh panas manis…. benar benar nikmat bangettt.

Lanjut lagi mumpung hujan agak sedikit berkurang intensitasnya … tapi ternyata hanya sebentar… hujan deras kembali untungnya tidak disertai angin kencang… wah benar2 langit seperti menumpahkan semuanya.

Ehhh … sampai di Cibubur kering sekering keringnya …. alias tidak hujan. Lepas semua rain gear.. dan lanjut lagi sampai ke rumah.

Lokasi Makam Jerman Arca Domas
Kampung Arca, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Gadog, Ciawi, Bogor.
Koordinat Googlemaps -6.707536, 106.910735


Minggu 2 Desember 2018

Iklan

10 thoughts on “Bukti keberadaan Tentara Nazi Jerman di Indonesia pada PD II – Makam Jerman Arca Domas

  1. Demen banget saya sama artikel blusukan + sejarah kayak gini, mantabs 👍👍

    Baru tahu juga kalau jerman dl pernah bantu indo pas perang kemerdekaan

    Btw tempatnya sejuk banget ya, ademm gitu rasanya di mata

  2. Makamnya keren. Gak nyangka ada makam pasukan nazi ini di pelosok nun jauh di Bogor. Dalam buku sejarahpun tak ada saya baca tentang makam ini.

    Hari minggu itu saya berada di Batu Layang, Cisarua. Waktu pulang dari sana memang hujan. Saya turun dari Batu Layang jam 11 siang, sampai pintu toll Ciawi sekitar jam 14.10 disambut hujan besar.

    • kebayang dulunya… pelosok bener … susah untuk sampai kesini… nyatanya sampai kesini juga mereka 🙂

      wah… kita ada dalam zona yg sama..
      kena hujan besar.. jam 14-an saya ada di daerah Sentul Citereup

  3. Hanupis Kang rela menanjak dan berhujan ria dan kami pembaca disuguhi postingan nazi bergizi. Pelacakan bacaan sejarah yang ulas kiprah warga Jerman kelola perkebunan. Arsitektura makamnya khas ya, putih bersih disela rimbun hijau.
    Salam sehat, ngegowes dan berbagi cerita.

  4. Sebelumnya saya membaca juga mengenai makam tentara nazi ini, tapi baru pada tulisan ini saya melihat jelas makam2 tersebut lewat foto-fotonya disini.
    Hatur nuhun telah berbagi, Mas.

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s