Mencari Sisa Kerajaan Pajajaran di Bogor

Setelah jelajah mencari sisa sisa kerajaan Pajajaran di Sindang Barang dan daerah Ciaruteun Ilir Bogor, rasanya ngga afdol kalau tidak explore di pusatnya kerajaan Pajajaran … di kota Bogor.

6.23 saya sudah cuss .. lewat Jatiwaringin, Pondok Gede, Cibubur …. muncul2 di Jalan Raya Bogor, lewat pasar Cibinong yang crowded .. terus gowes dan tibalah di sisi Kebun Raya Bogor.

PULO GEULIS
Selepas melewati Kebun Raya saya masuk berbelok belok lalu menyebrang melalui jembatan kecil dan tibalah di daratan seberang… sampailah di Pulau Cantik aka Pulo Geulis. Di sebut pulo karena daratan ini di kelilingi oleh sungai Ciliwung sehingga terbentuk seperti pulau dengan luas sekitar 3,5 ha.

Berdasarkan sejarah pulo ini dijadikan tempat peristirahatan keluarga kerajaan Pajajaran, dengan nama Parakan Baranangsiang. Dan ketika kerajaan Pajajaran di serang dan dihancurkan oleh Pasukan Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579, seluruh area kerajaan dan kotanya ditinggalkan oleh para keluarga kerajaan dan semua penduduk termasuk di pulo Geulis ini yang juga terbengkalai dan menjadi hutan belantara. Pada tahun 1703-1704 Belanda melakukan ekspedisi Ciliwung yang dipimpin Abraham Van Ribeck dan menemukan pulau ini beserta sisa sisa peninggalan kerajaan Pajajaran. Konon pada saat itu pulau ini sudah dihuni oleh kaum pribumi dan Tionghoa. Peninggalan tionghoa zaman dahulu disana yang sampai saat ini ada adalah wihara Dewa Pan Kho. Yang dipercayai termasuk salah satu klenteng tertua di Indonesia.
Tahun 1923 Belanda membuat jembatan kepulau ini dan warga pulau ini terus bertambah sampai saat ini yang semakin padat.

Perumahan di pulo ini sangat rapat dan banyak sekali lorong2 dan gang kecil seperti labirin. Beberapa kali saya melihat keluarga Tionghoa yang bermukim di perumahan padat ini dan berbaur dengan warga pribumi.

Rata2 dinding atau tembok2-nya sudah digrafiti dengan berbagai thema dari thema sejarah sampai thema modern. Pembuatan grafiti atas inisiatif pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan berbagai pihak yang didukung oleh hotel The 101 Bogor dan perusahaan cat PT Propan Raya serta mengajak banyak artis mural dari berbagai tempat untuk ikut berpartisipasi sehingga tampilan kampung di Pulo Geulis menjadi lebih semarak.

Pada saat saya disana ada sekelompok bule yang datang bawa camera melakukan hunting photo di sertai seorang tour guide pribumi cewe, berkelana dari gang ke gang … berinteraksi dengan warga .. membeli jajanan kampung yang dijual disini… bahkan saya juga di jadiin objek photo lho…. #MerasaKeren.

Semoga program untuk membuat pulo Geulis menjadi destinasi wisata terus berjalan dan berkelanjutan sehingga menguntungkan banyak pihak. Dibuatkan juga spot2 yang photogenic .. bahkan gambar 3D .. dikemas program2 yang menarik sehingga banyak turis lokal juga yang berwisata kesini apalagi jika dibuatkan kedai kopi seperti yang sekarang sedang trend dibuat di dalam gang gang apalagi jika bisa view sungai … pasti tambah ramai lagi.. πŸ™‚

Oya… saking labirinnya.. penuh gang2 kecil dan berbelok belok … ketika mencoba explore kesana kesini… perasaan sudah jauh … ehh ternyata muter lagi ketempat semula … welehh, ketika akan keluar dari sini saya harus bertanya arah2 beberapa kali … penduduk disini sangat ramah2 .. jadi asyikkk deh untuk berekreasi ke Pulo Geulis.

Lokasi Pulo Geulis
Kampung Pulo, Babakan Pasar, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.604594, 106.803554

Situs PURWAKALIH
Perjalanan dilanjutkan ke destinasi ke dua, tidak terlalu jauh dari Pulo Geulis, sekitar 3 kiloan.
Posisinya ada di pinggir jalan tepat di belokan, kalau berjalan cepat apalagi naik kendaraan kemungkinan terlewatkan.

Saat saya datang pagarnya terkunci, tidak tahu dimana kuncennya, untung pagarmya tidak terlalu tinggi jadi bisa melihat kondisi di dalam.

Terdapat tiga batu dengan tinggi +- 40 cm sd 50 cm-an yang berbentuk menyerupai manusia. Tapi satu batu sudah tidak memiliki kepala lagi.
Situs ini pertama kali diketemukan oleh peneliti Belanda, Pleyte di tahun 1769-an. Dalam tulisannya di sebut Purwa Galih. Purwakalih diambil dari bahasa Sunda Kuno, Purwa artinya pertama dan Kalih atau Galih artinya bersinar. Situs ini menjadi tempat orang zaman dahulu untuk berdoa kepada arwah leluhur. Dahulu namanya situs Purwa Galih, namun sekarang masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan situs Purwakalih.

Situs ini sempat β€œmenghilang” dan ditemukan secara tidak sengaja tahun 1991, pada waktu penggalian tanah oleh para pekerja yang sedang melaksanakan pelebaran jalan. Dipercayai bahwa situs ini merupakan peninggalan penasehat Prabu Siliwangi Raja Padjajaran.

Lokasi situs Purwakalih
Jl. Lawang Gintung, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.624767, 106.809177

Prasasti BATU TULIS
Tidak jauh dari situs Purwakalih, sekitar 130 m-an, lokasinya satu sisi dengan situs Purwakalih atau tepatnya di sebelah sekolahan, di sebrang Istana Batu Tulis, terdapat bangunan kecil yang dipagari sekelilingnya dan sudah ada plang Prasasti Batu Tulis sehingga mudah ditemukan.

Ketika tiba disana pagarnya terbuka dan kuncennya ibu Maemunah ada di dalam, kata beliau biasa kalau sabtu minggu suka ada yang datang kesini.

Batu Tulis ini diketemukan oleh Scipio perwira VOC Belanda yang sedang melakukan ekspedisi mencari sisa keberadaan kerajaan besar Hindu Sunda di daerah Bogor, tercatat dalam laporan ekspedisi Scipio tersebut bertanggal 28 Juli 1687.

Prasasti ini dibangun oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa di kerajaan tersebut antara tahun 1521-1536. Pembuatan prasasti ini ditujukan sebagai penghormatan kepada ayahandanya, raja pendahulunya yang sangat terkenal, yaitu Prabu Siliwangi (1482-1521).
Tahun pembuatan yang tertera pada prasasti atau Batu Utama menyebutkan angka 1455 tahun Saka atau 1533 Masehi.

Di dalam bangunan terdapat terdapat 4 buah batu dalam berbagai ukuran dan bentuk, batu utama yang ada tulisan Aksara Sunda Kawi diterjemahkan sbb :
β€œ Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Suwargi. Ia dinobatkan Dengan gelar Prabuguru Dewataprana : dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunutiga, cucu Rahiyang Dewa Niskala Wastu Kencana yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (dibuat) dalam (tahun) saka 1455 β€œ.

Berdasarkan tulisan Scipio yang melakukan ekspedisi disebutkan bahwa kondisi kota Bogor pada saat itu berbentuk hutan belantara artinya sejak dihancurkan kerajaan Banten menjadi terbengkalai dan menjadi hutan kembali. Dan Scipio merasa yakin keberadaan kerajaan ada di daerah atau di sekitar Batu Tulis selain ditemukan prasasti juga diketemukan seperti bekas jalan yang lurus dan berbatu serta pohon yang berjejer di kiri kanan.

Selain batu utama terdapat batu yang menjulang atau biasa disebut batu lingga yang merupakan simbolisasi kejantanan kaum laki-laki. Meskipun ada interpretasi lain dari posisi Batu Utama dan Batu Lingga yang berdampingan yaitu Batu Lingga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Prabu Siliwangi. Sementara Prasasti Batu Tulisnya sendiri merupakan perwujudan dari Prabu Surawisesa, anak dari Prabu Siliwangi yang bertahta setelahnya.

Batu Ketiga adalah batu dengan bekas telapak kaki dan bekas lutut, seperti menjelaskan bahwa seseorang sedang berlutut atau memberikan salam hormat. Sedangkan batu Keempat berbentuk seperti senderan. Konon itu merupakan senderan buat raja Pajajaran. Menurut penjelasan di kertas berpigura di dalam bangunan, seharusnya terdapat 15 buah batu yang merupakan bagian dari situs. Hanya konon salah satu batu diambil oleh pasukan kerajaan Banten ketika menaklukan kerajaan Pajajaran. Batu itu adalah batu Gigilang yang berbentuk singgasana tempat duduk yang dipergunakan ketika melakukan penobatan raja baru. Dengan dirampasnya batu ini, kerajaan Banten berharap tidak ada lagi penobatan raja-raja dalam lingkungan kerajaan Pajajaran.

Sedangkan tumpukan batu yang seperti nisan makam dikabarkan merupakan tempat kuda ditambatkan.

Lokasi Prasasti Batu Tulis
Jalan Batutulis No. 54, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.623666, 106.809002

Batu DAKON EMPANG
Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalanan kota Bogor dan masuk kedalam gang (mobil tidak bisa masuk). Di gang ini pas ada kawinan pula lagi dan cukup banyak undangan yang datang bahkan tambah meriah karena ada dangdutan. Ketika saya turun dari sepeda karena akan melewati hajatan, saya melihat ke samping dan langsung terbaca plang batu Dakon… Ini dia lokasi batu dakon, tepat di pinggir gang di area perkampungan padat. Tanah seluas +- 9 m dan dipagari tembok, disanalah batu dakon berada. Sepertinya tidak terlalu terawat.

Batu Dakon merupakan batu andesit dan peninggalan masa prasejarah yang digunakan sebagai media pada upacara ritual. Konon situs batu dakon ini ada penunggunya yaitu Eyang Adong Pranggong Jaya panglima perang Kerajaan Pakuan Pajajaran dan dua anak buahnya. Jadi apakah batu dakon ini ada hubungannya dengan kerajaan Pajajaran …. Wallahu a’lam.

Mau photo agak jauh supaya terlihat suasana sekitar batu dakon, tapi kondisi tidak memungkinkan karena ada hajatan dan banyak orang, mana jadi kayak orang aneh sendiri … pakai helm keringatan tuntun sepeda … para undangan yang rapi berbatik jadi ngelihatin saya.. mungkin dipikirnya saya adalah artis dangdut … #NgarangBener.

Lokasi Batu Dakon Empang
Gang Raden Saleh, Kampung Raden Saleh, Kelurahan Empang, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.611931, 106.798135

Makam Raden Saleh Syarif Bastaman — Bonus
Lanjut dari batu Dakon ketika menyusuri gang, tiba2 saya melewati satu komplek kuburan kecil yang sangat bersih terawat. Saya baca di prasastinya Makam Raden Saleh Syarif Bastaman. Wah ternyata ini adalah makam pelukis Indonesia zaman dahulu (zaman Belanda) yang sangat terkenal … Raden Saleh, ternyata di semayamkan disini toh … di Bogor, ada di dalam gang, saya tidak menyangka akan menemukan kuburannya disini. Raden Saleh Syarif Bustaman lahir sekitar 1811 di Terboyo Semarang, dan wafat pada 23 Maret 1880 di Bogor.
Pada zamannya beliau adalah orang yang terkenal, dihormati tidak hanya oleh kaum pribumi dan orang Belanda tapi juga oleh warga negara lain. Pada zamannya beliau sering bepergian keluar negri – mungkin pada saat itu hanya satu dua orang pribumi yang bepergian ke luar negri — tercatat pernah ke Belanda, Jerman dan Perancis. Sudah pasti beliau sangat kaya raya, salah satunya adalah mendirikan rumah bergaya neo gothic di Cikini dengan pekarangan yang sangat luas dan dibuatkan kebun binatang disana. Sekarang rumah tersebut menjadi rumah sakit Cikini dan kebun binatangnya dipindahkan ke Ragunan dan menjadi awal Kebun Binatang Ragunan.

Lokasi Makam Raden Saleh Syarif Bastaman
Gang Raden Saleh, Kampung Raden Saleh, Kelurahan Empang, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.609889, 106.797555

Saatnya pulang.. perjalanan pulang masih melipir ke 3 tempat yang menarik selama perjalanan tapi tidak ada hubungannya dengan sejarah kerajaan Pajajaran, puas lihat2 … saatnya benar2 going home… karena suasana Bogor meskipun terasa panas tapi langit agak sedikit mendung…

Di jalan Raya Bogor saya mampir dulu makan sengaja cari sop, cape dan panas2 begini makanan berkuah bagi saya lebih gampang dikunyahnya dan bikin seger, kebetulan saya melihat tempat ini, namanya Sop H Suparta, karena terlihat bersih dan nyaman maka saya mampir. Ternyata…. dari semua sop yang pernah saya makan .. sop H Suparta termasuk yang the best, saya acungkan 2 jempol bahkan 4 jempol deh kalau ada, harganya juga termasuk ekonomis, satu sop dan teh botolan hanya 41 ribu, untuk rasa seenak ini.. harga segitu okelah. Cobain deh kalau lagi beredar di daerah sini.

Tubuh kembali berenergi dan gowes pulang lebih semangat, macet di daerah pasar Pondok Gede sampai pintu tol Jatiwaringin, selebihnya lancar dan sampai dirumah jam 14-an.

Sabtu 8 September 2018

Iklan

10 thoughts on “Mencari Sisa Kerajaan Pajajaran di Bogor

  1. Dulu ketika wira-wiri gawe di Bogor saya beberapa kali singgah di rumah makan sayur asem Purwakalih situ Kang.
    Lama di Bogor tapi saya gak tau ada nama Kampung Raden Saleh. Waduh, kuper nih saya. Padahal saya dulu ada kerjaan gak jauh dari Empang.

    Salam gowes kang.

    • ternyata pernah beredar dekat situs2 itu … dulu informasi masih terbatas tidak seperti sekarang asal mau googling aja
      btw kalau tahu ada sayur asem enak di sana .. saya bakalan mampir πŸ™‚

      salam sehat kang Alris

  2. Jangan cuma dijadikan objek foto sama wisatawan dong. Sesekali fotonya dipajang juga, soalnya penasaran selama ini sama penulis di blog ini hahahaha.

    Ngomong-ngomong sampai sekarang saya masih penasaran bagaimana caranya orang dulu bikin batu yang ada jejak tapak kakinya gitu ya? Apakah ditatah dan dipahat, atau mereka memakai ilmu khusus yang membuat tapak mereka bisa meninggalkan jejak di bebatuan prasasti?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s