Berjalan jalan ke Pantai Cilincing kampung Nelayan Jakarta

Penasaran … pengen tahu … atau kepo
Mungkin tiga tiganya … bagaimana sih pantai Cilincing itu.. hanya dengar dengar sebagai pantai nelayan atau kampung nelayan.

Menuntaskan kepenasaran akhirnya saya berangkat kesana.
Kalau kata kids zaman now.. trip-nya ga fancy .. Sepanjang perjalanan melewati daerah kumuh, menyusuri jalan Cakung Drainase. Melewati perkampungan padat, yang umumnya berwirausaha di bidang barang bekas .. dari besi bekas, plastik bahkan ada sol sepatu bekas.
Jalanannya dari cor beton yang banyak polisi tidurnya.. sampai jalanan tanah berbatu batu.

area barang bekas di jalanan Cakung Drainase

Terus saja berjalan menyusuri sungai berwarna hitam ini, tidak tahu berapa underpass dilewati, kemudian suasana berubah.. di tepi sungai adalah perahu perahu nelayan berderet deret parkir … artinya ujung laut sudah dekat.

muara sungai Cakng Drainase dan kampung Nelayan

Rumah rumah tetap padat, melewati tempat pelelangan ikan dan masuk ke gang gang kecil dan ramai anak2 kecil… terus blusukan di gang gang ini dan menyebrangi jembatan..
taraaa… ternyata masuk ke area crematorium melalui jalan samping .. langsung ke tempat pembakaran jasad .. hmm ternyata begini ya .. tempat pembakaran mayat itu. Mentok di belakang… ada secuil area pohon bakau dan terlihat bentangan tanggul yang memanjang.. tapi tidak bisa kesana karena terpotong oleh parit yang cukup lebar.

secuil hutan bakau tersisa di belakang Krematorium

Akhirnya saya keluar melalui pintu utama komplek krematorium ini… satpam di pintu gerbang mukanya melongo dan heran … mungkin heran lihat orang keren … #PedeAmatYa

Keluar dari komplek menyusuri jalan lagi dan masuk ke jalan kecil lalu masuk lagi gang gang kecil yang padat.. terlihat kumuh dengan air menggenang di selokan depan rumah dan lalatnya…. gileee bener.. ribuan kali … pokoknya benar2 rapet lalat2 ini berterbangan ..

Gang ini berbelok belok.. untuk memastikan arah bertanya tanya sama penduduk sekitar dan muncul muncul seperti didalam lapak lapak pasar tradisional … kaki menapak bunyinya kriuk kriuk.. menginjak cangkang kerang … pokoknya kerang hijau ada dimana mana, di meja lapak dan bahkan keluar dari “pasar” ini… menggunung tumpukan cangkang kerang, makanya di pintu masuk gang ada tulisan Kampung Kerang Hijau. Dan di depan sudah terbentang tanggul.

bergunung gunung cangkang kerang hijau

Penasaran saya memanjat keatas tanggul dan melihat lepas laut luas. Dikejauhan terlihat jermal jermal untuk menangkap ikan dan kapal kapal laut.
Berjalan ke kanan dan kiri menyusuri tanggul .. disebelah barat ke arah Tanjung Priok terlihat kapal kapal besar, sedangkan ke arah timur hanya terlihat kapal kapal nelayan. Meskipun panas terik jam 9-an.. tapi tidak terasa menyengat.. mungkin karena hembusan angin laut kali ya…
Rehat diatas dam sambil menikmati camilan camilan… hampir tidak ada orang di atas tanggul ini, paling ada pemancing yang duduk termangu di “dermaga” bambu.

Tanggul ini dibuat untuk menahan air laut pasang yang bisa mengakibatkan banjir rob di perumahan pada para nelayan. Tanggul ini bisa dikatakan mini giant sea wall yang membentang cukup jauh.

Penasaran dengan ujung tanggul, saya gowes ke arah sana, di ujung tanggul seperti di buat pintu masuk kapal nelayan untuk parkir di area aman dan mudah akses naik turun perahu.

Setelah berjalan kesana kemari memperhatikan perahu2 dan suasana tanggul, akhirnya saya gowes balik, dengan ambil jalan lain melewati hamparan jemuran ikan asin. Gowes melalui jalan raya dengan melewati Vihara Lalitavistara dan di area tersebut terdapat tempat penitipan abu bernama Wan Lie Chie dan ada menara pagoda tujuh tingkat yang kabarnya menurupakan pagoda tertua di Jakarta. Dahulu sih pagoda ini bisa dinaiki tapi kondisinya sekarang miring seperti menara Pisa … jadi tidak bisa dinaiki. Berdasarkan sejarah, tempat ibadah umat Buddha ini dibangun pada masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen dan dahulu ini bernama Kelenteng Sam Kuan Tai Tie..

Rute pulang sengaja melalui jalur BKT (Banjir Kanal Timur) meskipun sedikit berputar tapi lebih cepat karena jalanan yang mulus dan relatif sepi. Sengaja rehat sejenak dahulu di area jembatan kayu … berteduh dari sengatan terik matahari, kemudian lanjut pulang.

jalan pulang melalui jalur Banjir Kanal Timur


Lokasi Pantai Cilincing
Kali Baru, Cilincing, Jakarta
Koordinat googlemaps -6.096228, 106.934798

 

Minggu 5 Agustus 2018

Iklan

4 thoughts on “Berjalan jalan ke Pantai Cilincing kampung Nelayan Jakarta

  1. Kosa kata Pantai Cilincing mengait krematorium dalam ingatan, ternyata gegowesannya mampir di situ.
    Kebayang gunung kulit kerangnya dan upaya pemanfaatan limbahnya terlihatkah di situ Kang? Hanupis oleh2 dari pantai nelayan Cilincing. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s