Melihat “sisa” Peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran di Sindangbarang Bogor

Salah satu kerajaan besar di tatar Pasundan adalah kerajaan Pakuan Pajajaran yang pernah berkuasa lebih dari 5 abad sebelum hancur dan hilang. Dikabarkan sisa sisa kerajaan tersebut masih ada tersebar di beberapa area Bogor dan salah satu yang paling banyak adalah di daerah Sindangbarang Bogor.

Menurut referensi disekitar Sindangbarang terdapat 94 titik sebaran situs tua … wow banyak banget ya. Antara lain situs punden Surawisesa, Taman Sri Baginda, Sumur Jalatunda, Punden Rucita, Hunyur Cibangke, Punden Pasir Ater, Batu Tapak, makam Prabu Darmasiksa, serta belasan situs lain yang tersebar di lereng-lereng hingga puncak Calobak, salah satu puncak Gunung Salak.

Menurut penelitian Kerajaan Pakuan Pajajaran berada disana sekitar abad 13-15 Masehi dengan 9 raja yang pernah berkuasa. Tahun 1579, Kerajaan Pajajaran diserang dan dihancurkan oleh Pasukan Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf sehingga bangunan bangunan hancur dan ditinggalkan terbengkalai menjadi hutan lebat. Perwira VOC, Scipio yang mendapatkan info tentang suatu kerajaan yang pernah besar dan hilang, tergerak untuk melakukan penelitian dan ekspedisi bersama tim-nya ke area Bogor pada tahun 1687 dan menemukan bukti bukti keberadaan kerajaan berupa reruntuhan dan bekas jalanan di daerah Bogor.

Rasa penasaran saya juga ingin melakukan ekspedisi .. eh piknik .. melihat peninggalan kerajaan besar tersebut. Kesanalah saya berangkat, jam 7.20-an sudah sampai ditikum perempatan Transyogi Cibubur, janjian ketemu jam 7.30. Duduk sebentar sambil baca2 enews hari ini.. #biarkeren supaya dianggap ga baca medsos mulu … 🙂

Tak lama om Adi nongol. Ngga pake basa basi.. langsung gowes. Melewati pintu perumahan Citra Indah, The Address, kolong tol, Tapos… terus aja, muncul2 dijalan Raya Bogor. Melewati Lipi.. melewati … eh sedikit memutari Kebun Raya Bogor.. Bolak belok di kota Bogor dan sudah berada di area pinggiran Bogor yang mengarah ke Gunung Salak … tapi masih jauh ke gunung Salak, disatu titik belok ke arah Sindangbarang.

Batu Punden Berundak Majusi
Spot pertamanya yang dilewati adalah Batu Punden Berundak Majusi. Ada papan petunjuknya di pinggir jalan dan kita masuk ke gang yang hanya bisa dilalaui motor dengan kanan kiri rumah2 penduduk. Ada beberapa percabangan.. seperti biasa tidak ada lagi papan petunjuk.
Yang anehnya.. bertanya ke penduduk disana… banyak yang tidak tahu… padahal di gerbang gang di jalan raya ada papan petunjuknya .. koq bisa mereka tidak peduli atau penasaran untuk cari tahu dan melakukan ekspedisi di kampungnya … 🙂 Dari sekian yang ditanyai ada juga yang tahu dan menunjukkan arahnya.. ketemu percabangan lagi .. tanya lagi… tidak tahu lagi.. terus begitu berkali kali.. bahkan banyak yang menampilkan muka bengong kalau ditanya situs batu Punden Berundak Majusi… welehhh.. kita jadi kayak orang bloon.
Akhirnya ada orang yang tahu dan memberikan detil arahnya, kita harus masuk melipir diantara rumah2 penduduk dan masuk ke area kuburan yang rimbun oleh pepohonan kayu dan rumpun yang tinggi tinggi… hiyyy.. cari2 di area kuburan koq ngga ada.. diujung kuburan adalah lembah dengan semak belukar lebat dan pepohonan rimbun. Masuk sedikit ke area lembah tapi balik kembali.. takut ular.. hiyyy.

Bagi tugas, saya cari ke sebelah sana dan om adi ke area lain.. Tidak ada orang diarea ini .. mau tanya siapa. Om Adi teriak memanggil… saya balik ke arah dia. Barusan ketemu orang lewat katanya …. ternyata Batu Majusinya ada di area lembah … tapi tidak ada yang ngurus.. jadi tertutup semak belukar seperti ini … hmm pantes .. orang2 di perkampungan ini jarang yang tahu ya, keadaannya begini toh.

Berdasarkan yang saya baca2 disebutkan terdiri dari 7 tingkat. Pada bagian tengah teras ke-2, ke-3, dan ke-4 terdapat batu-batu besar berdiri, seperti menhir. Sayang saya cari2 di internet tidak diketemukan fotonya. Kenapa disebut Majusi .. kemungkinan penduduk sekitar saja yang menamakannya seperti itu. Dan sepertinya kondisinya sudah banyak berubah karena sebagian areanya dijadikan perumahan.

situs Punden Berundak Majusi yang tidak terawat dan tertutup oleh rimbunnya semak dan pepohonan

Disebutkan pula bahwa di area ini terdapat beberapa artefak seperti batu altar, punden berundak Surawisesa, Punden Berundak Leuweung Karamat dan Punden berundak Saunggalah. Kondisinya sekarang hanya ada sisa sisa karena banyak berubah menjadi rumah, pesawahan dan lain sebagainya. Butuh kepedulian pemerintah dan masyarakat untuk melestarikannya. Dipercayai bahwa punden punden berundak ini adalah tempat sembahyang kerajaan Pajajaran.

Lokasi Punden Berundak Majusi
Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.625983, 106.768511

Situs Sumur Jalatunda
Situs kedua yang dilalui dan juga ada papan petunjuknya di pinggir jalan adalah Mata Air Jalatunda.

Kembali masuk gang.. dan tidak ada lagi papan petunjuk lain .. kita harus bertanya tanya pada penduduk.. untungnya penduduk disini tahu lokasinya. Masuk ke gang yang lebih kecil lagi dan tepat disisi gang adalah situsnya. Dipagari tembok dan luasnya tidak besar. sekelilingnya adalah rumah penduduk yang padat. Diarea Jalatunda selain ada mata air juga ada beberapa batu menhir.

lokasinya ada di himpitan perumahan

Mata air Jalatunda adalah lubang sumur dangkal, sekitar 2 x 1 m, air keluar dari sela-sela susunan batu, dan konon tidak pernah mengering walaupun kemarau. Dan sebagian dialirkan ke kolam Taman Sri Bagenda yang berjarak sekitar 20 meteran.

Lokasi Situs Sumur Jalatunda
Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.629928, 106.769418

Taman Sri Bagenda
Lokasi tidak jauh dari Jalatunda paling sekitar 15 meteran. Kolam persegi panjang dengan sekelilingnya sudah padat oleh rumah rumah penduduk. .. kalau tidak ada plang kita akan menyangka kolam ikan biasa saja karena di area ini banyak kolam ikan. Dikolam Sri Bagenda banyak ikan yang ditanam oleh penduduk. Kolam ini pun konon tidak pernah kering, karena airnya diperoleh terus menerus dari aliran mata air Jalatunda.

yang berdiri terfoto bukan pangeran apalagi seorang raja 🙂

Kolam persegi panjang ini ini adalah bangungan dari masa lalu, tepian kolam ditutup oleh susunan batu dan ada 2 batu besar yang nongol di air yang dipercayai dulunya ini bagian dari dasar tiang bale atau saung.

Diyakini Taman Sri Bagenda adalah taman yang besar dan indah, kolam adalah salah satu bagian yang masih tersisa cukup lengkap. Taman ini dibuat bertingkat tingkat dengan susunan tumpukan batu dan masih terlihat sisa sisanya sedangkan sisa lainnya sudah berubah karena menjadi perumahan penduduk.

Konon tempat ini adalah tempat tinggal salah satu istri dari Prabu Siliwangi yang bernama Dewi Kentring Manik Mayang Sunda .

Lokasi Taman Sri Bagenda
Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.629379, 106.769542

Batu Karut
Untuk menuju Batu Karut kita melewati Kampung Budaya Sindangbarang… tanjakannya mulai terasa. Kalau sebelumnya tanjakan hanya landai doang… nah ini baru masuk definisi tanjakan … untungnya jaraknya tidak jauh, tanya2 tentang lokasinya.. semua orang yang ditanya tahu arahnya.. eh ada satu orang yang tidak tahu deng .. mungkin dia kurang update.

Sampailah di lokasi Batu Karut, letaknya ada di belakang rumah warga tidak jauh dari jalan, bersisian dengan kuburan… yang dipercayai ini adalah kuburan kuno berusia ratusan tahun.

Batu raksasa ini diperkirakan tinggi 5 meter dan panjang sekitar 7 meter. Dinamakan batu Karut karena bentuknya yang terlihat memiliki kerutan kulit manusia. Konon batu ini diturunkan dari Gunung Salak oleh Prabu Siliwangi sebagai benteng. Dipercayai sekitar batu Karut adalah taman jika bisa melihatnya dengan mata batin … ya cerita cerita batu ini penuh dengan mistis. Bahkan dipercayai disekitar area Batu Karut tertanam benda benda pusaka peninggalan kerajaan. Kabarnya sudah ada beberapa yang melakukan penggalian dan diusir oleh penduduk sekitar karena dikhawatirkan merusak. Tapi pernah ada dari tim peneliti dari universitas yang melakukan penggalian dan menemukan benda peninggalan dan diambil untuk diteliti tapi tidak tahu lagi berita mengenai benda tersebut.
Konon disekitar Batu Karut suka muncul penampakan pangeran mengendarai kuda putih dan membawa tombak.
Batu Karut sendiri kabarnya ada 2 dan yang ini adalah yang kesatu dan terbesar. Satu lagi ada di bagian lain selain itu juga masih ada artefak lainnya di desa ini yang bisa untuk di explore antara lain Batu Kursi.

Lokasi Batu Karut
Kampung Batu Karut, Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor
Koordinat Googlemaps -6.634813, 106.761177

Batu Tapak
Lanjut lagi ke lokasi berikutnya melalui jembatan baru Ragasi, 3 – 4 tahun lalu pernah sesepedahan kesini … belum ada jembatan, harus nyemplung kesungai Ciapus jika ingin nyebrang, kalau musim hujan tidak bisa dilalui. Syukurlah sekarang tidak harus nyemplung lagi.. warga sekitar pasti senang karena ini merupakan akses utama jalan desa.

Jalanan mulai menanjak.. tanjakannya lebih dari ke Batu Karut.. sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh … berhubung menanjak jadi terasa lama. Dan ketemulah papan pentunjuk Batu Tapak, kita masuk ke gang semen dan terus menurun melewati perumahan penduduk dan turun melewati kebun kebun di sebelah sisi dan sisi sebelahnya adalah jurang sehingga harus berhati hati agar tidak “kecemplung”.
Masuk lagi perkampungan kecil dan keluar lagi .. jalan berubah dari semen menjadi tanah dan menukik ke sungai yang ada di bawah lembah.

Lokasi Batu Tapak ini sangat unik dan keren. Suasana disini terbilang rimbun oleh pepohonan dan rumpun bambu… sayang Batu Tapaknya sudah tergerus oleh usia dan cuaca. Cetakan sepasang tapak kaki di batu hanya terlihat samar samar. Saya tidak medapatkan informasi asal muasal tapak kaki ini. Apakah Batu Tapak ini masih ada hubungan dengan kerajaan Pajajaran …. wallahualam.

Sepasang tapak kaki yang memudar oleh usia dan cuaca

Kita duduk duduk dulu rehat dibebatuan sungai ini menikmati kerimbunan dan gemercik air. Ada beberapa pancuran air yang digunakan warga untuk mencuci pakaian. Di area sisi yang rimbun terdapat seperti ceruk yang kabarnya sering digunakan untuk bertapa.

tempat yang digunakan untuk bertapa

Lokasi Batu Tapak
Kampung Kampung Cileu’eur, Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor
Koordinat Googlemaps -6.629012, 106.748218

Minggu 9 Juli 2018

Iklan

6 thoughts on “Melihat “sisa” Peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran di Sindangbarang Bogor

  1. Situs-situs seperti ini jarang banget yang mendatangi, apalagi kalau referensinya kurang, bakal bingung hehehehe.
    Tapi salut sama orang yang suka dengan hal-hal berkaitan dengan purbakala dll. Banyak yang rela datang dan mengamati batu atau lainnya.

  2. Ternyata banyak ya kang peninggalannya. Saya mah cuma taunya prasasti batu tulis, itu doang.
    Berharap suatu saat peninggalan-peninggalan itu dikelola dan ditata, biar jadi wisata sejarah

  3. Membaca sambil berpeluh…ngegowes dari The Address hingga Sindang Barang Bogor….
    Sulit ya Kang, menumbuhkan kebanggaan ada situs cagar budaya di lingkungan tinggal. Kebayang saat tanya warga dan ekspresi beliau tidak tahu.
    Hanupis oleh2 dari Sindang Barang. Salam

    • kesadaran dan kepedulian memang masih rendah mba.. sayang banget .. warisan besar sejarah kita bisa rusak dan hilang.
      sepertinya butuh dari pemerintah dan komunitas yang peduli untuk mengajak maayarakat bergerak dan peduli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s