Menjelajah Destinasi Destinasi Wisata Tahura Ir H Djuanda Bandung

Kata orang Bandung dikelilingi gunung, ada gunung berarti ada hutan … bahkan tepat di pinggir kota Bandung di daerah perbukitan Dago terdapat hutan …. Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda atau orang Bandung lebih mengenalnya dengan sebutan Pakar Dago atau Dago Pakar.

Tempat ini termasuk familiar bagi saya. Waktu kecil bersama teman2 suka berjalan kaki menanjak dari rumah menuju Tahura .. meskipun cukup jauh tapi tidak terasa capek, karena perasaannya sedang bermain main 🙂

Tujuan main kesini adalah menangkap kalajengking di area hutan pinus, dan bermain main air di sungai Cikapundung yang ada di lembah area ini atau bermain main di gua Belanda atau Jepang.

Seiring perjalanan waktu ada ada beberapa tempat menarik yang dijadikan spot wisata yang pada saat saya kecil belum ada atau belum diketemukan. .. apa saja ?? Jadi pengen eksplore kesana lagi.

Tahura Ir H Djuanda berada pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Luas Tahura mencapai +- 590 hektare membentang dari Curug Dago sampai ke Maribaya dan Tebing Keraton.

Area ini pada zaman Belanda tahun 1922 sudah dijadikan hutan lindung. Tahun 1963 saat meninggalnya Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja (Ir. H. Djuanda) maka hutan lindung ini diabadikan untuk mengenang jasa-jasanya dan waktu itu pula jalan Dago dinamakan jalan Ir. H. Djuanda. Tapi peresmiannya dilakukan pada tanggal 14 Januari 1985 yang bertepatan dengan hari kelahiran Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah Taman Hutan Raya pertama di Indonesia.

Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja lahir di Tasikmalaya 1911 dan pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia ke 10 sekaligus yang terakhir (9 April 1957 – 9 Juli 1959). Setelah itu menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Sumbangan yang terbesar adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea.

Untuk masuk ke Tahura sebetulnya ada beberapa akses masuk, saya sengaja tidak melalui gerbang utama tapi melalui jalur pejalan kaki yang melewati gang perkampungan penduduk dan jalur pipa air turbin PLTA Dago Bengkok, banyak yang ngga ngeh bahwa disini ada PLTA. Spot jalur pipa air ini kece untuk foto2 eksis di medsos dan serasa bukan di Bandung.

PLTA Dago Bengkok
PLTA Dago Bengkok dibangun tahun 1923 oleh Belanda, dahulu disebutnya Centrale Bengkok dan merupakan PLTA pertama di Indonesia. Dibangun untuk kebutuhan suplly listrik bagi orang Belanda dan bangsawan yang tinggal di Bandung termasuk untuk listrik di kawasan Braga Bandung yang saat itu adalah kawasan elit.
Aliran airnya berasal dari sungai Cikapundung masuk melalui intake Bantar Awi di dalam Tahura dan kemudian ditampung terlebih dahulu di danau buatan di area Tahura untuk mengendapkan lumpur dan kotoran yang terbawa, kemudian baru dialirkan ke pipa utama untuk memutar 3 turbin dan 3 generator yang mampu menghasilkan listrik sebesar 1.05 Mega Watt (MW). Sampai saat ini mesin yang dipergunakan untuk membangkitkan listrik di PLTA ini masih asli menggunakan peninggalan Belanda, belum diganti. Tapi tetap dirawat dan dilakukan rekondisi sehingga tetap terjaga dengan baik untuk menghasilkan listrik. Baca lebih lanjut

Iklan