Ngebolang ke Kampung Kolecer dan Curug Leuwi Bolang

Plan A adalah ngebolang ke suatu leuwi dan curug yang letaknya berdekatan … dua2nya tidak terkenal. Ancer2 lokasinya saya dapat dari googling sana sini. Ternyata realita berbeda … pindah ke plan B.. apa Plan B .. kita pikir dulu.

Seperti biasa.. berangkat siangan.. hampir jam 7 .. mendung .. tidak masalah .. kan tidak selamanya mendung itu kelabu .. lewat kalimalang, pondok gede, cibubur dan nongol di pertigaan area Cibinong. Jam 8 lewat sedikit saya lihat om Adi lagi bengong menanti di pelataran minimarket.

Duduk2 dulu sambil buka perbekalan dan saya mengutarakan niat mau pergi kemana …#FormalBangetYa
Tempatnya belum pasti dan tidak jelas .. kenyataan bisa berbeda… ” Ok .. tidak masalah.. kita let’s go ” kata om Adi. Easy going dan sabaran… cocok untuk di ajak ngebolang yang ga jelas jelas.

Cuss aja kita melaju .. lewat pabrik semen dan setelah pasar Citereup berbelok ke arah Sukamakmur. Jalanan rolling naik turun tapi di dominasi tanjakan tanjakan.

Disatu titik kita berhenti … heyy.. ada spot selfie.. komplit dengan sarana selfie : sayap, hati, dll. Sepertinya warga sekitar membuat wisata kekinian… wisata selfie. Dengan background lembah dan bentangan tebing kapur gunung klapanunggal yang indah cocok untuk jadi wisata selfie.

Gowes lanjut lagi, dan disatu lembah kita berhenti lagi … ” wah apa itu ? ” Kata warga sekitar akan dibangun agrowisata. Wah sekarang bener2 sedang tumbuh industri pariwisata .. bemunculan usaha2 di bidang tourism.

kabarnya akan dibangun jadi tempat wisata

memandang hamparan gunung kapur Klapanunggal

Setelah mengamati sejenak kita lanjut lagi. Melanjutkan dengan menyusuri jalanan menanjak dan di satu titik kita seharusnya belok kiri… tapi tidak bisa karena ada pintu gerbang yang tertutup dan dipagari sisi sisinya. Setelah diamati kontur tanahnya dengan foto yang saya dapatkan di internet sepertinya tidak mungkin foto tsb tersebut di ambil di daerah ini… kemungkinan hoax. Tak perlu disesali.. lanjut ke misi ke 2, menuju curug.

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan menanjak dan belok ke jalanan kampung dan terus masuk ke dalam. Di satu titik harus.. harus belok ke jalanan setapak yang kecil … berdasarkan panduan GPS sekitar 300 meter kurang untuk mencapai curugnya .. sudah dekat.
Kebetulan ada penduduk disana ” tidak ada curug disini pak, jalan setapak ini buntu.. hanya tembus ke pesawahan dan sungai, tapi tidak ada curug disana ”

Kembali kecewa … saya hanya ngenyir sepeda … eh nyengir kuda
“Sudah kita cari pemandangan saja, mumpung sudah disini ” om Adi berusaha menghibur.

BUDAYA KOLECER
Perjalanan dilanjutkan menyusuri perbukitan di jalanan kampung ini. Ada satu yang bikin penasaran … mendekati bukit ada suara yang mendengung dengung … suara baling2 bambu yang berputar kencang … ini bukan doraemon … setelah di perhatikan, di setiap puncak bukit area ini ada jajaran baling baling … kenapa begini…

Karena kepo… akhirnya kita mencari jalan untuk mendaki salah satu puncak bukit. Sampai di puncak bukit … ada jajaran tiang bambu dengan baling2 yang berputar kencang menghasilkan suara dengungan yang sangat keras.

menuju puncak bukit kolecer

Di puncak bukit ada warga lokal yang sibuk mengatur baling2. Ngobrol2 dengan penduduk lokal … ternyata ini adalah kebiasaan warga di daerah sukamakmur ini… sudah menjadi budaya setiap musim angin barat yang kencang yang umumnya dimulai dari bulan oktober, mereka memasang baling baling bambu ini atau disebut kolecer di hampir setiap puncak bukit.

dari bukit bisa memandang lembah2 .. termasuk jembatan yang terlalu kejauhan πŸ™‚

Dipuncak bukit memang angin bertiup sangat kencang … kita mengobrol ngobrol dengan warga lokal sambil menikmati pemandangan dan dengungan suara kolecer.

Di era digital dan serba gadget… budaya kolecer belum punah.. bagi warga kampung untuk mendapatkan kebahagiaan cukup dengan memanfaatkan resources yang ada, saat angin barat yang kencang… memasang kolecer dan mendengarkannya berdengung kencang adalah suatu kebahagiaan … bahkan mereka rela tidur malam di saung untuk mendengarkan bunyi dengungnya saat malam. Tidak punya gadget dan tidak bisa bermedsos tidak membuat mereka galau, hidupnya belum terkontaminasi seperti orang kota yang komplek dan konsumtif.

Puas menikmati dengungan kita lanjutkan perjalanan sambil mencari makan siang di daerah jalan raya Tajur Sukamakmur.

CURUG LEUWI BOLANG
Setelah makan kita lanjutkan perjalanan sambil jalan pulang. Di satu titik kita lihat curug di kejauhan.

Selama wara wiri di daerah sini, curug ini di lewatkan begitu saja… tidak dianggap penting atau layak dilihat … dilewatkan begitu saja, padahal posisinya sangat mudah dijangkau, tidak perlu menanjak nanjak jauh ke atas. Mungkin seperti kata pepatah ” Gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan terlihat ” cocok banget peribahasa tersebut. Lokasi curug ini sedikit tersembunyi dan tidak ada papan petunjuk sama sekali … jadi wajar saja jika tidak banyak diketahui oleh public.

Kita menuju ke curug itu, melalui jalan batu2 lepas yang menurun curam ke bawah …. cari aman .. ttb saja. Dan sampailah di tepi sungai Cileungsi yang lebar dan besar. Tidak ada tiket masuk dan tidak ada yang jaga .. karena memang tempat ini tidak dikelola untuk menjadi tempat wisata.

Padahal … Woww … keren tempat ini, air terjun di sisi tebing … tebing batu putih di sisi sisi sungai yang terihat megah, leuwi atau bagian sungai yang dalam … bebatuan sungai yang unik … dan terlihat juga jeram2 di bagian sungai ini. Sayang sekali di zaman now yang berlomba lomba membuat tempat wisata … ada tempat indah, relatif dekat dan mudah malah tidak terekspose terlewatkan begitu saja.

Rehat sejenak sambil menikmati suasana dan ngobrol2 dengan warga yang ada disini … disebutkan bahwa nama curug ini adalah Curug Leuwi Bolang, karena daerah ini adalah kampung Bolang. Kalau ditata dengan baik tempat ini bakalan ngehitss .. soalnya tempatnya instagramable .. kekinian.

Mumpung tempatnya belum ramai dan penuh sesak … ayo ngebolang ke Curug Leuwi Bolang.

Curug Leuwi Bolang
Desa Bolang, Sukamakmur, Citeureup, Bogor
Koordinat Googlemaps -6.528920, 106.928479


Minggu 28 Januari 2018

 

Iklan

38 thoughts on “Ngebolang ke Kampung Kolecer dan Curug Leuwi Bolang

  1. Nggak usah di viralkan deh kak, biar nggak mainstream kayak yang lain. Tapi kalo viral dan dikelola dengan baik, bisa jadi sumber penghasilan juga sih untuk warga sekitar. Ah galau lah πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“

  2. Ping-balik: Ngebolang Ke Kampung Kolecer Dan Curug Leuwi Bolang – Bekasicityzen.com

  3. Jalan-jalanmu kok selalu seru sih Kak? Ke tempat yang memang jarang orang datang, juga pakai sepeda tentunya, semakin mempermudah stop n go ketika menemukan sesuatu di jalan.

    Itu di puncak bukit sekalian bawa layangan seru sekalian ndengerin suara Kolecer…

    Eh, gak main air kah? Air terjun dan sungai di bawahnya kayaknya cukup seru tuh…

    • Allhamdulillah… mungkin rezeki anak sepedahan yg sholeh … haha.. maksa

      wah betul tuh .. kalau main layangan paati seru di atas puncak

      ngga main air.. soalnya airnya dalem.. sungainya gede .. bikin keder .. πŸ™‚

  4. Gegowesan nan panjang….hatur nuhun kami pembaca ikut menikmati kolecer bonus menanjak bukit…lanjut curug mini si Leuwi Bolang, perpaduan gerojogan tepian sungai yg sungguh elok. Bakalan ngehits nih curug. Salam

  5. Selalu asik megikuti perjalanan bersepedahan Mas ini. Salah satu hal karena selalu ditampilkan lokasi-lokasi wisata yg anti-mainstream.
    Eh, saya baru tahu nih kalau ada budaya kolecer…

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s