Sisi Lain Sejarah Marunda – Kapitan Jonker & Groot Mayoor THW Dotulong

Tahukah siapa penguasa Marunda ??

Bukan si Pitung tapi orang dari daerah Ambon yang bernama Kapitan Jonker

Siapakah Kapitan Jonker ??

Baca baca sejarah kapitan Jonker ini ternyata sangat menarik dan kontroversi.
Situsnya yang ada di Marunda membuat saya penasaran untuk mengunjunginya. Tapi posisi tepatnya setelah googling sana sini tetap tidak diketahui secara pasti, pokoknya ada di Marunda. Marunda kan gede … ya sudahlah .. pokoknya saya akan cari. Patokannya hanya berdasarkan insting dan feeling saya yang pernah beberapa kali kluyuran di daerah Marunda dan tidak pernah melihat situs Kapitan Jonker .. artinya saya tinggal kluyuran di daerah Marunda yang belum pernah saya kunjungi … gampang khan .. hehehe …#GampangDariHongkong.

menyebrang rel KA yang melintasi BKT

Menuju kesana saya menyusuri BKT dipagi hari yang cukup lengang dan sesampainya di daerah perumahan Metland Menteng saya berbelok masuk kedalam komplek perumahan dan hanya sebentar untuk kemudian keluar kembali ke jalan raya, sebentar juga dan masuk ke komplek baru yang sekarang cukup terkenal karena AEON baru di buka di perumahan ini .. Perumahan Jakarta Garden City. Masuk ke dalam dan melewati gedung mall AEON .. wah gede mall ini ternyata. Keluar lagi dan sekarang berada di jalan sisi lingkar luar tol timur dan terus masuk daerah Rorotan melewati jalan Cakung Drainase. Disisi sebelah kiri adalah sungai yang hitam pekat dan kanan adalah gudang atau pabrik pabrik besar.

area Rorotan Cilincing yang sepi

Karena hari Minggu jalalan beton mulus dan lebar ini sepi .. bener benar sepi .. mobil atau truk tidak ada yang lewat. Saya mulai curiga bahwa akses jalan di depan nanti belum di perbaiki jadi tidak ada mobil yang menggunakannya sebagai jalan tembus. 3 tahun lalu saya pernah lewat sini untuk tembus kearah Marunda dan Tanjung Priok .. dan saya menyesal .. dari jalanan beton mulus lebar berubah menjadi jalan tanah dan kecil, melewati perkampungan kumuh dan .. melewati suatu “TPA” pembuangan sampah raksasa … permasalahannya jalanan di area “TPA” ini jalanan berlumpur tebal … lumpur sampah … hiyyyy. Kalau lumpur di hutan atau pedesaaan sih biasa .. tapi lumpur sampah … hiyyyy.
Tapi kenapa saya lewat sini lagi atuh … karena selain ini jarak terdekat ke daerah Marunda yang saya tuju .. juga saya meyakini bahwa selama 3 tahun ini ada perubahan … hmmm .. ayo kita buktikan.

Dari jalan beton cor mulus lebar menjadi jalan tanah kecil, melewati perkampungan kumuh dan ketika mendekati “TPA” … jalannya sudah dikasih pengerasan brangkal meskipun ada spot sedikit yang berlumpur … tapi masih bisa melipir angkat sepeda .. tidak harus nyemplung di lumpur sampah … Alhamdulillah.
Gowesan tidak bisa cepat di jalanan tanah berbatu batu kecil .. Sudah pulangnya nanti mending susur BKT, meskipun mesti memutar tapi pasti lebih cepat sampainya.

melewati area pembuangan sampah di Rorotan

Sampai di jalan Marunda Makmur saya belok masuk ke area pergudangan KBN (Kawasan Berikat Nusantara) Marunda. Didaerah sini saya akan berputar putar mencari Kapitan Jonker. Jalanan di daerah KBN ini besar dan lebar, kanan kiri kantor dan gudang gudang … container2 yang disusun tinggi tinggi.

Kawasan Berikat Nusantara di hari Minggu yang sepi .. pada libur

Jalanannya sepi … sambil berputar putar di area ini saya mencoba masuk ke sisi pantai … tapi ternyata sisi pantai sudah menjadi milik perusahaan2 dan di tutup dengan gerbang atau di portal dan dijagain security .. tidak jadi deh saya main ke pantainya. Sambil berputar putar saya tanya orang2 disana … “apa Kapitan Jonker ???” jawabannya tidak tahu atau baru dengar. Feeling saya sih seharusnya mendekat ke satu area .. ternyata itu adalah pelabuhan pasir yang diangkut melalui perjalanan laut .. ketika truk2 lewat … debu debunya berterbangan .. dipanas terik … cocok banget deh … kepalang negro .. saya tetap kesana … serasa mandi debu … bersepeda di antara truk truk pengangkut pasir dan debu debu yang menggila …

menuju pelabuhan Pasir … mengarungi debu debu, di hari kerja sepertinya lebih  parah

sampai di pelabuhan .. saya tanya orang disana .. kembali jawabannya tidak tahu .. coba lagi tanya ke warung sekalian beli minum … tidak tahu.

area pelabuhan Pasir

Ya sudah saya keluar lagi dari pelabuhan dan akhirnya keluar dari area KBN .. sebelumnya bertanya dulu ke sekuriti di pintu keluar KBN … tidak tahu juga. Ayo cari lagi …. Akhirnya sepeda mengarah mendekat ke daerah rumah si Pitung .. dan kalau ke daerah sini sudah pasti salah … Berhenti di satu perempatan … saya perhatikan orang2 yang ada di sana .. mana yang kira kira mengenal seluk beluk daerah Marunda .. nah ini ada orang tua berpakaian rapih sedang duduk santai, saya tanya ke dia .. ternyata dia tahu ..”Kapitan Jonker .. yang dari Ambon atau Menado ya …” Ternyata posisinya memang berada di area pelabuhan pasir yang tadi.

Gowes balik lagi kesana … kembali saya bermandikan debu .. mengikuti petunjuk orang tua tadi akhirnya sampailah saya di lokasi. Memang lokasinya tersembunyi oleh pohon dan semak semak, tidak jelas terlihat, sehingga banyak orang yang tidak ngeh. Posisinya tepat di pintu masuk ke satu area pergudangan dan disana ada warung yang menempel dengan bangunan makam Kapitan Jonker. Disisinya ada situs atau patilasan Groot Majoor Bintang Tololiu Hermanus Willem Dotulong.

situsnya berada di pojokan KBN dan dekat pintu masuk suatu perusahaan

Berdasarkan sejarah dan cerita yang saya baca banyak versi mengenai keduanya.

Ada beberapa versi mengenai sejarah Tololiu Hermanus Williem Dotulong dan Kapitan Jonker, dari hubungan keduanya aja sudah ada versi berbeda, ada yang menyebutkan kapitan Jonker adalah anak buah Dotulong dan ada versi sebaliknya bahwa Dotulong adalah anak buah Kapitan Jonker. Berdasarkan versi situs jakarta.go.id disebutkan Kapitan Jonker adalah atasan Dotulong, kalau dilihat dari tanggal kelahirannya sih Dotulong jauh lebih muda dari Kapitan Jonker.

bangunan patilasan Groot Majoor Bintang Tololiu Hermanus Willem Dotulong

Dan jika dilihat dari tahun tahun yang disebutkan antara Dotulong dan Kapitan Jonker, sepertinya keduanya tidak pernah bertemu ; Dotulong datang ke pulau Jawa (Marunda) ketika perang Diponegoro tahun 1829 sd 1830, sedangkan Kapitan Jonker dikabarkan mulai berada di Marunda tahun 1684 … jarak tahun yang sangat jauh dan meninggal tahun 1689 … jadi tidak bertemu ya …

Groot Mayoor Tololiu HW Dotulong lahir di Kema Minahasa 12 Januari 1795 dan meninggal di Sonder, 18 November 1888. VOC Belanda yang sudah bertahun tahun berperang dan kesulitan melawan pangeran Diponegoro akhirnya mengiriman pasukan orang Minahasa atau disebut juga pasukan tulungan atau pasukan bantuan yang dipimpin oleh Groot Mayoor Tololiu HW Dotulong pada tahun 1829, mendarat di daerah Marunda dan ikut berperang melawan pasukan pangeran Diponegoro bahkan juga ikut berperan dalam penangkapan pangeran Diponegoro. Tidak hanya perang melawan pangeran Diponegoro, pasukan Dotulong dikabarkan ikut berperang membantu VOC di berbagai daerah di Indonesia.

Sedangkan Kapitan Jonker juga memiliki sejarahnya yang menarik, memiliki jasa terhadap VOC dan juga menjadi pahlawan.

Dalam salah satu versi disebutkan lahir tahun 1620 di pulau Manipa Maluku dengan nama Achmad Sangadji Kawasa yang merupakan anak salah satu petinggi di daerah tersebut.
Ada versi yang menyebutkan agamanya nonmuslim namun banyak sejarawan yang percaya agamanya Islam.

bangunan makam Kapitan Jonker berada

Awalnya di tahun 1634 – 1643 (Perang Hitu II / Perang Wawane) dia berperang melawan VOC tapi VOC berhasil mengalahkan dan menaklukan tidak hanya pasukan Sangadji tapi juga pasukan Raja Tahalele dari Pulau Boano. Mereka akhirnya tunduk pada perintah VOC, Achmad Sangadji ikut berperang dibawah komando Raja Tahalele memimpin pasukan Maluku yang menjadi andalan VOC untuk berperang di berbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke India dan Srilanka berperang melawan Portugis.

Ada versi yang menyebutkan bahwa gelar Jonker (raja muda atau sebutan untuk anak bangsawan yang jadi perwira militer – Eropa) didapatkan ketika menjadi wakil Raja Tahalele dan ada juga yang menyebutkan gelar tersebut didapat ketika mendapatkan hadiah dari Gubernur VOC Belanda atas jasa jasanya berupa tanah yang luas di daerah Marunda.

Sedangkan gelar kapitan didapatkan ketika menggantikan Raja Tahalele yang terluka parah saat berperang di Srilangka untuk menggantikannya dan memimpin pasukan.

Kinerja Kapitan Jonker semakin dianggap penting oleh VOC ketika memenangkan pertempuran di daerah Minangkabau dan mengangkatnya sebagai Panglima Kompeni Wilayah Pariaman (orang Minang menyebutnya sebagai Raja Ambon).

Kapitan Jonker dan pasukannya semakin menjadi andalan VOC untuk menumpas pemberontakan rakyak dalam berbagai peperangan ; di Jambi, Palembang, Jawa Timur, Banten dan bahkan disebutkan berhasil menangkap Trunojoyo yang melakukan pemberontakan terhadap Sultan Amangkurat II yang didukung VOC pada tahun 1677 – 1680.

Atas jasa dan prestasinya, Gubernur Jenderal Cornelis Janszoon Speelman memberikan Kapitan Jonker berbagai hadiah termasuk tanah luas di Marunda dan hubungan keduanya semakin dekat.

Setelah Gubernur Jendral Cornelis Speelman meninggal dunia di 1684, pengaruh Jonker yang terlalu besar menimbulkan rasa tidak suka sekelompok VOC dan dipimpin Isaac de l’Ostale de Saint Martin membuat scenario untuk memangkas kekuasaan Jonker dan memojokan dengan rencana pemberontakan sehingga terjadi pertempuran di Marunda antara Jonker dan pasukan VOC beserta pendukungnya dan diceritakan Kapitan Wan Abdul Bagus atau Cik Awan komandan Pasukan Melayu VOC ikut terluka. Dan dikabarkan ratusan prajurit Ambon terbantai dan mayatnya bergelimpangan di tepi Pantai Marunda.

Diceritakan pula kepala Kapitan Jonker dipenggal dan sempat dipamerkan di kawasan Kota tua kemudian jasadnya dibawa kembali dan dimakamkan di Marunda di bekas tempat tinggalnya.

Ada juga versi yang menyebutkan Kapitan Jonker atau disebut juga Tete Jongker merupakan orang kepercayaan dan andalan VOC yang ikut berperang membantu VOC diberbagai daerah Nusantara dan setelah mendapatkan tanah hadiah di Marunda dari VOC tahun 1684, Tete Jonker tidak lagi mengikuti peperangan VOC ke berbagai daerah. Dan mulai membangun hubungan dengan tokoh tokoh dan pejuang nusantara lain untuk memerangi VOC, akibatnya VOC mulai curiga dan menyerang Tete Jonker dan kelompoknya di Marunda 24 Agustus 1689 dan mengakibatkan terbunuhnya Tete Jonker.

Versi mana yang betul .. butuh penggalian dan penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan info dari situs Jakarta.go.id tulang belulang Kapitan Jonker telah di pindahkan di dalam pekarangan Asrama Polisi AIRUD Cilincing.

Tapi dari cerita cerita tersebut … saya baru tahu … kalau selama ini berdasarkan buku buku sejarah di sekolah yang diajarkan bahwa rakyat Indonesia berperang melawan VOC Belanda, ternyata dalam peperangan tersebut VOC Belanda banyak dibantu oleh pasukan pasukan lokal bahkan pasukan lokal tersebut yang berperan penting dalam peperangan dan memenangkan perang.

Fisik bangungan patilasan Groot Majoor Bintang Tololiu Hermanus Willem Dotulong dan makam Tete Jonker bisa dikatakan terawat dan bersih, hanya kondisi sekitar yang memberikan kesan terlantar. Selayaknya situs ini dan area disekitar situs bisa diperbaiki menjadi menarik … menjadi bagian wisata pesisir pantai Maruda. Pengunjung Marunda yang ingin melakukan wisata sejarah tidak hanya mengunjungi Rumah si Pitung dan masjid Al Alam tapi juga bisa mengunjungi makam Tete Jonker, apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari Rumah si Pitung.

Setelah melihat lihat dan sekaligus rehat sejenak. Saya melanjutkan perjalanan pulang dengan mengambi jalur berbeda dari saat kedatangan yaitu dengan menyusuri BKT dan ternyata memang lebih cepat hanya perlu 1 jam kurang untuk sampai rumah.

Lokasi Makam Kapitan Jonker
Kawasan Berikat Nusantara, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara
Koordinat Google maps -6.096522, 106.955522


Minggu 8 Oktober 2017

 

Iklan

16 thoughts on “Sisi Lain Sejarah Marunda – Kapitan Jonker & Groot Mayoor THW Dotulong

  1. Memang perjalanan Mas ini selalu mengejutkan dan menarik untuk dibaca, hehe. Menurut saya ini ancaman serius bagi situs-situs sejarah di Jakarta, Mas. Sudah didominasi pabrik, maka yang tinggal hanya bangunan pokok. Padahal siapa tahu, beberapa ratus meter dari sana ada tengara yang juga berasal dari zaman yang sama.
    Untuk Ambon, dan Minahasa, penduduk dari sana memang banyak yang nantinya menjadi serdadu Belanda, ya. Mungkin karena bawaan perang dengan Portugis. Jadi siapa pun yang juga memusuhi Portugis akan menjadi kawan, hehe… saya mikirnya sih begitu, hihi. Menarik nih situsnya, masuk bucket list buat dikunjungi jika ada kesempatan, hehe.

    • betul mas gara, Kapitan menguasai kawasan Marunda ini, pasti ada “sisa2”-nya, sayang karena pembangunan kantor dan gudang2 secara masif .. bisa menghancurkannya. masih mending tersisa makam ini.
      ternyata setelah membaca detail sejarah … banyak intrik, drama, kisah2 “untold story” dan semakin menarik 🙂

  2. Sangat menarik mas perjalanannya, menjelajah ke tempat-tempat yang jarang dilirik orang sebagai tempat wisata. Walaupun belum pernah mampir ke Cilincing, tapi kawasan ini membuat saya penasaran. Di buku tentang Raffles yang dibahas oleh Tim Hannigan, disebutkan kalau di Cilincinglah pasukan Inggris pertama kali mendarat di Batavia untuk menyerang Belanda.

    Ditambah dengan liputan dari mas, saya jadi makin penasaran buat jelajah ke sana 😀

    • kawasan cilincing marunda ternyata banyak sekali menyimpan sejarah,
      kalau main kesini sekalian jelajah ke : tete jonker, rumah si pitung, mesjid al alam, ujung BKT dan ke jembatan cinta (hutan mangrove) … tempat2nya berdekatan, bisa sekali jalan 🙂

  3. Puzzle yang aku cari gak taunya nemunya malah di mari. Makasih lho mz informasinya. Aku beberapa waktu lalu habis main ke Melaka, Malaysia. Di sana ada jalan yang namanya Jonker Street. Gak taunya si Jonker ini adalah orang Ambon. Pantesan lagu Rasa Sayange pun heits di sana.

  4. Melihat foto kabut debu oleh deri truk dan cerita keluar masuk kompleks terasa banget perjuangan merunut jejak Kapitan. Tak ada perjuangan yg sia-sia. Angkat jempol dan topi tuk kegigihan menyajikan postingan berharga dan menawan ini.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s