Di Ujung Kepala Burung Bekasi – Ujung Muara Citarum, Pantai Bahagia Muaragembong

Selalu penasaran ada apa sih di ujung Kepala Burung Bekasi.

Selalu penasaran ada apa sih di muara sungai Citarum.

Travelling kesana adalah perjalanan menuju ujung dunia Bekasi.. πŸ˜€

Perjalanan ini selalu tertunda tunda, akhirnya momennya tiba pada musim kemarau ini.. ya mesti musim panas menyengat, karena kalau musim hujan jalanan kesana tidak bisa dilalui, banjir.. dan menjadi kubangan lumpur lembek.. tidak bisa dilalui.

Dari beberapa teman yang saya ajak yang mau gowes jauh dan “tersiksa” .. akhirnya pas hari H hanya ada satu “survival” yang tersisa .. om maryono. Meskipun sebelum berangkat mengajukan berbagai pertanyaan – dengan siapa, lewat mana saja, berapa kali naik perahu, ada apa, dst dst .. ehh ini lagi Panitia Hak Angket atau apa .. sudah mau ikut atau tidak… ikut katanya.
Sudah bungkusss. Berhubung akan melewati daerah antah berantah yang kosong melompong berkilo kilo meter yang jauh dari peradaban … maka satu teman yang menemani akan sangat berarti … #Caelahhh

Seperti biasa jam setengah tujuhan pagi baru berangkat. Melewati Harapan Indah (HI), janjian om Maryono jam 7 disana.

Dari HI kita gowes beduaan, sesuai pesan saya.. si om bawa banyak air di backpack-nya. Saya juga sudah siap, selain bawa backup minuman digembolan juga buff penutup wajah bahkan pakai sun block, saya khawatir kulit saya hitam dan kusam .. #OngkosSalonMahal.

Setelah gowes beberapa saat lalu kita menyebrangi kali CBL dengan perahu eretan.

Menara “api abadi” tambang gas Pertamina Pondok Tengah

Selepas penyebrangan ini .. dimulailah perjuangannya, menyusuri jalanan pipa gas Pertamina Pondok Tengah, di daerah sini banyak tambang gas Pertamina, tipikal jalanan makadam dan jalanan tanah hampir 50 km pp. Yang membuat cape selain panas polll menyengat, tiupan angin dari depan… juga bokong yang kebas… ajrut ajrutan di jalanan makadam dengan sepeda rigid …. adowww mak..

tipikal jalan dan daerah yang gersang melompong

Suasana lautan tambak yang membentang berhektar hektar.. membikin takjub… selain ambience yang sangat berbeda juga membayangkan bahwa dulunya ini adalah hutan bakau yang habis… tidak heran terjadi abrasi air laut bahkan kabarnya beberapa desa di area pantai sini sudah hilang. Area hamparan tambak luas inilah yang saya lihat kalau naik pesawat ketika akan mendarat di bandara Soekarno Hatta, akhirnya saya menjejakkan kaki saya disini … halahhh.

Sesekali kita bertemu dengan pemotor yang hendak mancing. Mobil ada satu dua dan nampaknya juga mereka adalah pemancing.

jembatan besi pertama sebelum jembatan besi kali Blacan

Melewati sungai jembatan besi pertama, disini ada warung kecil dan sepertinya tempat ini jadi dermaga kecil selain untuk nelayan juga untuk para pemancing yang hendak kelaut.
Tapi disini hanya ada sedikit yang parkir sedangkan parkir motor yang lumayan banyak dan bahkan ada beberapa mobil adalah ketika menyebrang jembatan besi kali Blacan. Disini sepertinya favorit tikum para mancinger yang hendak kelaut. Tidak hanya perahu nelayan biasa bahkan ada motor boat.
Di sini pula titik pemberangkatan jika hendak pergi naik perahu ke mesjid Al Alam Blacan. Ditempat ini lumayan ada banyak manusia bahkan ada beberapa warung.

susana di area jembatan besi Muara Kali Blacan

Sebelum jembatan Blacan ini kita melewati jalanan yang teduh dengan pepohonan kurang lebih 500 meteran bahkan hutan mangrove-nya lumayan lebat karena menjadi tempat corporate social responsibility salah satu perusahaan swasta besar. Lumayan bisa rehat sejenak berteduh, buka perbekalan dan nyemil2 snack.

sedikit keteduhan hutan bakau sebelum jembatan kali Blacan

Selepas Blacan jalanan berubah menjadi tanah .. ini adalah salah satu area yang sulit dilalui ketika musim penghujan.

tipikal jalan setelah jembatan Blacan, jalan tanah sampai ketemu desa di ujung hamparan tambak

Akhirnya kita sampai diujung hamparan tambak dan masuk perkampungan dan jalanan berubah menjadi jalanan beton sepanjang kurang lebih 5 km dan ketika sampai disisi sungai Citarum kita belok kiri menyusuri pinggiran sungai ke arah laut dan jalanan berubah kembali menjadi jalan batu2 lepas, paving block dan jalanan tanah. Perjalanan tinggal 10 km lagi untuk sampai ujung muara.

Disatu titik kita menyebrangi sungai Citarum pakai perahu.

menyebrangi sungai Citarum

Pertimbang menyebrangi sisi Citarum sebelahnya karena berdasarkan google maps sisi pantai yang dapat dituju adalah disisi sebrang.

Yang membuat heran … koq di muara sungai Citarum ini airnya bisa dikatakan bersih padahalkan Citarum terkenal sebagai salah satu sungai yang paling tercemar, tapi air sungai di muara relatif bersih .. koq bisa begini ya… herman, coba ya tolong jelaskan pada saya …

Sisi sebrang daerah lebih banyak rumah. Perumahan disini umumnya kebanjiran pada musim2 tertentu akibat abrasi air laut dan juga luapan sungai Citarum pada saat musim hujan.

suasana rumah nelayan yang umumnya terkena abrasi air laut

Disisi sungai Citarum ini adalah perkampungan nelayan, jajaran rumah hanya sebaris karena dibelakangnya adalah hamparan tambak. Suasana kampung nelayan sederhana, ada yang sedang membetulkan perahu, membetulkan jaring, membawa hasil tangkapan, nongkrong2 saja … tapi tidak banyak orang yang berada diluar, bisa dikatakan relatif sepi. Hampir tidak ada mobil di area jalan sisi sungai Citarum ini, jalannya sih pas semobil tapi di beberapa titik jalannya menyempit dan semakin mendekat muara jalannya menjadi setapak.

perkampungan nelayan di muara Citarum

air sungai muara Citarum yang relatif bersih

Mendekat ke ujung muara suasana mulai berubah, kita memasuki hutan yang tersisa, hutan lindung milik pemerintah.

kawasan hutan lindung di muara Citarum

Berdasarkan papan yang dipasang, dihutan ini ada beberapa hewan asli daerah sini, salah satunya adalah lutung jawa, tapi selama di area hutan tidak ketemu satupun lutung, mungkin posisi mereka ada di bagian lain hutan ini .. mungkin sedang piknik di tengah hutannya πŸ™‚ Yang agak sering saya jumpai adalah biawak dan sejenis burung bangau yang beterbangan.

Akhirnya sampai juga di salah satu pantainya yang dapat ditembus dan bisa dikatakan berupa pantai.
Horeeee …
Kita akhirnya sampai juga di ujung dunia Bekasi
Kita sampai juga di ujung muara Citarum
Sungai Citarum memiliki beberapa muara percabangan dari sungai utama, tapi Muara Gembong adalah muara sungai Citarum yang terbesar jadi lebih afdollah kalau main ke ujung sungai Citarum artinya main kesini

Pantai berupa tanah .. bukan pantai berpasir. Artinya ini dahulunya memang daratan tapi karena hutan bakaunya habis maka terjadi abrasi air laut maka pantainya sekarang bergeser kesini. Pantai aslinya ada di sebelah depan yang sudah terendam menjadi lautan.
Karena berupa tanah .. maka jika terendam air menjadi basah dan becek, jika di injak kaki akan terbenam. Untung saat ini air lautnya sedang surut dan panas matahari membuat sebagian tanah mengeras jadi cukup aman untuk di injak.

bukan pantai berpasir tapi pantai tanah di ujung Muara Citarum

Air di tepi pantai warnanya bukan biru .. tapi kecoklatan, persis seperti tanah kena air. Ya beginilah kondisinya .. keunikan pantai ujung muara Citarum atau juga pantai disekitar area sini. Bahkan beberapa area seperti tidak ada tepi pantainya .. langsung laut.

Salah satu pantai berpasir di daerah sini adalah pantai Beting, tapi kita harus naik perahu dulu dari daerah sini, karena posisi pantainya sudah menjadi pulau yang terpisah dari daratan karena abrasi.

Untuk tempat wisata lebih terkenal pantai Beting bukan ujung muara Citarum yang berbentuk seperti kepala burung ini. Sebetulnya hutang di ujung ini bisa juga jadi destinasi wisata jika dikelola dengan baik, sehingga menaikkan perekonomian warga disini dan mengurangi ketergantungan pada tambak dan tambak dapat ditanami bakau kembali.

muara Citarum dilihat dari atas

Jam satuan kurang kita beranjak saatnya makan, ngobrol ngobrol dengan ibu2 warga disana … kaget tahu kita dari mana β€œwah … saya aja ke Bekasi naik motor 3 jam-an, sudah pegel banget nih bokong … Selamat deh mas .. semoga kuat” … kita nyengir ga jelas … membayangkan perjalanan pulang.

Karena daerah ini bukan area wisata ternyata susah untuk mendapatkan warung makan representatif .. pakai nasi .. bukan mie. Harus sedikit menjauh dahulu ke kantor kecamatan disana ada warung. Sampai disanapun menunya tidak menggugah selera.. padahal sudah laper begini, akhirnya minta dibuatkan telor ceplok panas dan ditambah tahu. Meskipun ga nendang tapi cukuplah buat ganjel perjalanan pulang. Beres makan sudah jam 2-an lebih … dan siap siap untuk berangkat pulang.

Perjalanan pulang yang panas terik dibumbui nyusruk pula dijalanan makadam gara2 motor dari arah depan yang ambil jalur kita, untung pakai helm waktu kepala terbentur ke batu. Allhamdulillah … Hanya shock sebentar … tidak ada luka berarti, tapi membuat gowes melambat karena telapak tangan yang reflek meredam ketika saya jatuh menjadi kesakitan untuk memegang stang sepeda apalagi stang sepeda terus bergetar dijalanan berbatu batu ini ditambah bokong yang panas pegal gowes dijalan berbatu sampai mesti gowes berdiri untuk mengistirahatkannya.

Selepas nyebrang eretan kali CBL gowesan bisa lebih lancar karena sudah jalanan aspal, stang tidak lagi bergetar getar. Rehat dulu untuk sholat dimesjid dan ketika masuk HI ternyata macet di beberap titik. Dititik masuk, di area tengah dan di titik keluar. Pakai sepeda meski bisa selap selip tapi lumayan tersendat untuk menembus kemacetan ini.

Akhirnya perjalanan ke ujung dunia Bekasi terpenuhi sudah dengan menumpuh jarak 122 km pp .. meskipun melelahkan tapi mengasikkan bisa menuntaskan kepenasaranan, dan tiba di rumah pada saat adzan maghrib.

Lokasi Muara Sungai Citarum
Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi
Koordinat Googlemaps -5.938035, 106.990856


Minggu 30 Juli 2017

Iklan

29 thoughts on “Di Ujung Kepala Burung Bekasi – Ujung Muara Citarum, Pantai Bahagia Muaragembong

  1. Bentang alam ujung kepala burung pas banget ya. Hah..ratusan km pp berbonus nggasruk…
    terima kasih perjuangan kerasnya, kami pembaca bisa ikut menikmati sensasi gowes super berat ini.

  2. Wah klo sampai 122 km kayaknya saya bakal menyerah duluan gowes. Masalahnya udah lama gak olahraga, stamina jadi payah dan tubuh cepat lelah. Tapi yg bikin saya penasaran mungkin area hutannya. Entahlah…. soalnya seumur hidup saya belum pernah ke hutan dan menikmati keindahan. Cuma beberapa kali lewat hutan di mojokerto tanpa,memperhatikan hutannya. Mungkin klo pake sepeda lebih santai dalam menikmati perjalanannya πŸ˜€

    • mulai lagi olahraga mas Shig4 .. jadi fit dan endurance-nya meningkat.
      Kelebihan gowes adalah di kecepatannya yg pelan, jadi bisa melihat tempat2 yg terlewatkan bgitu saja ketika naik kendaraaan bermotor.

  3. 122 KM PP? Keren kang. Tapi kalau ada temannya seru sih. Proses menuju destinasi itu yang paling menyenangkan. Plaing lawannya kalau nggak angin kencang ya jalan ramai.
    Tumbuhan di muara mirip di mangrove ya. πŸ™‚

  4. Dari blog ini, aku jadi tau kalau pantai di indo itu gak semuanya bagus, ada juga yang gak terawat seperti di jakarta bekasi dan sekitarnyah. Apalagi pas foto dari atas tadi, waaa syoklat sekali hahaha.

    Eh perjalanan episode ini, udah jauh banget eeh sempet jatuh pula. Untung ga kenapa2 kang. Sehat selalu!

  5. reality bites .. hikss .. tapi yang membuat rusak adalah ulah manusia juga. Aslinya hutan bakau malah ditebangi jadi tambak .. ya akhirnya begini deh abrasi 😦

    Aamiin .. terimakasih doanya, semoga neng Fasya juga selalu sehat dan bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s