Nyantai di warung Abah Waduk Saguling

Warung Abah Saguling

view dari warung Abah memandang ke Waduk Saguling

Dari jutaan warung yang bertebaran dimuka bumi ini ada banyak warung yang recommended salah satunya warung Abah yang terletak di tepi waduk Saguling.

kebayangkan asyiknya.. nyantai .. ngopi atau makan dengan view waduk Saguling.
Waduk Saguling ini luas banget .. mulai beroperasi pada tahun 1985 luasnya mencapai 5.600 hektar.
Yang saya target adalah warung cukup ngetop dan menjadi tempat destinasi wisata kuliner yang bersisian dengan area Perumahan Kota Baru Parahyangan.

Berangkatlah saya mengayuh sepeda sambil menikmati udara pagi Bandung, melalui Gasibu, naik jembatan layang Pasopati, menyusuri pinggir tol Pasteur, lanjut menyusuri jalanan kecil di sisi rel KA, sampailah di Cimahi..

lembah di belakang perumahan Dream Hill dekat Waduk Wakadobol

Melewati gang kecil yang menyusuri sisi kampus Unjani dan tembus di dekat bukit impian … alias perumahan Dream Hill. Memasuki area berbukit dan melewati pintu masuk Waduk Wakadobol. Tadinya saya mau mampir masuk, tapi plang di pintu masuk yang menyatakan area ini adalah area tambang, berbahaya dan bukan tempat wisata dan merupakan area privat, mengurungkan niat masuk dan melanjutkan perjalanan. Tembus di jalan raya Batujajar dan berbelok masuk jalanan desa. Terus gowes … perjalanan pergi ini relatif cepat.. karena jalanan di dominasi jalanan menurun … tidak tahu apa saya mesti senang atau sedih.. baliknya pasti jadi hambatan.. ehh tantangan.. pulangnya .. sengatan matahari lebih terik dan menanjak, kombinasi yang menarik. Yah sudah ga usah terlalu dipikirkan, tetep fokus gowes.

Jalanan desa ini sesuai rencana track gps yang saya buat akan berakhir di tepi Saguling. Jalur terpendek, kalau lewat jalan harus berputar cukup jauh. Permasalahannya ada penyebrangan perahu atau tidak. Saya perhatikan di google maps versi satelit tidak terlihat perahu penyebrangan. Tapi ada jalur jalan di sisi sebrangnya, masak sih tidak ada moda penyebrangan. Pede aja…

Tiba di sisi waduk.. sepi, .. where is everybody ?? helloww
hanya ada perahu bocor dan rakit di sisi sebrang.

Dalam kebingungan… saya hanya diam. Berpikir.. eh ngga deng.. hanya terpaku. Wah.. mesti balik, cari jalan berputar.

Datang pemuda desa yang mau ke kebun. “Mas.. kalau mau nyebrang bagaimana??”
“Oh.. pakai rakit itu, tarik aja talinya” Kata pemuda desa dengan ceria.

whatt.. saya terpaku, ternyata di zaman ini saya tidak hanya gagap teknologi tapi juga gagap tradisional.

Ngeriii.. ga berani saya harus nyebrang narik rakit sendiri. Duh.. padahal ngakunya anak petualang, nyebrang pakai rakit aja kagak berani …#MaluAku.

menarik rakit dulu yang ada di seberang untuk menyeberangi anak sungai di Waduk Saguling

Si pemuda desa, mau kerja ke ladang di sisi ini, tidak akan menyebrang. Akhirnya saya minta tolong untuk disebrangi. Saya senang banget ketika dengan ramah dia mengiyakan.

Deg2-an juga menyebrangi pakai rakit, tak lama saya sampai sebrang.

Perjalanan saya lanjutkan, jalan potong ini langsung muncul di Kota Baru Parahyangan pas di sebrang mesjid Al Irsyad.

Mampir dulu ke mesjid ini mengamati.. tidak seperti bentuk mesjid yang lazim … berbentuk kubus yang terinspirasi Kabah di Mekkah … keren.

Mesjid keren .. mesjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan

background mimbar … landscape waduk Saguling

Tidak hanya fasad tapi detil interiornya bener2 keren dan penuh philosofi serta harmoni dengan alam sekitarnya. Tak heran mesjid karya arsitek Ridwan Kamil ini pernah mendapat penghargaan dunia ” The Best 5 World Building of The Year 2011 untuk kategori Bangunan Religi, versi Archdaily & Green Leadership Award tahun 2011 dari BCI Asia.

Perjalanan dilanjutkan, menyusuri area perumahan elite, rumah2 besar, jalanan besar dan sepi. Terus masuk area perumahan mewah ini dan mengarah ke belakang masuk salah satu cluster dengan satpam dan portal elektrik. Pas mau lewat dengan ramah satpam mentap kartu membukakan portal.

jembatan di Kota Baru Parahyangan

area dan suasana perumahan Kota Baru Parahyangan

Sampai di satu area, di sisi sebelah kanan terlihat hamparan air dan ada jalan di portal, sepeda bisa melipir di sisinya, dan gowes menuju ujung daratan yang berbentuk seperti semenanjung dengan sisi kanan dan kiri hamparan air waduk Saguling. Lewat sedikit dari portal sudah ada tanda yang menyebutkan bahwa area tanah ini adalah kawasan Waduk Saguling jadi bukan tanah milik Kota Baru Parahyangan lagi.

Terus aja gowes sampai ujung, melewati bangunan yang jadi “markas” olahraga air.

markas olahraga air di Waduk Saguling

Tepat di ujung ada warung yang cukup besar dengan beberapa tempat lesehan. Ada 2 atau 3 keluarga yang sedang makan bersama.

Diujung ini juga sekaligus menjadi “dermaga” untuk ke beberapa tempat/desa di seberang. Dan bisa juga naik perahu wisata untuk muter2 waduk. Dan saya perhatikan sepertinya banyak yang ke warung Abah ini melalui akses naik perahu, tidak melalui akses perumahan Kota Baru Parahyangan.

bangunan warung Abah

Tersedia tempat parkir sepeda, dan beberapa pegowes yang baru datang dan parkir. Termasuk yang datang bawa sepeda kesini dengan naik perahu.Slide10

perahu2 yg akan membawa menyebarangi waduk menuju desa lain atau sekedar jalan2 wisata

Warung Abah ini menyediakan berbagai menu makanan tradisional, termasuk menu ikan yang mungkin berasal dari daerah waduk Saguling.
Saya ambil tempat lesehan ngeteh dan makan makanan ringan sambil bersantai memandang lepas dan jauh ke hamparan waduk. Memperhatikan anak2 yang bermain di tepi waduk termasuk aktifitas2 selfie disana sini baik keluarga maupun pasangan yang datang kesini.
Tiba2 … terdengar bunyi meriam dan suara2 tembakan … ada apa sihhh. Dari pengunjung yang ngobrol, ternyata di area sebrang ada tempat latihan militer … ooo pantes.

pegowes lain yang datang melalui akses naik perahu

kembali bersantai.. tempatnya asyikk untuk wisata kuliner di tepi waduk menikmati suasana yang berbeda, jarang jarang makan ditepi waduk.

Setelah rehat.. saya beranjak pulang, tadinya hendak naik perahu dari sini tapi bingung nama desa yang harus dituju. Saya gowes balik melalui jalan saya pergi. Membayangkan kalau harus menyebrang sendiri, mudah2an ada orang disana.

Tepat ketika sampai di sisi penyebrangan rakit, 2 anak kecil perempuan sedang menarik rakit untuk menyebrang.

“hei… dek.. enteni aku.. ”
eh … “dek.. antosan.. sakedap sakedap”

Rezeki banget.. bisa nebeng nyebrang naik rakit. Allhamdulillah.

nebeng nyebrang bersama dua anak perempuan

Dengan ramah 2 anak kecil ini menunggu dan saya naik dengan riangnya, tak butuh waktu lama untuk sampe ke sebrang.

Dan saya kembali gowes mengarah pulang dan tiba dengan selamat jam 10-an.

Lokasi Warung Abah
Cipeundeuy, Waduk Saguling, Kota Baru Parhyangan Padalarang
koordinat Googlemaps -6.882714, 107.473649


Minggu 2 Juli 2017

Iklan

28 thoughts on “Nyantai di warung Abah Waduk Saguling

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas…

    Memang perjalanan yang dilalui banyak tantangannya ya walau lokasinya masih dapat dijangkau mudah. Namun, tentu sahaja buat menyebarang sungai kecil itu boleh dianggap satu hambatan jika tidak berani mengendalikan rakit. Wah… hebat. Dua jempol buat dua anak kecil perempuan yang tentunya rakit sudah jadi mainan harian mereka. Sudah tentu wisata kuliner di Warung Abah Waduk Saguling menjadi satu simpanan album kehidupan yang penuh meriah. Perjalanan yang menarik sekali.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • Walaikumsalam wr wb puan Fatimah,

      Bagi anak desa sih, naik rakit seperti ini biasa, kalau kita yang hidup dikota .. takuttt . hehe
      Wisata kuliner di warung Abah asyikk .. murah meriah dan dapat bonus pemandangan danau besar yang lepas dan luas.

      salam sehat bahagia dari Jakarta

  2. suka sama desain mesjidnya. pernah baca artikel di majalah arsitektur tapi nga tau ini tepatnya dimana hehehe..

    duh rakitnya koq nyeremin yach mas. aku kirain ada tali gitu buat pegangan. ternyata nga ada. hehehehe

  3. Seperti biasa foto-foto di posting ini bikin “ngiri” kapan saya bisa menikmati ini?

    Saya pernah menyebrang bawa sepeda motor di sungai lumayan deras di Kalimantan. Mana perahunnya cuma lebar 80 cm, dimuat tiga orang dan tiga sepeda motor. Bikin sport jantung.

    • mas Alris bisa aja .. hehe

      Hiyyy .. gile banget naik perahu sekecil itu dan bawa beban berat mengarungi sungai Kalimantan … weleh weleh .. bener2 .. too risky. Kalau saya sih sudah mundur .. cari aman saja 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s