Ternyata Hambalang menyembunyikan waduk dan curug – Waduk Bogor Raya Ecopark

Siapa sih yang menyembunyikan …
Jangan main main sembunyi gini .. saya cari lho

Jam 7-an saya sudah bengong aja sendirian di minimarket daerah Cikeas. Telepon berbunyi, om Adi mengabari datang terlambat. saya melanjutkan bengong lagi. Berdiam lama jadi kedinginan … saya berpindah ke tempat yang disinari matahari pagi … berjemur .. menikmati kehangatan.

Jam 8-an lebih baru nongol … cengengesan.. ngobrol2 dulu .. “mau kemana kita ..??” Di atas Hambalang ada waduk, kita kesana. “Ngga tahu … ayo aja” Asyiknya sama om Adi .. senang diajak untuk explore .. jalan2 … termasuk ke tempat tempat yang ngga jelas seperti ini. Gimana ngga jelas … tidak ada info sama sekali di Internet mengenai waduk ini .. dan bagaimana kondisinya disana.

Jam 9 kurang kita berangkat mengarah menuju Citereup. Disatu perempatan kita belok menuju jl Raya Tajur, melewati Pasir Mukti dan berbelok keluar dari jalan utama. “Ini jalannya buntu ..” kata om Adi. Tapi tetap kita masuk, beberapa tahun silam om Adi pernah masuk jalan ini. Tapi sekarang dia terheran heran … sudah banyak rumah2 penduduk disini … Menyusuri jalanan aspal dan kemudian berubah menjadi jalanan beton, rumah2 semakin jarang. Jalanan berubah menjadi jalanan batu macadam .. dan mentok di portal tertutup. Ini adalah area pabrik semen, nampak gedung dan conveyer belt untuk membawa bahan baku pabrik semen. Saya perhatikan.. gedungnya seperti tidak digunakan lagi, tidak ada penjaga … tapi kita tidak menorobos masuk … ini area private tidak bisa seenaknya saja menerobos masuk.

jalan mentok ke area penambangan bahan semen dan ditutup portal

conveyer belt untuk membawa bahan baku semen, panjangnya berkilo kilo meter

Wah padahal itu jarak terdekat untuk menju waduk .. akhirnya kita mencari jalan memutar, melewati gang2 kecil perkampungan mencari akses yang mengarah ke atas, kearah hutan … gang2 disini kecil, berbelok belok menanjak .. tapi akhirnya mentok .. jalan buntu. Ya sudah akhirnya kita harus berputar, keluar menuju jalan raya yang mengarah ke Villa Bukit Hambalang. Berputar cukup jauh dan terus merayap menanjak ke atas.

Dan kemudian berbelok kembali masuk jalanan kampung. Melewati rumah2 padat dengan tipikal jalanan kecil dan lagi lagi menanjak. Di satu titik kita ketemu grup pesepeda yang sedang rehat di warung. Ngobrol2 dulu .. mereka bertujuan untuk menjajaki tanjakan Anaconda yang terkenal di daerah sini dan mereka heran .. koq pakai sepeda balap ke track seperti ini .. saya jelaskan ini bukan sepeda balap … tapi mereka tidak paham .. ya sudahlah. Ini adalah warung terakhir di ujung desa … karena selepas ini kita akan masuk ke area padang tandus.

di ujung desa, pemandangan berubah menjadi seperti ini

meluncur turun dengan riang

Kita jalan bareng mereka … keluar dari desa … terlihat jalan tanah bekelok kelok menurun, mereka menurunkan semua seatpost (tiang sadel sepeda) untuk bersiap siap memasuki turunan. Saya lihat turunannya masih aman dan tanpa menurunkan seatpost saya meluncur dan ternyata “sepeda balap” ini dengan lincah menuruni turunan dan sampai di percabangan.

tanjakan anaconda tampak di belakang

Dititik ini kita berpisah … melanjutkan mencari waduk. saya dan om Adi belok kiri sedangkan mereka belok kanan. Dari titik ini terlihat jalanan rolling naik turun bukit mengarungi area gersang, hampir tidak ada pepohonan … cocok banget berada disini jam 11-an .. menikmati siraman sinar matahari.

Heran …. kenapa area seluas ini begitu gersang …. pada kemana pepohonannya … ???

Rolling naik turun bukit

horeeee … ada pohon

Kita gowes mengarungi pebukitan tandus ini, pebukitan tandus ini dikenal juga dengan jalur puncak 2, jalur alternatif yang rencananya untuk menyambungkan Cipanas Puncak dengan daerah Sentul atau Cileungsi tanpa melalui jalur Cisarua Puncak, tapi sepertinya proyeknya mandek.

Ada kelompok crosser lewat … debu2 membumbung tinggi … kita menepi dan menunggu debu2 menghilang … cucok .. panas dan debu. Membuat haus terus ..

takjub dengan tanjakan di depan

ambil ancang2 untuk menanjak. Kelompok crosser di bawah sedang mengamati dan bersiap siap untuk menanjak

Berdasarkan gps posisi waduk sudah dekat dan disuatu bukit .. meskipun agak tersembunyi terlihat waduk ada di lembah.

waduk terlihat berada di lembah

Untuk mencari jalan ke waduk ternyata tidak mudah … nampak seperti ada jalan yang agak tertutupi oleh alang alang dan tumbuhan liar, kita masuk kesana dan ternyata mentok di pinggir tebing sungai .. dan ada …curug …. ya curug … tidak tahu apa nama curug ini … tidak popular. Curugnya tidak tinggi, paling sekitar 2 meteran, setelah mengamati curug kita melanjutakn mencari jalan menuju waduk.

hei .. ada curug disini

Terlihat ada jalan setapak melalui alang alang tinggi dan rimbun, kita menorobos masuk .. dan sampailah di tepi waduk. Saat ini sudah memasuki musim kemarau … tapi airnya belum terlalu surut. Kemungkinan waduk buatan sebagai waduk tadah hujan untuk membantu pengairan area disekitar ini. Tidak terlihat orang disekitar waduk …sepi … “Tidak ada ikan disini …ngga ada pemancing, kalau ada ikan .. pasti ada pemancingnya” om Adi beranalisa, saya manggut manggut.. biar kelihatan paham dan mengerti.

menembus padang ilalang untuk menuju waduk

Kalau dikelola bisa dijadikan tempat wisata, ada waduk ada curug .. dibuat lebih adem banyak pohon … view-nya keren juga disini .. asyiklah untuk piknik.

asyikkk … sampai juga di pinggir waduk

Waduknya tidak terlalu luas dan persis tipikal daerah sini …. tandus dan gersang … tidak ada pepohonan. Kita berjalan jalan di area waduk ini .. dan akhirnya berteduh di bawah semak2 … lumayan sedikit berlindung dari panas menyengat sinar matahari. “Wah tahu begini .. kita bawa bekal makanan kesini” kata om Adi. Sudah waktunya makan siang … perut kelaparan … untung bawa camilan .. ya lumayan untuk ganjel .. meskipun ga nendang … Untuk sampai kesini sudah menguras dan membakar kalori yang banyak .. pastilah kelaparan berat.

Masalahnya bukan hanya kelaparan … air minum juga semakin menipis … padahal kita sudah isi diwarung terakhir … ternyata cepat banget habisnya. Persediaan saya masih ada sedikit .. sedangkan om Adi sudah habis. Ya sudah kita seteng seteng aja air minumnya.

Terbayang perjalanan pulang … mengarungi kembali padang tandus ini .. kembali rolling perbukitan …. “Kuat ga ya .. kita balik … ?” om Adi sedikit ragu …. Kalau om Adi pesimis .. kalau saya sih optimis. Optimis ga kuat …. Badan sudah lemah … kelaparan … tidak ada energy … ditambah matahari panas … wah bener2 optimis deh ..

perjalanan pulang serasa lebih berattt … kelaparan dan kehabisan energi

Perjalanan pulang ini terasa beratttt … “koq .. tadi kita ngga melewati turunan ini ..” sudah mulai berhalunisasi … ketika melihat tanjakan perbukitan untuk pulang … “wah .. koq panjang banget tanjakannya …” heran saya …

semakin mendekat ke desa terdekat

Dengan tertatih tatih … dan tidak tahu berapa kali berhenti mengatur napas dan berbagi minuman sambil menghemat air. Berusaha menset pikiran bahwa sebentar lagi .. hanya satu tanjakan lagi .. satu tanjakan lagi .. kita akan sampai desa di ujung … terus diulang ulang … membuat terus untuk maju, akhirya sampai juga di desa ujung … bahagianya … borong minuman dan isi kembali minuman.
Di kampung ini menemukan masjid yang enak banget untuk sholat dan beristirahat … kecapaian .. rebahan menutup mata … lumayan memulihkan stamina … tapi tidak seger 100% … lha wong belum makan … karena tidak menemukan warung makan di kampung ini.

Untung sekarang perjalanan pulang di dominasi jalanan aspal mulus yang menurun panjang dan curam, sampailah di Citereup … dan akhirnya makan siang jam 4 sore .. bener2 telattt. Lebih baik terlambat daripada tidak.

Ternyata perjalan pulang jalanan macet … pada kemana sih orang2 .. jalan Alternatif Cibubur… stuck, jalan Raya Kranggan, Pondok Gede dan Jatiwaringin padat … pada kemana sih orang orang .. untung sepeda bisa selap selip, hanya daerah Kalimalang yang tidak padat. Kenapa ga padat ya… ehhh padat heran .. ga padat heran …
Akhirnya tepat adzan magrib saya tiba di rumah.

Lokasi Waduk Bogor Raya Ecopark
Hambalang, Citereup, Bogor
Koordinat Google maps -6.550541, 106.922721

Koordinat Google maps Curug di Waduk Bogor Raya Ecopark -6.550311, 106.922690


Minggu 21 Mei 2017

Iklan

20 thoughts on “Ternyata Hambalang menyembunyikan waduk dan curug – Waduk Bogor Raya Ecopark

  1. Ini bukan di NTT kan kang??? Suasana ilalang kering, minim pohon kerasa banget. Ikutan ngos2an menatap tanjakan tiada ujung. Hatur nuhun Kang dibagi oleh2 curug dan waduk dibalik alam gersang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s