Berpetualang menuju pantai Marunda

Ada satu tempat, walaupun saya pernah beberapa kali datang ke Marunda, tapi belum pernah sekalipun saya menjejakkan kaki ke pantai Marunda yang dibelakang masjid Al Alam atau dibelakang rumah si Pitung.
Bagaimana sih tampak pantai disana ???

Sebagai salah satu area yang digadang gadangkan sebagai bagian dari 12 Destinasi Wisata Pesisir Jakarta – Kampung Marunda, membuat kepo … penasaran ingin tahu, bagaimana kondisinya.

Tanpa ba bi bu … saya berangkat kesana, hanya menyiapkan tools, cemilan cemilan, tisu, cangkir kaleng, thermos, sendok, … juga … dan …. yaelahhh … ribet banget sih mau kesana doang … gimana kalau mau camping #@$%^

Sudah pokoknya minggu pagi sepeda meluncur di jalanan BKT (Banjir Kanal Timur) menuju ujung BKT di pantai Marunda. Jalanan relatif sepi dan jarang ketemu penggowes …. mungkin pada liburan keluar kota kali ya, kan long weekend.

disalah satu sudut BKT

Setelah melewati area Harapan Indah, saya berbelok dari jalanan BKT yang mulus lurus ke jalanan kecil kampung yang berbelok belok. Biar ga bosen … ngaprak sedikit, blusukan dulu … belum pernah saya masuk ke area sini … menikmati suasana baru yang berbeda.

memasuki area rawa rawa

Melewati sisi kanan kiri yang banyak perumahan penduduk, bahkan di area sini ada beberapa rumah yang halamannya luas dengan rumah gedong yang bagus … orang kaya sini .. juragan.
Dari rumah2 yang cukup padat berubah menjadi area yang lapang … rawa rawa … suasananya sudah berbeda, sudah seperti tidak lagi di Jakarta. Padahal ini masih masuk area Jakarta Utara.

area hutan bakau tersisa

Di beberapa bagian masih ada pohon pohon bakau, kemungkinan dahulunya adalah area hutan bakau yang sekarang sudah banyak berubah jadi pemukiman atau lahan aktifitas manusia lainnya.
Areanya semakin sepi … saya hanya mengikuti track gps yang saya buat untuk blusukan, melewati tambak penduduk dan ada sungai cukup besar .. dan terlihat perahu2 besar yang sedang parkir dikejauhan .. heran saja melihat boat besar parkir di area pekampungan, berarti sungainya dalam nih ..

GPS mengarahan untuk menyebrangi jembatan … saya diam terpaku .. mengamati … gile nih jembatan … tumbal sungsang kayu seadanya begini … terlihat rapuuh dan ringkih … beneran nih .. jembatan ini bisa dilewatin.
Tarik napas … mantapkan hati untuk melangkah …hiatttt…. gotong sepeda … kreok .. kreyott, kayu yang dipijak berbunyi .. baru melangkah 1/3 bagian jembatan yang menanjak ke atas … kayu pijakan goyah … hiyyyyy … jembatan ini makin mengerikan … dengkul saya lemas … melihat air sungai … hitam dan dalam …. jembatan malah miring … jantung berdegup kencang … saya terpaku .. terdiam. Saya putuskan untuk kembali … gileee .. saya tidak mau harkat martabat saya hancur ternoda disini … apa kata pak RT kalau saya sampe “tercemplung”. Pelan2 .. saya berbalik .. berusaha menerapkan ilmu hingkang meringankan badan … jangan sampe waktu berbalik malah terperosok ….

gilee nih jembatan ,,, berani aja gitu ..??

jembatan menanjak dan terlihat ringkih

Sampe di daratan … legaaaa bangetttt Alhamdulillah … begitu senangnya saya menginjakkan kaki di tanah. Lebih baik saya berputar jauh .. tapi aman .. Akhirnya saya berputar mencari jalanan yang aman, jalanan orang2 di kampung sekitar sini yang biasa dilewati, melewati perkampungan perkampungan dan rawa rawa. Suasana rawa merupakan suatu hal yang bikin takjub … berbeda banget dengan suasana kehidupan di daerah yang tanahnya padat semua. Sungai kecil disini ada perahunya … bahkan ada perahu boat-nya.

sungai kecil dengan boat boat parkir

Setelah berputar putar akhirnya sampai ke jalan raya Marunda Makmur .. jalanan berdebu dan sesekali truk truk besar lewat menambah debu semakin banyak beterbangan.
Saya mengarah ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran dan terus masuk ke dalam mendekat ke Rumah Si Pitung .. wah sekarang jalanannya sudah di aspal sampai rumah si Pitung. Saya belok kanan menyusuri gang melewati masjid Al Alam dan gang sempit yang banyak rumah2 penduduk dan akhirnya sampailah di tepi pantai. Sebenarya untuk ke tepi pantai ini lebih mudah aksesnya jika melalui rumah susun Marunda yang jalan aspal mulus dan lebar, tapi saya kembali ambil jalan rumpil yang berbelok belok lagi .. hehe.

Pantai Marunda yang di area sini … curam .. bukan pantai untuk bermain main air, meskipun pantainya tidak terlalu kotor seperti bayangan saya. Di tepi pantai area rawa terlihat kayu2 bekas bangunan2 yang sepertinya ditertibkan, sudah tidak ada lagi bangunan2 liar. Masih butuh PR banyak untuk mempercantik tempat ini dan membuat orang2 mau berwisata kesini.

perahu yang menarik wisatawan jalan jalan

bambu bambu bekas bangunan2 liar di sisi rawa

Dipinggir pantai terdapat dermaga2 bambu yang digunakan oleh nelayan disini dan juga perahu tersebut disewakan kepada pengunjung yang ingin berwisata perahu muter2 di area pantai.
Disini ada juga sih warung makan ikan bakar, makan sambil memandang ke laut lepas.

bersantai di tepi pantai sambil ngopi .. ngeteh ..  atau mancing … asyik juga

Untung langit lagi mendung .. jadi tidak panas menyengat. Saatnya untuk rehat .. setelah ngaprak dulu sebelum sampai kesini. Makan cemilan dan minum minuman panas sambil duduk dItepi pantai memperhatikan perahu perahu yang lewat … orang2 yang memancing … bukan kejadian yang sehari hari saya alami. Meskipun pantai Marunda ini bukan pantai yang spektakular … tapi setiap pantai memiliki keunikan sendiri.. disini kita melihat kehidupan dan suasana yang berbeda … bisa menjadi weekend gate away.. melupakan sejenak rutinitas dan mensyukuri hal hal kecil yang kita miliki saat ini.


Lokasi Pantai Marunda
Marunda, Cilincing, Jakarta Utara
Koordinat google maps -6.093139, 106.960648

Minggu 16 April 2017

Iklan

34 thoughts on “Berpetualang menuju pantai Marunda

    • hebat deh orang yang berani nyebrang disini … wkwk
      hutan bakau di area sini .. hanya seuprit tersisa … selebihnya jadi rawa2 yang luas atau rumah2 .. biota lautnya banyak yang tersingkirkan

  1. Jakarta itu kalau seandainya “Masih Hijau”, pasti indah. Ada pantainya dan lain-lain. Sayang perannya sebagai Ibu Kota Negara menjadikannya wilayah yang eksploitasinya sulit terkendali

  2. Waduuh jembatannya 😀
    Setuju sih mending muter cari jalan lain drpd ngemplung haha.
    Kehidupan di pesisir pantai memang menarik untuk diulas, apalagi ga banyak orang tau atopun ga mau tau. Apalagi ini di kota besar seperti jakarta.

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb….

    Kerana jarang yang menulis pantai-pantai yang tidak diperhatikan, maka tentu sekali cerita tentangnya tidak diketahui. Saya salut kerana ekpedisi bersapedahan mas ini boleh membuka mata orang ramai untuk mengetahui keberadannya di sana. Mudahan kehidupan akan selalu sukses dan semakin sihat sambil bersapeda dan meniti kebesaran Allah SWT. Aamiin.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • Waalaikumsalam wr wb puan Fatimah,

      Kota Jakarta yang gemerlap dan megapolitan memang ada sisi2 kehidupan yang “seadanya”, termasuk di daerah Marunda ini. Daerah yang jarang diketahui orang banyak.
      Melihat kehidupan mereka, mengingatkan kita harus selalu bersyukur dan bersabar.

      Aamiin .. terimakasih banyak atas doanya, semoga puan Fatimah dan keluarga selalu diberikan hidayah, kebahagiaan dan kesehatan dari Allah swt .. aamiin

      salam sehat bahagia dari Jakarta

  4. Ikut deg2an saat berupaya nyebrang dan balik lagi…bicara Marunda saya ngehnya dengan tokoh si Pitung.
    Eh OOT sdh ada film tentang pegowes belum sih, ini ada kandidat pemeran utama hehe…

  5. Kok ya bisa jembatannya masuk ke map di GPS? XD

    Hooo jadi Pantai Marunda sekarang dah bersih. Kalau gini enak dilihatnya. Walaupun ya idealnya jadi tempat mancing sama nongkrong di sore hari.

    • mungkin dulunya jembatannya masih bagus, tapi sekarang sudah reyot… tidak update track GPS, suka kejadian deh.. sikon di lapangan berbeda.

      pantai Marunda memang cocok utk nongkrong sore2 … ngupi cantik sambil nunggu sunset 🙂

  6. wah mantap, ane ada rencana gowes ke sana, baru googling skali langsung ketemu reviewnya, mantap rohani.
    .
    penasaran sama jembatannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s