Jelajah 4 Candi Karawang ; Jiwa, Blandongan, Telagajaya, Serut

candi-blandongan

Tiba tiba terbersit candi Jiwa di benak … tidak tahu kesambet apa, muncul saja di Sabtu sore yang santai. Memang sudah lama ingin jalan2 kesana … tapi tertunda tunda dengan 1001 alasan ; jauh, panas, ngga ada teman, ngga ada mall, kucing tetangga beranak …

Meskipun alasan banyak .. tapi kalau hati sudah mantap … tidak ada yang bisa menghalangi, malam minggu disiapkan segala perlengkapan lenong jadi bisa berangkat langsung pagi2, jam 5-an cabut …. biar tidak terlalu kepanasan dan bisa pulang cepat karena sorenya ada urusan … tapi tetep akhirnya pergi jam 6-an lebih …

Gowes pagi menyusuri BKT, masuk ke perumahan Harapan Indah (HI) yang ternyata sekarang menerapkan area CFD jadi rame banget sama yang berolah raga .. dulu sepi sepi aja kalau minggu lewat sini … keluar dari perumahan HI melewati jalanan2 becek tergenang air … di daerah sini sungainya berada di atas jalanan dan perumahan … koq bisa begitu ya … kayaknya daerah sini pasti tergenang air kalau hujan besar dan air meluap.

slide2

di daerah Babelan Bekasi

Perjalanan lanjut melewati perumahan Mutiara Gading City, stop dulu di mini market beli roti dan pisang duduk rehat sambil sarapan di kursi di depan toko. Lumayan dapat asupan energy … lanjut melalui Babelan melewati tambang2 gas Pertamina … melewati jalanan2 perkampungan, pesawahan yang membentang … disinari kehangatan matahari pagi membuat gowes bersemangat.

slide3

Bersiap menyebrang sungai Eretan

slide4
Sampailah di penyebrangan sungai Eretan …. Untuk menyebrang harus naik perahu yang ngetem menunggu penumpang penuh … tidak menunggu lama perahu penuh … Saya perhatikan bayar berapa sih … ternyata orang2 mengeluarkan 2.000 perak untuk bisa sampai ke seberang. Dari beberapa perahu … ada yang penariknya cewe … weww si mbak yang tangguh. Kalau panco mungkin saya akan dibanting sama doski  🙂

Lanjut lagi melalui jalanan2 sepi yang rata2 beraspal atau beton cor mulus … beberapa kali saya terlewat jauh belokan yang harus saya ambil berdasarkan panduan GPS, karena keenakan gowes di jalan mulus sehingga terlewat lumayan jauh, ga ada panduan mode suara sih di gps ini … sehingga harus berputar kembali. Ketika sampai di daerah Pebayuran berarti sudah dekat ke penyebrangan sungai Citarum …. asyikk sebrang sungai lagi … naik perahu lagi. Sungai Citarum di daerah sini di tanggul tinggi di kanan kirinya, menaiki dulu tanggul dan turun kesungai. Penyebrangan di sini sepi … tidak seramai Eretan. Jadi setiap ada penumpang perahu langsung disebrangkan … tidak tahu bayar berapa, saya kasih aja lebih.

slide5

menanti untuk menyebrang sungai Citarum

slide6

asal ada penumpang .. langsung nyebrang

Semakin bersemangat karena sudah semakin dekat … setelah masuk ke jalan raya yang menuju pantai Karawang, saya kemudian belok kanan dan tak lama kemudian sampailah di area candi Batujaya. Masih sepi …. jam 9 pagi lewat sedikit. Untuk masuk ke area candi .. ditarik bayaran seikhlasnya …

slide7

Membelah pesawahan menuju candi Jiwa

candi-jiwa

candi Jiwa yang belum selesai di restorasi

Candinya ada di tengah pesawahan … candi pertama adalah Candi Jiwa dan di bagian belakangnya ada candi Blandongan. Saya duduk rehat di bawah pohon …. suasana sepi dan hening … buka perbekalan camilan dan memandangi reruntuhan candi Jiwa. Terbayang suasana zaman dahulu disini … daerah pesawahan ini pada zaman dahulu adalah daerah yang penting, ini adalah area komplek candi besar karena banyak bangunan2 candi di area ini.

Menurut catatan, area candi peninggalan agama Budha ini ditemukan pada tahun 1984 ketika tim Fak Sastra Universitas Indonesia melakukan penelitian situs Cibuaya. Kemudian pada tahun 1985 dimulailah penelitian lebih intensif terhadap gundukan gundukan tanah di daerah ini. Dan baru pada tahun 2005 pemerintah pusat melalukan penelitian dan memulai restorasi. Sampai saat ini baru 4 titik candi yang mulai dipugar, dari sekitar 40 titik candi yang tersebar di area ini.

Berdasarkan informasi, ada yang menyebutkan area komplek candi ini dibangun antara abad 4 sampai 5 Masehi ada juga yang menyebutkan pada abad 6 sampai 7 masehi, pada masa kerajaan Tarumanegara. Ada juga yang menyebutkan pada abad 7 sampai 10 masehi .. mana yang bener sih … #@$%&^
Pokoknya candi ini berdasarkan penelitian pada batuan yang digunakan umurnya lebih tua daripada candi Borobudur. Bangunan2 candi disini menggunakan struktur batu bata merah dan ini merupakan bukti yang mematahkan anggapan bahwa candi yang terbuat dari bata berasal dari masa relatif muda dibandingkan candi yang terbuat dari batu seperti Borobudur, Prambanan dll. Kemungkinan di daerah Jawa Barat, hanya candi ini yang dibangun dari batu bata.

Masyarakat menyebut candi Jiwa, karena jika menggembalakan kambing di area candi ini maka kambingnya akan mati. Benar atau tidak … tanyakanlah kepada penduduk setempat.

slide9

Area candi Blandongan lebih besar dan luas

slide10

tidak ada relief relief cerita di dinding candi

Dari candi Jiwa saya melanjutkan ke candi Blandongan, letaknya di belakang candi Jiwa, area candi Blandongan lebih besar dan merupakan candi utama di area candi Batujaya. Pada saat penelitian dan penggalian, diketemukan beberapa fosil manusia yang diperkirakan berasal dari zaman prasejarah, di prediksi berasal dari abad 2 dan 4 masehi. Hmmm … menarik ya .. semakin misterius.
Jadi sejak zaman dahulu … ketika daerah kota seperti Jakarta yang sekarang padat sumpek masih berupa hutan belantara, daerah Batujaya sudah menjadi “kota” dan tempat tinggal orang orang yang memiliki peradaban tinggi. Ada yang berpendapat bahwa daerah Batujaya ini sudah dihuni sejak abad ke 2 dan terus berkembang sampai abad ke 7. Dan kemungkinan mulai ditinggalkan karena terkena bencana alam, daerahnya selalu terkena banjir luapan sungai Citarum.

Jalan jalan di lanjutkan …. saya ingin ke Candi Serut … lokasinya terlihat cukup dekat dari Candi Blandongan … tapi sayangnya jika mau kesana harus kembali memutar lewat jalan raya, karena tidak ada jalan khusus yang melewati pematang sawah. Kata petugas, di daerah sana ada 2 candi.
Saya kembali kearah pintu masuk komplek candi Batujaya. Di sekitar jalan masuk di area jalan desa-nya ada museum candi Batujaya. Di sini disimpan artefak2 yang di ketemukan di area komplek candi Batujaya. Untuk masuk museum juga dikenakan tiket seikhlasnya … disini memang mesti serba ikhlas supaya hidup kita tenang dan damai.

slide11

Untuk menuju candi Serut, saya kembali ke jalan raya terlebih dahulu dan kemudian berbelok ke kanan tepat di sisi masjid besar, terus saja masuk kedalam. Tidak lama kemudian sampailah mentok di ujung jalan mobil. Ada area parkiran dan bangunan. Ternyata di bangunan tersebut ada reruntuhan candi Telagajaya atau disebut juga candi sumur, mungkin karena bentuknya yang tidak besar dan terendam oleh air.

slide13

dibawah bangunan ini adalah candi Telagajaya

candi-telagajaya

Mau ke candi Serut … kemana jalannya, dari jauh terlihat tapi jalan masuknya mana euy …. tidak ada papan petunjuk … bagaimana ini … Tanya sama akamsi yang lewat (anak muda sini) … ternyata harus melewati gang perkampungan penduduk. Akhirnya sampai juga di candi Serut yang terletak di sisi perumahan penduduk yang berbatasan dengan pesawahan. Candi Serut masih dalam tahap restorasi juga.

candi-serut

Tidak ada tiket masuk ke candi Serut dan candi Telagajaya .. karena tidak ada yang jaga … kayaknya juga jarang sekali wisatawan datang kesini. Kedua candi ini tidak sengetop candi Jiwa dan candi Blandongan.

Jika ke 40-an candi yang tersebar di area seluas 5 km persegi semuanya di restorasi …. pasti tempat ini akan sangat menarik, menjadi komplek candi terbesar …. akan banyak wisatawan datang kesini dan menghidupkan pariwisata dan perekonomian daerah Karawang.

Komplek candi Batujaya sudah di daftarkan sebagai Warisan Kebudayaan Dunia ke UNESCO. Jika disetujui, maka akan mendapatkan aliran dana hibah UNESCO untuk merestorasi dan merawat komplek candi ini. Ya semoga saja usulan ini di terima oleh UNESCO.

Matahari makin bersinar terik … saya memutuskan untuk pulang. Setengah perjalan matahari terasa begitu menyengat dan membuat badan cape dan kelaparan. Ditengah perjalanan karena belum menemukan tempat enak untuk mengaso, akhirnya saya berhenti dulu di toko kelontong kecil, duduk ngemil2 di emperannya, melihat jam … sudah jam 12. Saya lanjutkan lagi …. sekarang suasana berubah …. langit mendung dan angin bertiup kencang dari depan …. kenapa anginnya bertiup dari depan sih …. bukannya dari belakang supaya bantuin dorong … ini malah menahan laju gowesan …. serasa gowes menanjak …. pesan istri … kalau lagi gowes dan angin bertiup dari depan … supaya cepat .. gowesnya mundur saja … wakkksss ide yang sangat cemerlang yang tidak pernah kepikiran sama saya.

Gowes “menanjak” ini membuat tambah lapar .. ganjel cemilan seperti tidak ngaruh … akhirnya ketika menemukan tempat yang nyaman untuk mengaso ; tempatnya bersih dan enak untuk rehat … menjual soto ambengan, saya berhenti makan siang …. tapi nasinya keras dan rasanya dibawah standar … pantes di jam makan begini .. tempatnya koq sepi ya .. hehehe

Meskipun rasanya begitu .. tapi tubuh terasa benergi lagi … gowesan semakin bersemangat dan menggowes lebih cepat supaya tidak kehujanan di jalan dan akhirnya tiba di rumah jam 13-an dengan sehat dan selamat.

slide15

Lokasi
Komplek candi Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa ; Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Koordinat Googlemaps -6.056966, 107.154748


Minggu 2 Oktober 2016

Iklan

58 thoughts on “Jelajah 4 Candi Karawang ; Jiwa, Blandongan, Telagajaya, Serut

  1. kalo kata warga lokal yg merupakan pegawai balai purbakala serang, total peninggalan ada 57 mas.. serut aja ada A, B, C, D.. telagajaya itu juga tertulis 8, berarti masih ada yang lain.. setengah hari saya disana rasanya kurang kalo mau eksplorasi.. 😀

  2. Wekekek, diriku lama ga maen ke sini, kayaknya melewatkan banyak artikel-artikel menarik 😀
    Maklum, menjelang akhir tahun mezti zibuk, wekekekek 😀

    Aku terakhir kali ke sini tahun 2009 Kang. Sangar juga dirimu nyepeda ke sini. Mana mesti nyebrang banyak sungai pula naik getek. Klo di Jogja sepeda deket-deket area candi udah diuber-uber satpam itu. 😀

    Lha pulangnya pakai nyeberang getek lagi? Atau lewat jalan di pinggir Sungai Citarum? Kayaknya lebih cepet menyusuri jalan pinggir Sungai Citarum itu ya? Tapi ya kurang pohon-pohon peneduh sih. 😀

    Kayaknya Kompleks Candi Batujiwa ini bisa dikonsep kayak Candi Muaro Jambi. Pengunjung bisa keliling-keliling ke candi-candi pakai sepeda. Jadi, dibikin usaha persewaan sepeda di sana. 😀

    Yah, berdoa aja semoga ada banyak kucuran dana pemugaran, supaya candi-candi yang lain bisa ikut terpugar. 😀

    • Wah mas Mawi sudah lama main ke Batujaya ini .. ckckck hebat mblusukannya
      Disini ga ada satpam … jadi ga ada yang ngejar2 …. kalau ada pasti sudah di usir 😀

      Pulangnya pakai getek lagi .. secara jarak lebih cepat potong kompas sebrang sungai daripada menyusuri sungai Citarum.

      Ide yang bagus jika di konsep sama seperti candi Muara Jambi. Karena tersebar banyak dan luas .. maka disediakan rental sepeda untuk berkeliling … tapi kayaknya masih butuh waktu lama candi2nya di restorasi dan di buat infrastruktur2-nya. Mudah2-an dananya tersedia dan mendapatkan bantuan juga dari Unesco jadi bisa cepat terwujud seperti di candi Muara Jambi.

  3. Wah seru mas. Saya sudah lama pengen berkunjung ke candi-candi ini tapi belum kesampaian. Kalau melihat ceritanya mas, sih kayanya memang paling enak dan praktis naik sepeda ya?

    Menyoal tentang bahan batu dan batu bata untuk candi, kalau yang saya tahu sih itu tergantung dari sumber daya alam sekitarnya. Mengapa candi-candi di Jawa Tengah rata-rata menggunakan batu andesit, karena memang di sekitarnya banyak terdapat batu-batu itu. Sementara candi-candi lainnya yang menggunakan batu bata merah, karena memang lempung menjadi kekayaan daerah sekitar. Terbukti juga khan, sampai sekarang di sekitaran Bekasi dan Karawang masih banyak pengrajin batu bata merah berbahan dasar lempung.

    • seharusnya di sediakan rental sepeda disana … jalan jalan ke candinya jadi lebih enak dan ga cape … kan lumayan jadi pemasukan bagi penduduk sana.

      .oh iya .. ya … mas BaRTZap karena di sana tidak ada batu batu andesit, tersedianya tanah lempung makanya di buatnya dari batu bata,
      Tapi kenapa ya di candi2 Batujaya tidak ada reliefnya ya …. berbeda dengan candi2 seperti biasanya.

      • Untuk masalah itu saya kurang tahu juga mas, mungkin karena secara umur candi tersebut lebih tua daripada Borobudur (seperti info yang mas sampaikan) dan pada jamannya belum ada budaya relief yang rumit di masanya. Mungkin hehehe

    • candinya tertimbun tanah, jadi setelah digali posisinya ada di bawah permukaan tanah dan bahkan di bawah sungai Citarum, sehingga mudah tergenang.

      naik getek sebenarnya potong kompas mba beby … kalau melalui jembatan harus berputar jauh .. 🙂

  4. Kalau disuruh kesini lagi aku masih bingung loh mas hehehe.. padahal kita pakai gps tapi kesasar berkali-kali.

    aku baru tau disekitar candi jiwa ada candi serut. kalau dikelolah dengan baik sebenarnya kawasan ini bisa dibuat komplek percandian gitu yach. Hiksss..

  5. Hatur nuhun pisan untuk gowes yang melelahkan, bonus menyeberang sungai…kami pembaca disuguhi aneka candi di Karawang.
    Semoga dinas purbakala segera mendadani drainase sekitar Candi Serut, kebayang kalau terendam terus jadi empuk. Candi bermateri batu bata merahnya senada dengan candi di Jawa Timur ya. Salam

    • komplek percandian ini butuh system drainase yang baik, soalnya posisinya di bawah permukaan tanah. Tapi butuh dana yang besar untuk membuatnya.
      Iya mba .. candi yang dibangun pakai batu bata seperti ini sama dengan yang di daerah Jawa timur.
      salam

  6. Cukup takjub waktu dulu pertama kali dikasih tau tentang candi ini. Konstruksinya mirip banget candi2 di Jawa Timur, yang pake batu bata. Desainnya mirip sama candi2 di Muaro Jambi. Bahkan dari jauh, kalo gak ada deskripsinya pun, orang akan mengasosiasikan candi ini dengan gugusan candi muaro Jambi. Cuman, kurang rimbun aja sih sekelilingnya 🙂

    • betul seperti candi muara Jambi, selain bentuk bangunannya juga tersebar banyak di satu komplek area. Hanya memang disini bukan kurang rimbun … memang hampir ga ada pepohonan, jadi enaknya kalau kesini jangan pas siang2 panas terik …. bakalan serasa di panggang 😀

  7. Duh, kalau ini kompleks dibuka semua, entah, betapa menakjubkannya peninggalan arkeologi yang ada di barat Jawa. Memang pengaruh budaya India diperkirakan mendarat pertama kali di sini, jadi peninggalan yang ada, semestinya, juga jadi spektakuler dan paling dekat hubungannya dengan asalnya di India sana. Wah, masih banyak banget pertanyaan soal candi-candi ini. Saya jadi pengen ke sana lagi, soalnya belum ke Candi Serut, hehe. Hati agak panas ketika lihat banyak candi yang terendam air, doh pikiran sudah aneh-aneh. Semoga bisa ke sana lagi dalam waktu dekat, amin.

    • wah saya baru tahu kalau pengaruh India mendarat pertama kali di daerah Batujaya ini. Artinya memang jaman dahulu daerah ini merupakan daerah penting ya.
      Kalau semua candi candinya sudah di restorasi dengan baik termasuk tidak terendam seperti ini, dan di kelola secara terintegrasi pasti sangat keren tempat ini. Menjadi salah satu destinasi wisata utama dan masyarakat sekitarpun akan terbantu perekonomiannya.
      Semoga mas Gara bisa kesini lagi dan menceritakan secara lengkap dan menarik mengenai situs ini,

    • kalau pakai mobil enak juga jalannya, lewat Karawang dan Rengasdengklok, tapi berputar jauh, makanya saya potong kompas sebrang sungai naik perahu. Ya sayang .. komplek percandian ini tidak terawat secara optimal.

    • pengetahuan saya minim soal sejarah …. ternyata Tarumanegara umurnya lebih tua dari kerajaan di Jateng dan Jatim .. di daerah sini sudah lebih maju dari jaman dahulu ,,, tapi sayangnya tidak berkelanjutan dan menghilang

  8. Saya selalu kagum dengan perjalanan yang dilakukan oleh Kang Bersapedahan. Medan yang dilalui berkilometer itu sangat menguras kemampuan fisik. Tapi kecintaan akan bersepeda dan piknik mengalahkan semua kelelahan.

    Semoga cepat diterima Unesco sebagai warisan kebudayaan dunia sehingga pembiayaan untuk membebaskan lahan lokasi candi yang luas itu berjalan lancar, lancar juga restorasi candinya.

    Saya melihat ada kesamaan candi di Karawang ini dengan candi di Muara Takus, Kampar Riau. Mungkin karena sama-sama warisan agama Budha, sama tak punya relief dan terbuat dari bata merah. Pakar purbakala juga belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Menurut wikipedia candi Muara Takus dibuat dijaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

    • Ya mas Alris karena hobi … jadi meskipun susah, jauh dan berpanas panasan … tetap aja enjoy dan ga kapok kapok .. malah senang 😀

      Dilihat dari photonya mirip ya … hanya beda lokasi. Artinya ada hubungan di antara kedua kerajaan itu dan kemungkinan waktu pendirian candi di Karawang dan Kampar Riau ini ada dalam rentang waktu yang sama, tapi tidak tahu tepatnya di abad keberapa.

      Mudah-an saja situs bersejarah ini dapat di restorasi semuanya dan menjadi wisata terintegrasi, baik ada dana dari UNESCO maupun tidak, karena sekarang-kan pemerintah lagi menggalakkan pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

  9. Kucing tetangga melahirkan??? hehehe

    Semoga Masuk UNESCO, biar bisa direstorasi dan dijaga dengan baik.
    kalaupun Nggak, semoga ada pihak pihak yang mau menjaga dan melestarikan, biar nggak tergegnang air gitu. 😦

    • Mudah2-an cepat dapat perhatian pemerintah dan ada dananya untuk merawat dan merestorasi semua bangunan bersejarah ini. Apalagi jika UNESCO segera menyetujui situs ini dalam list … sistem drainase pasti lebih baik.

    • jembatannya jauh berputar .. potong kompas saja menyebrang naik perahu supaya lebih cepat 🙂

      Kata para “pakar” yang berkomentar, candi dibangun berdasarkan sumber alam yang ada, di daerah sana tidak ada batu andesit, sehingga menggunakan tanah merah. Dan karena di bangun pada masa2 awal … jauh dari era Borobudur, maka kemungkinan belum memiliki keahlian membuat relief
      Kemungkinan sih seperti itu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s